Sepasang sastrawan suami-istri dari Yogyakarta, Raudal Tanjung Banua dan Nur Wahida Idris, bersama beberapa temannya, membangun ide pemberdayaan masyarakat Talang Mamak lewat karya sastra dan batik. Selain menyuarakan proses pembangunan yang tak adil bagi masyarakat tradisional, keduanya juga menggali potensi ekonomi dari kekayaan budaya.
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - DATANG jauh-jauh dari Yogyakarta, pasangan suami-istri Raudal Tanjung Banua dan Nur Wahida Idris membawa cinta untuk salah saku tua di Riau, Talang Mamak. Suku yang tinggal di beberapa kecamatan di pedalaman Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) itu telah menyihir keduanya. Yang terjadi, mereka sering bolak-balik ke sana dan menghasilkan karya. Raudal dengan tulisan-tulisannya berupa laporan perjalanan, cerpen, dan puisi, sementara Ida –begitu Nur Wahida dipanggil— mengajari para perempuan Talang Mamak menulis puisi dan mencanting (membantik).
Ida berhasil menciptakan dua motif batik khas Talang Mamak, yakni Tolak Bala dan Padi Ladang. Dua motif itu hasil dari perenungan Ida selama tinggal di Talang Mamak beberapa waktu. Di sana dia mempelajari dan menyerap kebiasaan sehari-hari masyarakat melalui simbol-simbol dan filosofi hidup mereka. Mulai dari cara bertani, kepercayaan tradisional mereka, upacara-upacara pengobatan, tolak bala, dan sebagainya. Pengamatan dan perenungan itu berhasil dituangkan dalam desain-desain yang dibuatnya dan menghasilkan dua motif batik tersebut.
Perjalanan Raudal dan Ida itu diceritakannya dalam sebuah diskusi bertajuk “Batik dan Perjalanan ke Talang Mamak” yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Pemantauan Akuntabilitas Berkelanjutan (PPAB) di Rumah Kopi Tanah Merah, Kabupaten Kampar, pada 9 Agustus 2025 lalu. PPAB didirikan oleh Andiko Sutan Mancayo, seorang pengacara yang banyak melakukan advokasi terhadap persoalan lingkungan dan masyarakat adat yang terpinggirkan dalam pembangunan. PPAB berpusat di Batam, Kepulauan Riau, namun banyak melakukan advokasi di banyak wilayah di Indonesia, bahkan juga di beberapa negara di dunia.
Hadir dalam diskusi itu beberapa aktivis kebudayaan maupun lingkungan, juga akademisi, seperti Norham Wahab, M Badri, Siti Salamah, Raudal, Marhalim Zaini, Andreas Mazland, WS Djambak, Pramudya Pangestu, Pinto Anugrah, Budy Utamy, dll.
“Saya resah melihat ketidakadilan di masyarakat dalam proses pembangunan yang sebenarnya baik. Terutama masyarakat terpencil yang susah mendapatkan akses dibanding kita yang tinggal di kota. Salah satunya adalah masyarakat Suku Talang Mamak ini,” kata Andiko saat memberi pengantar diskusi.
Andiko ingin melakukan sesuatu untuk mereka, salah satunya adalah menuliskan betapa mereka memang tersisih dari proses pembangunan, dan menurutnya itu sangat tidak adil. Dia tahu kondisi masyarakat Talang Mamak itu sudah lama, sejak dia masih tinggal di Sumatera Barat (Sumbar). Namun dia tak bisa melakukan perjalanan dan menuliskan kisah masyarakat Talang Mamak tersebut. Kebetulan, dia sangat menyukai tulisan-tulisan Raudal, baik cerpen, puisi maupun catatan perjalanan. Yang dimuat di media massa maupun yang dibukukan. Akhirnya dia meminta Raudal untuk melakukan ekspedisi ke Talang Mamak dan menuliskannya dalam bentuk apa pun yang disukai Raudal.
