Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Kota Multikultural (dari London hingga Pekanbaru)

Redaksi • Senin, 5 Mei 2025 | 10:59 WIB
APRYAN D RAKHMAT
APRYAN D RAKHMAT

RIAUPOS.CO - DALAM dua dekade belakangan ini kita sering mendengar istilah dunia gemerlap (dugem) yang lebih banyak berkonotasi dengan kehidupan kota dan dunia malam masa kini, khususnya di kalangan millenial berkantong tebal atau millenial bergaya hidup mewah walaupun ekonomi pas-pasan. Dugem juga ternyata banyak digemari kalangan dewasa, sudah berkeluarga ataupun lajang bahkan mungkin merambah segelintir lansia tajir yang hidup kesepian. Tidak dapat tidak, kehadiran dugem dan eksistensinya hingga kini di kota-kota besar dan metropolitan karena dipicu oleh adanya permintaan dan pangsa pasar yang semakin terbuka dan luas. Kota zaman kini yang semakin padat dan dijejali manusia dari berbagai latar belakang ekonomi, sosial budaya, agama dan ras telah berubah menjadi multikultural dengan tuntutan yang semakin kompleks dan beragam, termasuk hiburan malam dan rekreasi.

Secara umum, kehidupan kota lebih maju dibandingkan perdesaan. Kota megapolitan atau metropolitan lebih maju berbanding dengan kota besar atau kecil. Begitu seterusnya sesuai hirarki dan kedudukan sesebuah kota. Kehadiran istilah kota global (global city), juga memiliki hirarkinya ditinjau dari kedudukan dan pengaruhnya ditingkat global, mulai dari peringkat tertinggi yang dikenal dengan sebutan alpha global city, di mana ditempati oleh Kota New York, London dan Tokyo, kemudian diikuti oleh beta global city seperti; Paris, Milan, Beijing, Shanghai, Melbourne, Seoul dan Singapura, serta gamma global city yang meliputi; Jakarta, Kuala Lumpur, Hanoi, Manila dan yang sederajat.

Dalam konteks Indonesia, Jakarta adalah kota yang paling multikultural dengan kedudukan tertinggi secara struktural sebagai ibukota negara serta fungsi yang dimainkan dalam bentuk command and control, seperti; pemerintahan, administrasi, ekonomi, sosial, budaya dan politik. Kemajuan Jakarta adalah cerminan peradaban Indonesia. Jakarta dapat dikatakan sebagai miniatur dan representasi Indonesia, yang dapat dilihat dari hampir semua suku besar dapat dijumpai di Jakarta, mulai dari suku Jawa, Sunda, Melayu, Batak, Aceh, Gayo, Minangkabau hingga suku Bugis, Toraja, Minahasa, Talaud, Banjar, Kutai, Dayak, Sasak, Sumbawa, Mangarai, Rote, Alor, Bali, Asmat, Dani dan Amungme di Papua. Termasuk juga suku keturunan dari Cina, Arab, dan India. Begitu juga personal yang duduk di tampuk pemerintah pusat, mulai dari presiden hingga menteri dan dirjen, anggota parlemen, anggota DPD dan para pelaku dunia usaha merupakan representasi Indonesia. Mungkin yang membedakan adalah dari skala perbandingan jumlah dan kadarnya secara kualitatif. Suku Jawa adalah yang paling besar mendiami Indonesia dengan persentase sekitar 40 persen, diikuti dengan suku Sunda di urutan kedua, dan Batak di peringkat ketiga.

Dalam konteks global, Kota London disebutkan adalah kota paling multikultural di dunia, dengan kehadiran hampir seluruh suku dan bangsa besar dunia di London, mulai dari suku dari benua Asia, Afrika, Australia, Amerika hingga Eropa dapat dijumpai di sana. Termasuk juga aneka makanan dan kuliner yang lebih beragam dan kompleks bisa diketemukan di sana, mulai dari rendang, nasi goreng, kebab, kimchie, tom yam, canai, rati naan, nasi briyani, nasi bukhari, nasi kebuli, sushi, hingga makanan khas penduduk Afrika yang jarang dan bahkan tidak pernah kita lihat dan rasakan. Selain tentu masakan Barat atau Eropa yang selama ini kita kenal seperti burger, pizza, Mcdonald, KFC, Starbucks dan yang sejenisnya.

Kolaborasi Menuju Pekanbaru Emas 2045

Jika pembahasan menukik ke jantung Provinsi Riau, maka tidak bisa tidak Pekanbaru adalah kota terbesar dan paling multikultural dan berpengaruh di Riau, baik dari dimensi ekonomi, sosial-budaya, politik hingga keagamaan. Hampir semua suku besar yang ada di Riau, bisa dijumpai komunitasnya dengan mudah di Pekanbaru. Mulai dari perkumpulan mahasiswa, ikatan keluarga dan kecamatan hingga ikatan suku bangsa utama yang mendiami kota, terutama suku Minangkabau, Jawa, Sunda, Batak, Nias, Flores, dan Cina.

