MAKKAH (RIAUPOS.CO) - Al Hajju Arafah (Haji itu adalah Arafah). Hari ini rangkaian ibadah haji memasuki masa puncak. Yakni wukuf di padang Arafah. Jutaan jemaah dari berbagai negara akan berkumpul di Arafah untuk melaksanakan rukun wajib haji itu. Begitu pula jemaah haji asal Indonesia.
Rabu (4/6) Mobilisasi itu merupakan yang terbesar karena diikuti oleh lebih dari 221 ribu jemaah.Pantauan Jawa Pos (JPG) di Makkah, sejak subuh waktu Arab Saudi, bus-bus pengangkut jemaah tampak hilir mudik. Jemaah laki-laki telah mengenakan ihram, sementara jemaah perempuan berbusana haji. Mereka menunggu bus di lobi atau di depan hotel. Petugas berjaga untuk memastikan kloter diberangkatkan sesuai jadwal dan masuk bus sesuai daftar manifes.
Menteri Agama Nasaruddin Umar memantau langsung proses pemberangkatan jemaah haji. Sekitar pukul 10.00 WAS, ia menyambangi kawasan Syisyah, tepatnya di Hotel 217 Sektor 2. Di sana, Menag menyapa jemaah yang tengah menunggu giliran naik bus. Kedatangan Menag disambut antusias oleh jemaah haji Indonesia. Mereka berebut bersalaman dan berswafoto dengan Menag.
Nasaruddin juga masuk ke dalam bus. Dia menyalami jemaah dan mendoakan kelancaran ibadah selama masa puncak haji. Setelah itu, Nasaruddin bergerak ke hotel lain di sektor yang sama. Di setiap kunjungan, ia memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal dan seluruh proses berjalan tertib. Ia menegaskan bahwa seluruh jemaah akan diberangkatkan ke Arafah tanpa terkecuali.
Pemerintah Indonesia telah berkoordinasi dengan otoritas Arab Saudi dan delapan syarikah penyedia transportasi agar semua jemaah, apa pun asal syarikahnya, bisa diangkut tepat waktu. “Bayangkan, hari ini lebih dari 200 ribu jemaah dari berbagai hotel di Makkah dipindahkan ke Arafah dalam hitungan jam. Ini butuh strategi logistik yang tidak main-main,” kata Nasaruddin.
Ia menyebut kerja besar itu melibatkan Kemenag, Kemenkes, TNI, Polri, otoritas Arab Saudi, serta delapan syarikah transportasi. Bahkan, kolonel dari TNI ikut ditugaskan untuk pengaturan massa. “Mereka sangat ahli dalam evakuasi dan mobilisasi skala besar. Kami sangat berterima kasih,” ujarnya.
Safari Wukuf untuk 500 Orang
Salah satu dinamika penting menjelang puncak haji adalah perubahan keputusan Pemerintah Arab Saudi soal t anazul atau kembalinya sebagian jemaah ke hotel sebelum waktu yang ditentukan.
Awalnya, Indonesia mengusulkan sekitar 36 ribu jemaah untuk ikut skema tanazul. Namun, keputusan tiba-tiba dari otoritas Saudi membatalkan seluruh rencana tersebut. Untung, lewat diplomasi intensif dan pendekatan berbasis data kondisi kesehatan jemaah, Indonesia mendapat izin tanazul terbatas.
“Tadinya semua dibatalkan. Tapi setelah kami laporkan ada 3.500 jemaah yang sangat riskan, akhirnya Saudi memberikan dispensasi khusus,” jelas Nasaruddin.
Dari 3.500 jemaah itu, ada sekitar 500 orang yang kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk wukuf di Arafah. Karena itu, mereka mengikuti skema safari wukuf. Yakni, wukuf tanpa turun dari bus. Sekitar 250 jemaah yang dirawat di rumah sakit akan menjalani badal haji, yakni diwakilkan sepenuhnya. Menag lantas menjelaskan perbedaan antara badal dan taukil (mewakilkan atau diwakilkan).
’’Kalau badal itu pengganti penuh, sedangkan taukil masih di bawah pengawasan petugas resmi,” terangnya. Menariknya, seluruh biaya badal ditanggung pemerintah Arab Saudi. “Satu badal bisa setara Rp 20 juta. Kalau 1.000 orang, itu bisa Rp 20 miliar. Tapi Saudi yang menanggungnya,” katanya.
