Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Drama Musikal Senandung Bunian Membangun Karakter Anak-Anak lewat Seni Pertunjukan

Soleh Saputra • Minggu, 1 Juni 2025 | 15:19 WIB

Salah satu adegan dalam drama musikal Senandung Bunian yang dipentaskan di Anjung Seni Idrus Tintin,  Purna MTQ, Pekanbaru, Jumat-Ahad (23-25/5/2025).
Salah satu adegan dalam drama musikal Senandung Bunian yang dipentaskan di Anjung Seni Idrus Tintin, Purna MTQ, Pekanbaru, Jumat-Ahad (23-25/5/2025).

Selama tiga hari, Yayasan Begawai Riau Independen mementaskan drama musikal anak-anak, Senandung Bunian. Pertunjukan ini diharapkan menjadi bagian dari membangun kreativitas, edukasi, dan menanamkan nilai-nilai luhur budaya Melayu di kalangan anak-anak.

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - TEATER anak --juga termasuk di dalamnya drama musikal, atau opera-- masih belum diperhatikan di Riau. Beberapa sanggar teater pernah mementaskannya, namun jumlahnya tidak banyak. Yang sering adalah Teater Selembayung, yang diinisiasi sepasang suami istri, Fedli Aziz dan Rina NE. Mereka beberapa kali mentas di Pekanbaru dan beberapa daerah lainnya, dan mendapatkan apresiasi yang cukup meriah.

Mantan Ketua Jaringan Teater Riau (JTR), Rian Kurniawan Harahap, dalam perbincangan dengan Riau Pos beberapa waktu dulu, pernah mengatakan, teater anak di Riau memang belum mendapatkan tempat secara layak. Belum banyak sanggar teater yang mau menggarapnya. Sebab, berbeda dengan teater yang dimainkan orang dewasa, teater yang melibatkan mayoritas anak-anak ini, punya tingkat kesulitan yang lebih dibanding teater biasa pada umumnya.

“Mungkin karena itulah tak banyak sanggar teater yang mau menggarapnya. Bukan berarti tak ada,” ujar guru di salah satu sekolah swasta di Pekanbaru tersebut.

Maka, ketika ada kelompok atau sanggar yang mau menggarap teater anak ini, merupakan berkah. Apalagi dengan pertunjukan berbayar. Sebab, itu adalah sebuah pertaruhan. Apakah tingkat apresiasi masyarakat terhadap teater anak di Riau –khususnya Pekanbaru—sudah muncul? Bagaimana peran orang tua (orang dewasa) dalam meyakinkan anak-anak mereka untuk menonton? Dan bagaimana pula tingkat keinginan orang dewasa menonton pertunjukan teater anak ini?

Mungkin tanpa bermaksud menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, selama tiga hari, Jumat-Ahad (23-25/5/2025) lalu, Yayasan Begawai Riau Independen mementaskan drama musikal –semacam opera—anak berjudul Senandung Bunian, di Anjung Seni Idrus Tintin (ASIT), Purna MTQ, Pekanbaru.

Ketua Yayasan Begawai Riau Independen, Benie Riaw, menjelaskan, Senandung Bunian digagas sebagai ruang edukatif dan kreatif bagi anak-anak dan remaja untuk mengenal budaya Melayu, khususnya warisan Kerajaan Siak Sriindrapura. Pertunjukan ini menggabungkan unsur sejarah, mitos, dan kesenian tradisional dalam bentuk seni pertunjukan imajinatif.

Poin-poin pentingnya adalah melestarikan budaya Melayu melalui seni pertunjukan; menumbuhkan rasa bangga terhadap sejarah dan tokoh-tokoh lokal; mengembangkan bakat seni anak dan remaja dalam bidang musik, tari, dan teater; menumbuhkan kesadaran sosial; dan nilai kebersamaan melalui refleksi budaya.

“Poin-poin tersebut penting ditanamkan kepada anak-anak dan remaja di usia mereka sekarang agar mengakar dalam diri, dan tak tercerabut saat mereka dewasa, saat menghadapi kehidupan modern yang kadang kehilangan identitas dan jati diri,” kata Benie kepada Riau Pos, Rabu (28/5/2025).