Andiko yakin, karya sastra yang ditulis Raudal bisa menyampaikan kecemasan yang dialami masyarakat Talang Mamak. Paling tidak suara-suara masyarakat yang kesulitan tersebut bisa dibaca dan didengar masyarakat. Juga penguasa. Pada fase selanjutnya, Raudal melihat masyarakat Talang Mamak punya potensi lain yang nantinya bisa dikembangkan dari sisi ekonomis. Yakni batik. Raudal kemudian membawa istrinya, Ida –yang merupakan sarjana seni bidang batik di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta-- untuk masuk lagi ke Talang Mamak dalam perjalanan selanjutnya. Dari sanalah dua motif batik tersebut lahir dari tangan Ida.
“Kami sudah bertemu Bupati Inhu, Bapak Ade Agus Hartanto. Kami berikan dua motif batik contoh yang sudah dibuat. Beliau sangat mendukung apa yang kami lakukan,” ujar Andiko lagi.
Sejak 2023
Raudal masuk ke permukiman Suku Talang Mamak, yakni di Desa Talang Sungai Parit, Kecamatan Rakit Kulim, pada tahun 2023. Dan sejak itu, dia sudah datang ke sana sebanyak lima kali. Tiga kali untuk kebutuhan tulisan dan dua kali menemani Ida untuk mencari ide membuat batik, juga melakukan pelatihan batik bagi perempuan di desa tersebut. Seluruh biaya yang dikeluarkan dalam perjalanan itu dibiayai oleh Andiko lewat PPAB.
“Saya sudah lama mendengar nama Talang Mamak, sebagaimana orang Sakai dan Kubu. Tapi sebelumnya hanya mendengar selintas-selintas saja, dan itu justru membuat rasa penasaran. Jadi, ketika ada tawaran untuk datang ke Talang Mamak, saya merasa deja vu. Apalagi perjalanan ke daerah terpencil selama ini menjadi minat saya,” ujar Raudal saat dihubungi Riau Pos, Sabtu (6/9/2005).
Dia mengaku tak ada nama khusus dalam perjalanan itu. Diceritakannya, ide awalnya datang dari diskusi bersama tentang masyarakat adat dan ekologi antara dirinya dengan Andiko dan para relawan di PPAD. Selama ini, upaya pendampingan masyarakat adat, terutama menghadapi perusahaan, lebih banyak dalam bentuk advokasi hukum. Sementara di pihak perusahaan, kerap menganggap bahwa masyarakat adat itu tak ada. Mereka dianggap tak lebih sebagai masyarakat desa biasa. Untuk itu, kata dia, profil dan eksistensi mereka perlu diangkat dalam tulisan-tulisan yang komprehensif --jika bukan alternatif-- sehingga orang tahu bahwa masyarakat adat itu eksis. Dan perspektif tulisannya tidak dalam bentuk laporan atau reportase saja, juga tidak sepenuhnya etnografis, tapi perpaduan perjalanan, sastra dan etnografi.
“Ini diasumsikan bisa mendedahkan fakta secara menyentuh, dan enak dibaca. Selain itu, saya juga mengumpulkan dan mengolah bahan untuk penulisan sastra, seperti cerpen dan puisi,” ujar lelaki kelahiran Lansano, Pesisir Selatan, Sumbar, itu.
Dalam diskusi sebelumnya, Raudal mengaku, ketika berada di komunitas masyarakat adat Talang Mamak, dia ingat Riau punya penulis yang hebat tentang etnografi, yang bukunya dipakai sebagai buku penting di Institut Teknologi Bandung (ITB), yakni buku ajar tentang pembangunan pedesaan. Dia lupa judul bukunya, tetapi ingat penulisnya adalah budayawan Riau, UU Hamidy. Dia juga ingat di waktu lampau, antropolog Parsudi Suparlan pernah tinggal dan meneliti tentang Suku Sakai dan menulisnya dalam buku Orang Sakai di Riau.
Selain sebagai penulis sastra yang handal --terutama cerpen, puisi, dan esai—Raudal adalah seorang pengembara yang sering masuk ke ceruk-ceruk terdalam di berbagai kawasan di Indonesia. Raudal banyak masuk ke pedalaman Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan daerah lainnya. Tahun 2018, dia terpilih dalam Program Sastrawan Berkarya di Daerah 3T yang diselenggarakan Badan Bahasa. Dia ditempatkan di Pulau Buru, Maluku, tempat pembuangan banyak orang yang dituduh terlibat pemberontakan komunis tahun 1965. Salah satunya sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Sepulang dari sana, dia menerbitkan buku Jelajah Literasi (di) Pulau Buru.