KKHI Diizinkan Beroperasi Penuh
Di tengah pembatasan ketat selama fase Arafah-Muzdalifah-Mina (Armuzna), hanya Indonesia yang diberi izin menempatkan ambulans sendiri di wilayah perkemahan. Otoritas Saudi menetapkan bahwa ambulans di area ini hanya boleh dari Saudi. Namun, dispensasi diberikan kepada Indonesia setelah lobi intensif dan bukti kesiapan.
“Tidak boleh ada ambulans masuk kecuali dari Saudi. Tapi karena pendekatan data dan kesiapan kita, hanya Indonesia yang diizinkan,” ungkap Nasaruddin.
Ambulans Indonesia ditempatkan tersebar, tidak bergerombol. Hal ini menjadi penopang sistem mitigasi darurat, terutama untuk jemaah lansia dan disabilitas. Selain itu, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) juga kembali diizinkan beroperasi penuh, termasuk untuk tindakan medis ringan langsung di perkemahan.
Dengan segala kesiapan dan dispensasi yang diperoleh, Indonesia berharap seluruh jemaah bisa menunaikan wukuf dengan aman dan khusyuk. “Puncak haji adalah Arafah. Semoga semua jemaah kita meraih haji yang mabrur,” tutur Nasaruddin.
Wafat Jelang Berangkat
Satu hari menjelang keberangkatan menuju Arafah, Oncu Buang Ahmad (76), jemaah calon haji (JCH) asal Kabupaten Pelalawan pemegang no porsi 0400098510 meninggal dunia di Rumah Sakit King Faisal Makkah, Selasa (3/6) pukul 21.35 WAS. Sempat dirawat di KKHI Makkah, meninggal setelah menjalani operasi hernia.
“Telah berpulang ke rahmatullah salah seorang jemaah haji kami dari Kloter BTH 08 atas nama Oncu Buang Ahmad umur 76 tahun, bertepatan dengan 7 Dzulhijjah pukul 21.35 WAS di Rumah Sakit King Faisal Makkah setelah menjalani operasi hernia,” ujar Kepala Kanwil Kemenag Riau, Muliardi Rabu (4/6) dari Makkah. “Semoga almarhum diampuni segala dosanya dan di terima amal ibadahnya,” sambungnya.
Muliardi menyampaikan duka cita atas meninggalnya jemaah tersebut. “Saya atas nama pribadi maupun sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya jemaah haji tersebut. Semoga keluarga tabah dan jemaah yang meninggal ditempatkan bersama orang-orang pilihan Allah SWT,” sebutnya.
Jemaah haji Provinsi Riau sudah mulai mempersiapkan diri menuju Arafah dan telah dimobilisasi dengan tertib bekerjasama dengan maktab ataupun syarikah. “Kita akan upayakan mobilisasi jemaah dengan tertib untuk keberangkatannya menuju Arafah. Jemaah akan diangkut secara bertahap. Jemaah yang ada di lobi hanya jemaah yang akan berangkat,” ujar Muliardi.
Sedangkan yang belum mendapatkan jadwal keberangkatan, tetap berada di kamar untuk menghindari penuhnya lobi hotel dan mempersulit jemaah untuk diberangkatkan. Berdasarkan data dari kloter, jemaah akan diberangkatkan sesuai jadwal yang ditetapkan maktab/syarikah.
Muliardi menambahkan, untuk pelaksanaan wukuf esok harinya, petugas kloter sudah membuatkan jadwal petugas pada puncak pelaksanaan wukuf nantinya. “Sebelum berangkat ke Arafah, petugas kloter sudah membuat jadwal petugas yang akan bertugas pada saat puncak wukuf, ada bilal, khatib, imam dan pemandu zikir dan doa,” katanya lagi.
Terkait jemaah terpisah karena berada di dua tenda, itu teknis saja bagaimana pelaksanaannya. Ada yang digabungkan kedalam satu tenda sewaktu khutbah wukuf ada yang membuat di masing-masing tenda, diserahkan kepada petugas kloternya. Muliardi berharap kepada masyarakat Provinsi Riau untuk mendoakan kelancaran pelaksanaan ibadah haji jemaah haji Provinsi Riau.
