JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dirumorkan tewas akibat serangan yang dilancarkan Iran. Rumor kematiannya semakin menguat setelah ramai di media sosial (medsos), sebuah video pidato yang disebut-sebut menampilkan anomali visual, termasuk dugaan 'enam jari' di tangan sang pemimpin Israel itu.
Video tersebut memicu perdebatan luas tentang kemungkinan penggunaan kecerdasan buatan (AI) serta memunculkan spekulasi soal keberadaan Netanyahu di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Perdebatan itu semakin ramai setelah pemimpin Workers Party of Britain, George Galloway, mempertanyakan keaslian video tersebut melalui akun X miliknya pada 13 Maret.
Apakah ini benar-benar terjadi? Mengapa Israel merilis pidato AI dari Netanyahu tadi malam? Dalam video itu, perdana menteri terlihat memiliki enam jari. Di mana dia sekarang? Di mana Itamar Ben-Gvir? Mengapa media Barat tidak menanyakan hal-hal ini?” tulis Galloway.
Pernyataan tersebut memicu diskusi lebih luas tentang keberadaan Netanyahu dan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, serta sikap media Barat yang dinilai relatif sunyi terhadap spekulasi tersebut.
Video Pidato Picu Dugaan AI
Video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan Netanyahu menyampaikan pidato kepada publik di tengah konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Namun sejumlah pengguna internet mengklaim ada kejanggalan visual dalam video tersebut, termasuk potongan gambar yang membuat tangan Netanyahu terlihat memiliki enam jari.
Sebagian warganet kemudian berspekulasi bahwa pidato itu dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI), bukan rekaman langsung sang perdana menteri. Spekulasi itu juga memicu rumor lain yang lebih ekstrem, yakni klaim bahwa Netanyahu telah meninggal dunia dan pemerintah Israel menyembunyikan kabar tersebut.
Baca Juga: Karhutla di Kecamatan Tambang Belum Padam, Pohon Tumbang Sempat Tutup Akses Jalan di Bangkinang
Klaim Kematian Netanyahu Viral
Tagar dan klaim “Is Israeli PM dead?” sempat menjadi topik yang ramai dibahas di platform X. Salah satu unggahan viral bahkan menyebut Netanyahu telah meninggal dan menuduh akun resmi Perdana Menteri Israel menghapus unggahan yang mengonfirmasi kematiannya.
Namun pemeriksaan fakta menunjukkan klaim tersebut tidak benar. Tangkapan layar yang beredar disebut sebagai gambar palsu dan tidak pernah muncul di akun resmi pemerintah Israel.
Chatbot AI Grok yang terintegrasi dengan platform X juga menanggapi klaim tersebut dan menyatakan tidak ada unggahan yang dihapus dari akun resmi Perdana Menteri Israel.
Sejumlah organisasi pemeriksa fakta dan media internasional juga menyebut rumor kematian Netanyahu sebagai misinformasi yang belum memiliki bukti kredibel.
Anomali Visual Diduga Efek Kamera
Analisis dari berbagai alat verifikasi digital menyebutkan bahwa gambar yang menampilkan enam jari kemungkinan besar disebabkan oleh distorsi visual dari sudut kamera atau frame tertentu dalam video konferensi pers.
Artinya, anomali tersebut tidak cukup kuat untuk membuktikan bahwa video itu dihasilkan oleh AI atau bahwa Netanyahu tidak benar-benar muncul dalam rekaman tersebut.
Munculnya rumor ini tidak lepas dari situasi geopolitik yang tengah memanas. Ketegangan meningkat setelah konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran.
Serangkaian serangan militer dilaporkan menargetkan kepemimpinan Iran, termasuk kabar kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Di tengah situasi tersebut, Iran juga dilaporkan melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan posisi militer Amerika Serikat dan Israel di kawasan.
Absennya Netanyahu dari sejumlah penampilan publik dalam beberapa waktu terakhir ikut memperkuat spekulasi di media sosial, meski hingga kini tidak ada konfirmasi resmi yang menyatakan bahwa ia dalam kondisi kritis atau meninggal dunia.
Dengan demikian, hingga saat ini rumor mengenai kematian Benjamin Netanyahu maupun klaim bahwa pidato yang beredar sepenuhnya dibuat oleh AI masih belum terbukti dan lebih banyak dikategorikan sebagai disinformasi yang berkembang di media sosial.***
Editor : Edwar Yaman