Dan yang patut kita syukuri dan berikan apresiasi tinggi adalah bahwa setiap komponen suku bangsa dan latar belakang etnik, sosial-budaya, agama dan bahasa, semuanya dapat hidup rukun dan damai satu dengan yang lainnya. Tanpa ada gejolak dan gesekan yang berarti. Walaupun terkadang muncul riak-riak dan benturan kecil, namun masih dalam batas yang bisa dimaklumi, dipahami dan dimaafkan secara adat, budaya dan kekeluargaan. Semua seolah saling mengerti dan memahami kedudukan masing-masing yang menyatu dalam satu bahasa, yaitu warga atau penduduk Pekanbaru, dengan asal-usul dari Sumatera Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan hingga Papua. Semuanya sepakat bahwa budaya Melayu dijadikan sebagai pilar utama yang mengayomi tata budaya dan kehidupan di Pekanbaru seperti termaktub dalam visi Kota Pekanbaru 2025-2045, yaitu “Pekanbaru Bertuah yang Berbudaya, Maju dan Berkelanjutan”.

Sampai akhir tahun 2024, Kota Pekanbaru telah menjelma menjadi kota metropolitan dengan penduduknya yang sudah melebihi 1,1 juta jiwa, yang dahulunya hanyalah sebuah pekan kecil yang berpusat di Senapelan. Pekanbaru juga menjadi salah satu icon kota di Sumatera yang paling tinggi pertumbuhan ekonominya pada tahun 2024. Sehingga menjadi daya tarik bagi para pendatang dari luar Riau untuk mencari berbagai peluang pekerjaan yang ditawarkan. Keadaan ini berimplikasi dengan tingginya pertumbuhan penduduk Pekanbaru dalam dua dekade belakangan, berbanding kota lainnya di Riau.

Pekanbaru yang asalnya dihuni oleh mayoritas etnis Melayu, kini sudah berkembang dengan beragamnya suku bangsa dan etnis yang mendiaminya. Menurut data terakhir dari Kesbangpol Pekanbaru, terdapat 37 etnis yang kini tinggal di Pekanbaru, di mana didominasi oleh etnis Minangkabau, Melayu, Jawa, Batak, Sunda dan Tionghoa. Menariknya, etnis Melayu tidak lagi menjadi penduduk mayoritas yang tinggal di Pekanbaru. Sebagai gambaran, di Indonesia terdapat sekitar 656 etnis dan tidak kurang dari 300 jenis bahasa-bahasa lokal (daerah). Menurut Geertz (1967) dari berbagai etnis dengan bahasa dan identitas budaya yang berbeda yang ada di Indonesia terdapat 35 etnis besar dan masing-masing memiliki bahasa dan adat istiadat yang tidak sama.

Beragamnya etnis yang tinggal di Pekanbaru, adalah konsekuensi dari perkembangan Pekanbaru menjadi kota metropolitan dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan terbukanya berbagai lapangan usaha dan pekerjaan yang menyertainya, yang memicu para perantau untuk datang ke Pekanbaru. Pekanbaru adalah ibarat gula yang senantiasa dikerubungi oleh semut, yang ingin menimati manisnya gula.

Dengan tagline Kolaborasi Membangun Negeri seperti yang diusung oleh wali kota dan pasangan terpilih Agung Nugroho-Markarius Anwar yang diusung Partai Demokrat dan PKS, kita berharap tagline tersebut dapat untuk dibumikan di dalam kehidupan nyata, paling tidak hingga 2029 atau akhir masa jabatan mereka. Dengan perpaduan etnis Jawa yang melekat pada diri Agung Nugroho, dan etnis Minangkabau pada diri Markarius Anwar akan dapat menjadi vitamin dan penambah energi serta amunisi dalam membangun Kota Pekanbaru ke depan.

Bagaimana pembangunan kota Pekanbaru dalam mewujudkan Pekanbaru Emas 2045, dengan berlandaskan budaya melayu sebagai mainstream dalam pembangunan kota, yang dihiasi dengan budaya Minangkabau, Jawa, Batak, Sunda, Flores, dan Tionghoa di dalam proses pembangunan. Sehingga filosofi Kolaborasi Membangun Negeri yang digaungkan ketika kampanye dapat bergema dan terserlah dalam kehidupan nyata di Bumi Lancang Kuning. Semua dapat hidup nyaman, aman dan selesa. Hidup rukun, damai, sejahtera dan berkeadilan. Aku bangga menjadi warga Pekanbaru. A city for all. Semoga.***

Editor : Arif Oktafian
#Kota Multikultural #dunia gemerlap #pekanbaru #provinsi riau