Hingga H-1 keberangkatan menuju Arafah sudah lima orang jemaah haji Provinsi Riau meninggal di Tanah Suci. Mereka adalah Reni Maifida Zainal Muhammad (53) asal Pelalawan, Nifzar Rachman bin Abdur Rahman Bulat asal Pekanbaru, Usman Jalil (81) asal Kabupaten Kepulauan Meranti, Yurniaty Maah Abdullah (74) asal Pekanbaru, dan Oncu Buang Ahmad (76) asal Pelalawan.(ilo/jpg)
Rabu (4/6) proses mobilisasi jemaah dari hotel-hotel di sekitar Masjidilharam menuju Arafah berlangsung. Mobilisasi itu merupakan yang terbesar karena diikuti oleh lebih dari 221 ribu jemaah.Pantauan Jawa Pos (JPG) di Makkah, sejak subuh waktu Arab Saudi, bus-bus pengangkut jemaah tampak hilir mudik. Jemaah laki-laki telah mengenakan ihram, sementara jemaah perempuan berbusana haji. Mereka menunggu bus di lobi atau di depan hotel. Petugas berjaga untuk memastikan kloter diberangkatkan sesuai jadwal dan masuk bus sesuai daftar manifes.
Menteri Agama Nasaruddin Umar memantau langsung proses pemberangkatan jemaah haji. Sekitar pukul 10.00 WAS, ia menyambangi kawasan Syisyah, tepatnya di Hotel 217 Sektor 2. Di sana, Menag menyapa jemaah yang tengah menunggu giliran naik bus. Kedatangan Menag disambut antusias oleh jemaah haji Indonesia. Mereka berebut bersalaman dan berswafoto dengan Menag.
Nasaruddin juga masuk ke dalam bus. Dia menyalami jemaah dan mendoakan kelancaran ibadah selama masa puncak haji. Setelah itu, Nasaruddin bergerak ke hotel lain di sektor yang sama. Di setiap kunjungan, ia memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal dan seluruh proses berjalan tertib. Ia menegaskan bahwa seluruh jemaah akan diberangkatkan ke Arafah tanpa terkecuali.
Pemerintah Indonesia telah berkoordinasi dengan otoritas Arab Saudi dan delapan syarikah penyedia transportasi agar semua jemaah, apa pun asal syarikahnya, bisa diangkut tepat waktu. “Bayangkan, hari ini lebih dari 200 ribu jemaah dari berbagai hotel di Makkah dipindahkan ke Arafah dalam hitungan jam. Ini butuh strategi logistik yang tidak main-main,” kata Nasaruddin.
Ia menyebut kerja besar itu melibatkan Kemenag, Kemenkes, TNI, Polri, otoritas Arab Saudi, serta delapan syarikah transportasi. Bahkan, kolonel dari TNI ikut ditugaskan untuk pengaturan massa. “Mereka sangat ahli dalam evakuasi dan mobilisasi skala besar. Kami sangat berterima kasih,” ujarnya.
Safari Wukuf untuk 500 Orang
Salah satu dinamika penting menjelang puncak haji adalah perubahan keputusan Pemerintah Arab Saudi soal t anazul atau kembalinya sebagian jemaah ke hotel sebelum waktu yang ditentukan.
Awalnya, Indonesia mengusulkan sekitar 36 ribu jemaah untuk ikut skema tanazul. Namun, keputusan tiba-tiba dari otoritas Saudi membatalkan seluruh rencana tersebut. Untung, lewat diplomasi intensif dan pendekatan berbasis data kondisi kesehatan jemaah, Indonesia mendapat izin tanazul terbatas.
“Tadinya semua dibatalkan. Tapi setelah kami laporkan ada 3.500 jemaah yang sangat riskan, akhirnya Saudi memberikan dispensasi khusus,” jelas Nasaruddin.
Dari 3.500 jemaah itu, ada sekitar 500 orang yang kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk wukuf di Arafah. Karena itu, mereka mengikuti skema safari wukuf. Yakni, wukuf tanpa turun dari bus. Sekitar 250 jemaah yang dirawat di rumah sakit akan menjalani badal haji, yakni diwakilkan sepenuhnya. Menag lantas menjelaskan perbedaan antara badal dan taukil (mewakilkan atau diwakilkan).
’’Kalau badal itu pengganti penuh, sedangkan taukil masih di bawah pengawasan petugas resmi,” terangnya. Menariknya, seluruh biaya badal ditanggung pemerintah Arab Saudi. “Satu badal bisa setara Rp 20 juta. Kalau 1.000 orang, itu bisa Rp 20 miliar. Tapi Saudi yang menanggungnya,” katanya.
KKHI Diizinkan Beroperasi Penuh
Di tengah pembatasan ketat selama fase Arafah-Muzdalifah-Mina (Armuzna), hanya Indonesia yang diberi izin menempatkan ambulans sendiri di wilayah perkemahan. Otoritas Saudi menetapkan bahwa ambulans di area ini hanya boleh dari Saudi. Namun, dispensasi diberikan kepada Indonesia setelah lobi intensif dan bukti kesiapan.