“Persoalan masyarakat adat, ekologi, dan etnografi, penting dipahami para sastrawan. Di Riau banyak yang bisa ditulis. Banyak bahannya. Sudah saatnya para sastrawan mengesampingkan tentang persoalan-persoalan pribadi, kesunyian, dan sebagainya. Karya sastra yang berbasis masyarakat di sekitar mestinya bisa ditulis banyak sastrawan, salah satunya tentang Talang Mamak ini,” ujar penulis kumpulan cerpen Parang Tak Berulu ini.
Masyarakat yang Berubah
Di Talang Mamak, Raudal melihat secara langsung perubahan lingkungan yang terjadi secara besar-besaran –dan banyak terjadi di Riau dan daerah lainnya— yakni keperpihakan negara pada sektor perkebunan. Mau tak mau, masyarakat Talang Mamak di Desa Talang Sungai Parit, maupun secara umum di Kecamatan Rakit Kulim dan kecamatan lainnya yang dihuni masyarakat Talang Mamak, mengikuti perubahan itu. Yang tadinya mereka menanam karet, akhirnya berubah ke sawit. Kebun karet yang sudah rusak tidak dapat dana replanting dari pemerintah, sementara sektor perkebunan sawit digesa secara masif. Perubahan komoditas ini memaksa masyarakat untuk berubah juga.
Perubahan komoditas tanaman ini sebenarnya sedikit-banyak mengubah perekonomian mereka. Juga tata cara hidup. Namun, meski sudah memeluk agama resmi, banyak orang Talang Mamak yang masih sangat menghormati pohon-pohon, situs-situs atau makam leluhur mereka, juga melakukan ritual menjauh dari lingkungan ramai atau bertapa. Itulah yang kemudian memunculkan anggapan bahwa mereka tetap menjadi masyarakat yang tertutup. Padahal, kata Raudal, mereka sudah sangat terbuka. Ketika diskusi dan diberi ide tentang sesuatu, mereka bisa menerima dan akhirnya diskusi untuk mencari solusi pun muncul.
Pada bagian lain, Raudal bercerita tentang konsep padi ladang bagi mereka. Konsep berladang menanam padi inilah yang sering memunculkan tuduhan masyarakat Talang Mamak melakukan perambahan hutan karena dianggap melakukan perladangan berpindah. Kebetulan, kawasan tempat tinggal mereka tidak jauh dari areal Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Padahal, masyarakat di luar mereka tak mengetahui alasan mengapa mereka harus menanam padi ladang yang umurnya lumayan panjang tersebut.
Konsepsi padi ladang bagi masyarakat Talang Mamak, bukan hanya soal padi atau beras sebagai bahan makanan sehari-hari. Lebih dari itu, padi ladang menjadi salah satu syarat dalam pengobatan tradisional mereka, juga kegiatan lainnya. Untuk hal-hal itu, beras yang dimasak dan dimakan harus benar-benar hasil panen dari ladang. Padi ladang juga digunakan untuk makan para petinggi adat. Namun, belakangan, ada perubahan. Ketika padi ladang gagal atau sudah mulai berkurang, mereka bisa menerima beras lain untuk makan mereka, termasuk beras yang beredar di pasaran. Menurut Raudal, dari sini terlihat kompromi mereka dengan perkembangan zaman.
“Ini sebenarnya problematik. Lahan untuk menanam padi ladang sudah terbatas. Tak boleh lagi membuka lahan dan membakarnya. Pola mereka berkebun akhirnya berubah. Pembakaran sudah berubah. Saya menulis tentang perubahan itu, juga bagaimana pentingnya padi ladang untuk ritual tradisional mereka, dengan harapan pemerintah memberi kebijakan masih boleh membakar lahan karena mereka punya metode membakar yang tak berbahaya,” jelas penulis cerpen “Cerobong Tua Terus Mendera” yang menjadi cerpen terbaik Majalah Horison tahun 2004 ini.
