JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Rusia disebut memasok sejumlah amunisinya ke Iran. Negara pimpinan Vladimir Putin itu mengirimkan alat utama sistem senjata (alutsista) canggihnya ke Iran untuk menghadapi eskalasi ketegangan yang meningkat di Timur Tengah.
Sistem peperangan elektronik Murmansk-BN dan sistem rudal balistik taktis Iskander telah tiba di Teheran. Menurut laporan dari situs web militer Iran Iran Observer, Iran telah menyiagakan Murmansk-BN di lokasi-lokasi penting yang strategis.
Murmansk-BN adalah sistem peperangan elektronik pesisir gelombang pendek yang dirancang untuk intersep dan pengacauan sinyal dalam jangkauan gelombang pendek. Jangkauannya membentang hingga 5.000 kilometer. Para ahli menekankan bahwa sistem itu dapat memainkan peran penting dalam setiap konflik bersenjata yang melibatkan Iran dan Israel.
Surat kabar Israel Maariv melaporkan bahwa beberapa pesawat angkut militer Il-76 Rusia telah mendarat di Teheran selama 48 jam terakhir. Aktivitas itu menunjukkan peningkatan alutsista Rusia ke Iran yang menunjukkan kuatnya hubungan militer antara kedua negara.
Saluran berita Rusia Avia.pro mengonfirmasi bahwa Il-76 telah mengirimkan sistem rudal taktis Iskander ke Iran. Iskander dikenal karena kemampuan rudal taktisnya yang canggih. Rudal-rudal itu dapat mengenai sasaran hingga sejauh 500 kilometer dengan akurasi tinggi.
’’Menjadikannya alat yang sangat efektif untuk menyerang aset musuh yang strategis. Pengiriman persenjataan tersebut ke Iran dapat mengubah keseimbangan kekuatan regional secara signifikan,’’ ujarnya.
Para ahli di Institut Studi Perang (ISW) yang berbasis di AS menunjukkan bahwa pendalaman kemitraan Rusia-Iran dapat mendorong Kremlin guna mendukung proksi Iran lainnya seperti Houthi untuk memanfaatkan mereka dalam pertikaian dengan Barat.
’’Meningkatnya keinginan Rusia untuk menggunakan Iran dan proksinya untuk konfrontasi tidak langsung dengan Barat melemahkan upaya Moskow untuk menampilkan kebijakan Timur Tengahnya sebagai kebijakan yang seimbang,’’ kata analis yang berafiliasi dengan Pentagon itu. Hal tersebut dapat memperburuk hubungan dengan negara-negara yang waspada terhadap kerja sama Rusia-Iran.
Sementara itu, dalam sebuah wawancara yang diterbitkan kantor berita pemerintah Rusia RIA kemarin, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyatakan, pembunuhan kepada Pimpinan Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh akan memperpanjang serangan Israel ke Gaza. ’’Itu adalah tindakan pengecut dan perkembangan berbahaya dalam politik Israel,’’ ujar Abbas.
Kantor berita tersebut mengutip sumber diplomatik yang mengatakan bahwa Abbas akan berada di ibu kota Rusia dari 12 hingga 14 Agustus. ’’Tujuan utama kunjungan kami adalah mengadakan konsultasi dan bertukar pandangan tentang peristiwa terkini di arena Palestina dan internasional, mengoordinasikan posisi, dan memperkuat hubungan bilateral di semua bidang,’’ tutur RIA mengutip pernyataan Abbas.(dee/c12/bay/jpg/muh)
Editor : RP Arif Oktafian