“Tidak boleh ada ambulans masuk kecuali dari Saudi. Tapi karena pendekatan data dan kesiapan kita, hanya Indonesia yang diizinkan,” ungkap Nasaruddin.
Ambulans Indonesia ditempatkan tersebar, tidak bergerombol. Hal ini menjadi penopang sistem mitigasi darurat, terutama untuk jemaah lansia dan disabilitas. Selain itu, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) juga kembali diizinkan beroperasi penuh, termasuk untuk tindakan medis ringan langsung di perkemahan.
Dengan segala kesiapan dan dispensasi yang diperoleh, Indonesia berharap seluruh jemaah bisa menunaikan wukuf dengan aman dan khusyuk. “Puncak haji adalah Arafah. Semoga semua jemaah kita meraih haji yang mabrur,” tutur Nasaruddin.
Wafat Jelang Berangkat
Satu hari menjelang keberangkatan menuju Arafah, Oncu Buang Ahmad (76), jemaah calon haji (JCH) asal Kabupaten Pelalawan pemegang no porsi 0400098510 meninggal dunia di Rumah Sakit King Faisal Makkah, Selasa (3/6) pukul 21.35 WAS. Sempat dirawat di KKHI Makkah, meninggal setelah menjalani operasi hernia.
“Telah berpulang ke rahmatullah salah seorang jemaah haji kami dari Kloter BTH 08 atas nama Oncu Buang Ahmad umur 76 tahun, bertepatan dengan 7 Dzulhijjah pukul 21.35 WAS di Rumah Sakit King Faisal Makkah setelah menjalani operasi hernia,” ujar Kepala Kanwil Kemenag Riau, Muliardi Rabu (4/6) dari Makkah. “Semoga almarhum diampuni segala dosanya dan di terima amal ibadahnya,” sambungnya.
Muliardi menyampaikan duka cita atas meninggalnya jemaah tersebut. “Saya atas nama pribadi maupun sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya jemaah haji tersebut. Semoga keluarga tabah dan jemaah yang meninggal ditempatkan bersama orang-orang pilihan Allah SWT,” sebutnya.
Jemaah haji Provinsi Riau sudah mulai mempersiapkan diri menuju Arafah dan telah dimobilisasi dengan tertib bekerjasama dengan maktab ataupun syarikah. “Kita akan upayakan mobilisasi jemaah dengan tertib untuk keberangkatannya menuju Arafah. Jemaah akan diangkut secara bertahap. Jemaah yang ada di lobi hanya jemaah yang akan berangkat,” ujar Muliardi.
Sedangkan yang belum mendapatkan jadwal keberangkatan, tetap berada di kamar untuk menghindari penuhnya lobi hotel dan mempersulit jemaah untuk diberangkatkan. Berdasarkan data dari kloter, jemaah akan diberangkatkan sesuai jadwal yang ditetapkan maktab/syarikah.
Muliardi menambahkan, untuk pelaksanaan wukuf esok harinya, petugas kloter sudah membuatkan jadwal petugas pada puncak pelaksanaan wukuf nantinya. “Sebelum berangkat ke Arafah, petugas kloter sudah membuat jadwal petugas yang akan bertugas pada saat puncak wukuf, ada bilal, khatib, imam dan pemandu zikir dan doa,” katanya lagi.
Terkait jemaah terpisah karena berada di dua tenda, itu teknis saja bagaimana pelaksanaannya. Ada yang digabungkan kedalam satu tenda sewaktu khutbah wukuf ada yang membuat di masing-masing tenda, diserahkan kepada petugas kloternya. Muliardi berharap kepada masyarakat Provinsi Riau untuk mendoakan kelancaran pelaksanaan ibadah haji jemaah haji Provinsi Riau.
Hingga H-1 keberangkatan menuju Arafah sudah lima orang jemaah haji Provinsi Riau meninggal di Tanah Suci. Mereka adalah Reni Maifida Zainal Muhammad (53) asal Pelalawan, Nifzar Rachman bin Abdur Rahman Bulat asal Pekanbaru, Usman Jalil (81) asal Kabupaten Kepulauan Meranti, Yurniaty Maah Abdullah (74) asal Pekanbaru, dan Oncu Buang Ahmad (76) asal Pelalawan.(ilo/jpg)
Editor : Bayu Saputra