JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumbar ancaman untuk Iran. Dengan bahasa yang penuh emosi dan kata-kata kasar, ia menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas vital seperti pembangkit listrik dan jembatan akan dilakukan jika Iran tidak membuka Selat Hormuz sebagaimana tenggat waktu yang ia tetapkan.
Trump, bahkan menyebut 'Alhamdulillah' di tengah ancaman untuk menghancurkan infrastruktur sipil Iran. Ancaman disampaikan Trump melalui unggahan di media sosial pada Ahad (5/4).
"Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya dibungkus dalam satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat F*... atau Anda akan tinggal di Neraka - LIHAT SAJA! Puji syukur kepada Allah," tulis Trump.
Baca Juga: Jutaan Warga AS Demo Trump
Sebelumnya, pada 26 Maret, Trump memberi ultimatum 10 hari kepada Iran untuk membuka kembali jalur tersebut. Ia juga mengklaim bahwa negosiasi sedang berlangsung dan optimistis kesepakatan bisa tercapai sebelum batas waktu.
Namun, pernyataan keras terbaru ini justru memperkeruh situasi. Pemerintah Iran langsung bereaksi keras. Perwakilan Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa mengecam ancaman tersebut sebagai tindakan yang berpotensi melanggar hukum internasional.
"Sekali lagi, presiden AS secara terbuka mengancam menghancurkan infrastruktur penting bagi kelangsungan hidup warga sipil di Iran," demikian pernyataan misi Iran di PBB.
Ketegangan berakar dari penutupan Strait of Hormuz, jalur vital perdagangan energi global yang terhenti sejak serangan awal Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari.
Iran juga mendesak komunitas internasional untuk bertindak cepat. "Dunia memiliki kewajiban hukum untuk mencegah tindakan keji yang bisa menjadi kejahatan perang. Besok akan terlamba," pernyataan misi Iran.
Sementara itu, pejabat kantor presiden Iran, Seyyed Mehdi Tabatabaei, menegaskan bahwa pembukaan Selat Hormuz hanya akan dilakukan jika ada kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Baca Juga: Pekan Ini, WFH ASN Bengkalis Mulai Diterapkan
Ia menyebut kompensasi itu bisa berbentuk biaya transit dalam 'rezim hukum baru' yang akan diberlakukan Iran terhadap kapal-kapal yang melintas. Tabatabaei juga menilai ancaman Trump sebagai bentuk keputusasaan. "AS telah beralih pada kata-kata kotor dan omong kosong karena frustrasi dan kemarahan," ujarnya.
Sementara saat ditanya soal dampak serangan terhadap warga sipil, Trump justru menunjukkan sikap tak khawatir. "Tidak, mereka ingin kita melakukannya," kata Trump dalam wawancara dengan Wall Street Journal, merujuk pada rakyat Iran.
Ia juga menyebut warga Iran 'hidup dalam neraka', namun tidak memberikan kepastian kapan konflik akan berakhir. Sementara itu, di tengah eskalasi, Trump juga mengungkap keberhasilan operasi militer AS dalam menyelamatkan seorang awak jet tempur F-15E yang jatuh di wilayah Iran.
Baca Juga: Nekat Kabur, Tersangka Curat dan Curanmor 16 TKP di Rohul Dihadiahi Timah Panas, Satu DPO
"Kami telah menyelamatkan anggota kru F-15 yang terluka parah dari pegunungan Iran. Ini adalah aksi luar biasa penuh keberanian," ujarnya.
Trump dijadwalkan menggelar konferensi pers di Gedung Putih pada Senin (6/4) waktu setempat, yang diperkirakan akan memperjelas langkah berikutnya dalam konflik yang terus memanas ini.
Sepanjang konflik berlangsung, serangan AS-Israel disebut telah menyasar berbagai fasilitas sipil, termasuk jembatan, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga universitas. Para ahli Iran memperingatkan bahwa tindakan tersebut bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Sumber: Jawapos.com
Editor : Rinaldi