Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Ogah Terseret Jauh Dalam Konflik AS - Iran, Inggris Menolak Ikut Blokade Hormuz, Dorong Upaya Diplomatik

Redaksi • Selasa, 14 April 2026 | 06:45 WIB
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. (The Newyork Times)
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. (The Newyork Times)

RIAUPOS.CO - Sejumlah negara sekutu Amerika Serikat (AS) terang-terangan menolak mendukung langkah Presiden Donald Trump untuk memblokade Selat Hormuz.

Diketahui, sejak konflik memanas, lalu lintas di Selat Hormuz masih terbatas. Iran dilaporkan hanya mengizinkan kapal dari negara tertentu untuk melintas, memperketat kontrol atas jalur strategis tersebut.

Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik AS-Iran kini tidak hanya menjadi isu regional, tetapi telah berkembang menjadi ujian besar bagi solidaritas global dan stabilitas ekonomi dunia.

Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Sumbarriau Kepri Perkuat Perlindungan Pekerja lewat PP 50 Tahun 2025

Seperti Inggris secara tegas menyatakan tidak akan terlibat, di tengah kekhawatiran bahwa kebijakan tersebut justru memperluas konflik global.

Perdana Menteri Keir Starmer mengatakan, London tidak akan mendukung blokade yang diumumkan Washington. Ia menekankan Inggris tidak ingin terseret lebih jauh dalam konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.

“Kami tidak mendukung blokade ini dan tidak akan ikut terseret dalam perang,” tegas Starmer dalam wawancara radio BBC.

Baca Juga: El Nino Super, Sinergi Polres dan BPBD Siak Cegah Karhutla 

Starmer menekankan pentingnya membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi energi global, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas di wilayah tersebut dalam kondisi normal.

Prioritas utama saat ini, kata Starmer adalah memastikan akses pelayaran kembali normal demi menjaga stabilitas ekonomi global.

“Kami fokus memastikan selat itu terbuka sepenuhnya, dan upaya diplomatik akan terus kami dorong,” tegasnya.

Baca Juga: Rohul Tagih Janji Pemprov Transfer Sisa Kurang Salur DBH 2024-2025 Sebesar Rp56 Miliar ke Kasda

Bukan hanya Inggris, negara sekutu lain mulai bersikap kritis. Presiden Perancis Emmanuel Macron bahkan mengumumkan rencana konferensi bersama Inggris untuk membahas kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Macron menegaskan bahwa semua upaya diplomasi harus dimaksimalkan untuk mengakhiri konflik secara permanen.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Spanyol Margarita Robles menilai rencana blokade tersebut tidak masuk akal dan justru memperburuk situasi.

Baca Juga: 5 Kg Sabu Coba Diseludupkan lewat Bandara SSK II Pekanbaru, Empat Tersangka Ditangkap

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mendesak agar negosiasi dengan Iran segera dilanjutkan dan jalur pelayaran dibuka secepat mungkin.

Banyak pihak menilai langkah blokade ini bukan sekadar tekanan politik, melainkan berpotensi memicu babak baru konflik berskala besar. 

Kebijakan tersebut juga dinilai bisa berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global, terutama sektor energi.

Baca Juga: Perebutan Gelar Liga Premier, Pep Guardiola Sebut Laga Manchester City vs Arsenal Pekan Depan adalah Final

Tiongkok, sebagai salah satu importir besar minyak Iran, turut mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas dan kelancaran jalur perdagangan internasional di Selat Hormuz.

Sementara itu, United States Central Command menyatakan akan tetap menjalankan rencana blokade terhadap pelabuhan Iran, meski mekanisme penerapannya masih belum sepenuhnya jelas.

Editor : M. Erizal
#Inggris #presiden as donald trump #blokade selat hormuz