Dalam diskusi tersebut, Raudal juga bicara tentang air sebagai tempat masyarakat Talang Mamak mencari kehidupan. Sekarang sudah banyak ikan asli sungai --misalnya sungai Batang Gangsal-- habis dan mereka makan ikan dari kolam yang dijual di pasar. Mereka yang kehidupan sehari-hari sebelumnya mencari ikan di sungai, akhirnya juga kehilangan mata pencarian.
“Mereka ingin mendapatkan hak dan keadilan seperti masyarakat lain. Mereka juga ingin ada jalan yang layak penghubung dari kampung mereka ke daerah lain agar ekonomi mereka juga tumbuh seperti masyarakat lainnya. Semoga tulisan-tulisan saya nanti bisa dibukukan secepatnya,” kata lelaki yang pernah menggagas terbitnya Jurnal Cerpen dan Konggres Cerpen Indonesia (KCI) ini.
Potensi Batik Talang Mamak
Salah satu yang menarik yang dilakukan oleh PPAB adalah program pemberdayaan masyarakat di Talang Mamak yang melibatkan para wanita di sana. Salah satu yang dilakukan adalah menggali potensi ekonomi, yakni produk batik khas Talang Mamak. Saat ini, di Riau, beberapa daerah telah membangun potensi batik mereka. Misalnya batik khas Siak, batik Bono khas Pelalawan, dll. Pemikiran tentang batik ini muncul saat diskusi di tim PPAB dengan Raudal dan Ida. Awalnya, Ida ikut Raudal ke Talang Mamak untuk mengajarkan anak-anak muda di sana menulis puisi. Ida sendiri merupakan salah satu penyair perempuan Indonesia yang karyanya sudah dimuat di berbagai media dan dibukukan.
Saat berada di antara anak-anak muda yang belajar menulis puisi, Ida juga belajar memahami filosofi kehidupan sehari-hari masyarakat Talang Mamak. Lalu dia fokus pada filosofi dari simbol-simbol saat pengobatan tradisional, ritual jaga bumi, dan yang lainnya, yang masih memasukkan unsur animisme, meski banyak dari mereka yang sudah beragama resmi. Dari sini, muncul ide tentang motif batik Tolak Bala itu. Lalu, dia juga menyelami budaya padi ladang yang bukan hanya tentang persoalan makanan, tetapi juga pada ritual-ritual yang melibatkan padi ladang itu. Dari situlah ide untuk membuat motif Padi Ladang muncul.
Sambil mengajarkan cara menulis puisi, Ida kemudian mengajarkan mereka mencanting atau membatik. Dia memberi pemahaman tentang warna, bagaimana membiasakan motorik tangan, kemahiran mencanting yang juga merupakan sebuah “ritual” pelepasan emosi, termasuk berpikir tentang konsep desain.
“Ternyata mereka lebih senang belajar mencanting ketimbang menulis puisi,” kata Ida.
Tetapi, kata perempuan kelahiran Bali ini, mencanting memang tidak mudah dan harus sabar. Maka, mereka yang ikut belajar harus tabah saat mencanting. Dia ingin mereka secara berkelanjutan belajar canting. Filosofi lereng di ladang, misalnya, dipakai sebagai makna yang berkelanjutan, tidak punah, dan kuat. Padi ladang itu tahan banting, tahan penyakit, dan tak perlu banyak air. Dari sanalah kemudian konsep Ladang Padi itu.
Kemudian, Tolak Bala diambil dari filosofi rajah mereka dalam kehidupan sehari -hari, terutama dalam pengobatan. Ida menjelaskan, tolak bala seperti pagar tentang empat mata angin. Pagar untuk menahan serangan dari luar dan dari diri sendiri. Arti pentingnya selamat dunia akhirat. Ada simbol baik dan buruk, sebagai sebuah keseimbangan dan pengendalian diri.
“Saya bersyukur, ide-ide itu akhirnya menjadi karya batik yang unik khas Talang Mamak. Ini berpotensi dalam bidang ekonomi yang harus dikembang, dan harus tetap dikawal. Bila basis pelatihan nanti sudah kuat dan siap berproduksi, batik akan diproduksi secara massal untuk membantu ekonomi mereka,” ujar Ida.***
Editor : Bayu Saputra