Dijelaskannya, ada 32 siswa SD dan SMP di Pekanbaru dari berbagai sanggar yang ikut berperan dalam pementasan ini. Kru yang bekerja untuk pementasan tiga hari tersebut –setiap hari dua kali pementasan—sekitar 51 orang. Benie sendiri bertindak sebagai ketua yayasan yang bertanggung jawab atas pementasan ini, sekaligus sebagai sutradara, penulis naskah, dan komposer. Sementara bertindak sebagai produser adalah H Abdullah. Nama lainnya yang terlibayt adalah Fachrozi Amri (sekretaris yayasan dan manajer produksi), Fedli Aziz (dramaturgi), Eri Bob (music director), dan beberapa nama lainnya.

Selama tiga hari, ada sekitar 1000 penonton yang menyaksikan pertunjukan tersebut. Mereka terdiri dari penonton/masyarakat umum pecinta seni, orang tua peserta, tokoh budaya, pejabat daerah, dan tamu undangan dari instansi pendukung. Menurut Benie, ini luar biasa baginya, karena ternyata apresiasi terhadap karya seni masih begitu tinggi. Masyarakat Pekanbaru masih mau berbondong-bondong menyaksikan pertunjukan drama musikal ini, meskipun pemainnya adalah anak-anak dan remaja. “Kami mengucapkan terima kasih atas apresiasi masyarakat, juga dukungan berbagai pihak untuk pertunjukan ini,” jelas Benie lagi.

Kisah Senandung Bunian terjadi di Telaga Putri, sebuah kampung fiktif yang masih menjaga erat tradisi dan adat warisan Kerajaan Siak Indrapura. Pada rentang waktu antara Maghrib hingga Isya, anak-anak kampung belajar mengaji, silat, musik, dan tari tradisional. Di waktu rehat itulah muncul cerita-cerita rakyat, termasuk tentang makhluk halus tak kasat mata yang disebut “Bunian”.

Kampung Telaga Putri itu bukan hanya terdapat komunitas orang dulu-dulu yang masih berpegang pada resam budaya leluhur yang masih melekat erat pada keelokan sejarah Kerajaan Siak Indrapura, mereka pun masih berkait kelindan dengan kerabat Istana Siak. Mereka masih tetap terlihat oleh nama besar Laksamana Hang Tuah, sang pahlawan legenda Bumi Tanah Melayu. Segala perilaku dan tingkah polah masih terasa kental pada akar budaya dan resam yang memang sudah diwarisi oleh orang dulu-dulu.

Di kampung ini, seperti di kampung-kampung Melayu pada umumnya, senantiasa ada tradisi untuk belajar mengaji, belajar silat, belajar musik, serta tari tradisional dan sebagainya. Pada tenggat waktu dari Maghrib ke Isya, mereka belajar sesuai dengan pilihan yang sesuai dengan bakat mereka. Di antara waktu luang Maghrib hingga Isya itu, mereka belajar dan istirahat. Pada waktu istirahat inilah cerita ini bermula.

Alurnya, sekelompok anak muda yang merupakan siswa sekolah asal Kota Pekanbaru, tengah menikmati liburan sekolah di sebuah kawasan di Siak. Namun mereka tersesat dan tak sengaja memasuki alam bunian, yang dikenal di tengah masyarakat Melayu Riau sebagai alam gaib. Saat berada di alam itu, mereka menemukan berbagai hal baru, termasuk berinteraksi dengan makhluk penghuni alam itu, hingga bertemu sang raja dan permaisuri serta putrinya yang cantik jelita.

Konflik terjadi, ketika terjadi perselisihan antara anak muda perkotaan dengan penghuni alam bunian tersebut. Hal itu bermula ketika tuan putri raja bermaksud hendak mengikuti anak-anak muda itu ke alam mereka. Ada kontradiksi antara alam yang tak kasat mata ini dengan alam manusia secara umum.

