SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) - Festival Perang Air sempena Perayaan Imlek di Kepulauan Meranti dimulai, Rabu (29/1) sore. Sejumlah ruas jalan di Selatpanjang, pusat Kabupaten Kepulauan Meranti dipenuhi ribuan warga saling siram. Rute festival melingkar di Kecamatan Tebingtinggi.
Ruas jalan yang dilewati, mulai dari Jalan Kartini, Imam Bonjol, Ahmad Yani, Tebingtinggi, dan Jalan Diponegoro satu arah diikuti oleh semua kalangan usia yang berasal dari seluruh suku, ras dan agama. Artinya tidak hanya warga Tionghoa.
Tokoh Masyarakat Tionghoa Tjuan An mengatakan, semua etnis melebur jadi satu dalam festival yang kerap mereka sebut cian cui (perang air) sempena Imlek kali ini. “Semua melebur. Tidak hanya warga Tionghoa. Semua etnis bersama sama ikut,” ungkapnya.
Semarak hari pertama festival yang akan berlangsung tujuh hari berturut-turut itu bentuk dari kerinduan masyarakat. Pasalnya, festival ini sempat ditiadakan karena pandemi. ‘’ Semarak bentuk kerinduan masyarakat karena sempat tertunda beberapa tahun silam,’’ ujarnya.
Bupati Kabupaten Kepulauan Meranti H Asmar menyambut baik atas terlaksananya perang air kali ini. Puncak festival kata dia akan dibuka, Kamis (30/1) hari ini menjadi suatu keharusan. Alasannya, festival tersebut merupakan satu bukti jika Kepulauan Meranti kaya dengan keberagaman budaya yang mempesona sehingga menjadi pemikat tersendiri bagi wisatawan luar.
Bahkan dirinya mengklaim tingkat kunjungan wisatawan hingga hari akhir tidak kurang dari puluhan ribu orang. “Puluhan ribu gambarannya. Biasanya itu hari ketiga kedatangan besar. Bahkan semua tingkat hunian kamar hotel penuh oleh pesanan,” ungkapnya.
Artinya kata dia, akan terjadi geliat ekonomi yang cukup tinggi berlangsung hingga hari akhir mendatang. Bahkan setelah festival akan ada kirap budaya. Setidaknya, dihitung paling kecil, puluhan miliar uang yang beredar.
Hitungan kasar ini mengingat jumlah wisatawan yang datang ke Meranti, baik itu turis lokal maupun mancanegara untuk menikmati berbagai macam kegiatan yang menjadi tradisi masyarakat beretnis Tionghua.
Dari hitungan kasarnya, paling sedikit wisatawan yang berkunjung sebanyak 15.000 ribu orang dan mereka berada di Selatpanjang selama tujuh hari.
‘’Kita hitung kecil saja per orang makan Rp100 ribu saja dalam sehari, kalikan 4 ribu orang terus dikalikan selama seminggu mereka berada di Selatpanjang, apa ngak puluhan miliaran uang yang beredar? Ini baru kita hitungan kasar saja,’’ bebernya.
Geliat ekonomi terasa hingga ke level ekonomi bawah. Terutama pekerja becak yang seharinya bisa dapat penghasilan tambahan sebesar Rp400 ribu. Apalagi penginapan, restoran dan kafe.
“Dampak pertumbuhan ekonomi pasti terjadi. Sehari itu puluhan milliar uang yang berputar di Kepulauan Meranti dampak perayaan imlek. Makanya kita dukung ini dengan sejunlah acara besar, seperti Festival Lampion dan Perang Air,” ungkapnya.
Ratusan Personel Siaga
Seluruh unsur petugas pengamanan di Kepulauan Meranti turun ke titik-titik rawan ketika berlangsungnya Imlek dan Festival Perang Air di Kepulauan Meranti.
Bahkan pengaman berlangsung jauh sebelum tibanya perayaan, seperti arus kunjungan dalam mengantisipasi lonjakan arus penumpang hingga penjagaan vihara dan kelenteng.
Kapolres AKBP Kunia Setyawan SH SIK mengatakan, pengamanan tidak hanya terhadap vihara dan klenteng yang ada di pusat kabupaten, tapi tersebar di Kepulauan Meranti. Seperti 28 titik di Kecamatan Tebingtinggi, 1 Pulau Merbau, 4 Tasik Putropuyu, 1 Merbau, 2 Rangsang, dan 1 di Kecamatan Rangsang Pesisir.
“Seluruh tempat ibadah telah di plotting personel Polres dan Polsek jajaran bersama dengan instansi terkait. Kita juga memastikan kedatangan dan keberangkatan penumpang di Pelabuhan Penumpang Tanjung Harapan berjalan dengan aman dan lancar,” tuturnya.
Tidak hanya itu, dalam pelaksanaan perang air, puluhan personel gabungan juga ditempatkan di sejumlah ruas jalan. Terutama pusat festival yang melalui Jalan Ahmad Yani, Diponegoro, Kartini, dan Imam Bonjol, dengan pola satu arah. “Semua persimpangan dijaga ketat. Hingga kini seluruh rangkaian dapat terkendali aman dan kondusif,” ujarnya.(wir)
Editor : Rindra Yasin