TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) - Sebagai bagian dari fungsi pengawasan, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) turun langsung meninjau kondisi harga kelapa sekaligus perkembangan industri pengolahan kelapa di daerah tersebut.
Langkah ini dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi yang terjadi di lapangan, menyusul adanya indikasi penurunan permintaan terhadap produk turunan kelapa di pasar.
Kondisi tersebut turut memengaruhi aktivitas industri, salah satunya ditandai dengan meningkatnya persediaan kelapa dan produk olahan yang masih tersimpan di gudang perusahaan.
Baca Juga: Soal Libur Sekolah dan Pembelajaran Daring, Ini Dia Surat Edaran Disdikpora Kuansing
Kunjungan dilaksanakan Rabu (26/8/2026) ke Sambu Group, sebagai salah satu industri kelapa terpadu yang selama ini bertahan dan tetap menyerap hasil panen kelapa petani di Inhil.
Rombongan DPRD Inhil bertolak dari Tembilahan dan dipimpin langsung Ketua DPRD Inhil Iwan Taruna, S.T., M.Si., bersama Wakil Ketua I DPRD Inhil Ir. H. AMD. Junaidi AN., M.Si., dan Ketua Komisi II DPRD Inhil Samino.
Kunjungan pertama dilakukan ke PT Pulau Sambu di Guntung, yang didampingi Camat Kateman Akapriadi, S.H. Setelah itu, rombongan melanjutkan peninjauan ke PT Riau Sakti United Plantations di Pulau Burung dan didampingi Camat Pulau Burung Razali, SE.
Baca Juga: Mantan Kuasa Hukum PT SPRH Dituntut 14 Tahun Penjara
Dalam kunjungan tersebut, rombongan DPRD Inhil mendapati penumpukan kelapa di gudang bahan baku maupun produk jadi. Kondisi itu terlihat baik di PT Pulau Sambu di Guntung maupun PT Riau Sakti United Plantations di Pulau Burung.
Bahkan, sebagian kelapa dan produk terpaksa ditempatkan sementara di area selasar karena kapasitas gudang yang tersedia sudah terbatas dan tidak mampu menampung seluruh persediaan.
"Penumpukan di gudang barang jadi ini akibat minimnya permintaan pasar, baik domestik maupun ekspor. Hal ini karena tekanan global akibat kondisi geopolitik, perang, perlambatan ekonomi dunia, serta penurunan permintaan pasar atas produk turunan kelapa yang masih terus berlanjut,"jelas Humas Sambu Group A Ginting.
Baca Juga: 11 Tahun J&T Express, Perkuat Logistik dan Buka Peluang Ekonomi
Meski menghadapi kondisi overstock, SAMBU Group disebut masih konsisten menyerap hasil panen kelapa dari masyarakat. Penyerapan tersebut tetap dilakukan meski berdampak pada meningkatnya persediaan kelapa di gudang bahan baku.
"Meski saat ini kondisi pasokan dan stok kelapa melimpah (overstock), Sambu Group tetap konsisten menyerap hasil panen kelapa dari masyarakat. Meski dampaknya terjadi penumpukan kelapa di gudang bahan baku,"ujar A Ginting.
Menurutnya, komitmen tersebut dilakukan untuk menjaga rantai pasok dan perekonomian petani kelapa di Kabupaten Inhil agar tetap berjalan stabil dan berkelanjutan.
Baca Juga: Kabut Asap Mengkhawatirkan, Wako Agung Imbau Warga Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan
DPRD Inhil melihat langsung kondisi SAMBU Group sebagai industri kelapa yang saat ini menghadapi dilema dan tantangan cukup berat. Di satu sisi, melemahnya permintaan pasar menyebabkan produk jadi menumpuk di gudang. Namun di sisi lain, perusahaan tetap diharapkan mampu menyerap kelapa petani dengan harga yang baik, terutama ketika produksi kelapa sedang melimpah.
Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan industri kelapa tidak berdiri sendiri. Ketika permintaan produk olahan melemah, industri ikut menghadapi tekanan, sementara pada saat bersamaan petani tetap membutuhkan pasar yang mampu menyerap hasil panennya.
Penumpukan produk jadi di gudang perusahaan menjadi salah satu fakta lapangan yang menunjukkan bahwa industri kelapa juga sedang menghadapi tekanan. Karena itu, kondisi industri perlu dilihat secara utuh dan tidak serta-merta dijadikan sasaran atas berbagai persoalan yang terjadi, termasuk terkait ketidakstabilan harga kelapa.
Baca Juga: Baru 9 Tahun Berdiri, Klub Azerbaijan Sabah Lolos ke Liga Champions usai Hancurkan Klub Israel 5-2
Fakta dan kondisi yang ditemukan langsung di lapangan tersebut akan menjadi bahan bagi DPRD bersama Pemerintah Kabupaten Inhil dalam menyikapi berbagai isu yang berkembang saat ini, sekaligus menentukan langkah ke depan untuk menjaga keberlangsungan industri dan perekonomian petani kelapa. (*2)
Editor : M. Erizal