Benie Riaw menjelaskan, masyarakat Melayu telah mewarisi cerita rakyat, antara lain seperti mitos, hikayat, dan legenda yang berbasis pada sastra lisan (tutur) dari generasi ke generasi yang tetap melekat erat. Misalnya, dalam penyebutan untuk makhluk tak kasat mata disebut sebagai “orang bunian”. Dari sketsa ini, drama musikal ini diberi judul Senandung Bunian. Kata dia, terkadang tingkah polah orang-orang sekarang tak ubah seperti orang bunian yang mengambil hak orang lain secara sembunyi, membuat orang lain menjadi susah dan sengsara, suka main belakang padahal di depan baik-baik saja, dan banyak pelajaran lain yang disampaikan dalam pementasan tersebut.

“Kami ingin anak-anak tak hanya tampil, tetapi juga memahami sejarah dan nilai-nilai budaya yang membentuk identitas mereka. Kami bangga melihat bagaimana anak-anak tampil percaya diri sambil membawa pesan budaya yang begitu kuat. Ini membuktikan bahwa seni bisa menjadi sarana edukasi dan pewarisan nilai,” ucap salah satu musisi senior di Riau ini.

Manajer Produksi, Fachrozi Amri, menambahkan, Senandung Bunian menjadi refleksi sosial atas perilaku tersembunyi yang masih berlangsung di masyarakat. Pertunjukan ini, kata dia, memiliki tujuan yang luas, mulai dari melestarikan kebudayaan Melayu --khususnya tradisi Kerajaan Siak Indrapura-- hingga mengembangkan bakat seni anak dan remaja dalam bidang musik, tari, dan sastra. Selain itu, pertunjukan ini menumbuhkan rasa bangga terhadap tokoh-tokoh sejarah dan memperkuat hubungan generasi muda dengan masa lalu melalui cerita rakyat syarat dengan nilai-nilai lokal.

Menurutnya, seni pertunjukan adalah medium efektif untuk pendidikan karakter dan penguatan identitas. “Kami ingin anak-anak mengenali jati diri mereka dan tumbuh sebagai generasi yang berbudaya. Ini adalah ajakan untuk jujur dan mencintai warisan budaya serta lingkungan tempat kita berpijak,” ujarnya.

Senandung Bunian, ujar pengajar di beberapa universitas ini, menjadi momentum penting dalam merawat tradisi dengan pendekatan yang segar, edukatif, dan menginspirasi. Ini adalah upaya nyata untuk memastikan bahwa budaya Melayu tetap hidup di hati generasi muda. Bukan hanya pertunjukan seni, tetapi juga refleksi sosial atas perilaku tersembunyi yang masih berlangsung di masyarakat

“Melalui drama musikal ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk kembali mencintai budaya, serta mengingatkan pentingnya nilai kejujuran dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Menurut Fachrozi, seni pertunjukan adalah medium efektif untuk pendidikan karakter dan penguatan identitas. Juga menjadi momentum penting dalam merawat tradisi dengan pendekatan yang segar, edukatif, dan menginspirasi. Ini adalah upaya nyata untuk memastikan bahwa budaya Melayu tetap hidup di hati generasi muda. “Kami ingin anak-anak mengenali jati diri mereka dan tumbuh sebagai generasi yang berbudaya,” ujarnya.

Benie dan Fachrozi mewakili Yayasan Begawai Riau Independen, mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung suksesnya pertunjukan Senandung Bunian. Baik tim produksi dan kreatif atas dedikasi luar biasa; para donatur dan pendukung; tamu undangan, mitra, serta sahabat budaya; orang tua, guru, dan pihak sekolah; serta seluruh masyarakat yang telah hadir dan turut menyebarkan semangat pelestarian budaya. “Semoga kolaborasi ini menjadi langkah berkelanjutan dalam menghidupkan nilai-nilai budaya Melayu,” kata Benie yang diamini Fachrozi.***

Editor : Bayu Saputra
#seni #budaya riau #Yayasan Begawai Riau