Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Cek Kesehatan Gratis Ungkap Wajah Kesehatan Indonesia. Ternyata 1 dari 10 Orang Mengidap Diabetes

Redaksi • Minggu, 19 Oktober 2025 | 10:48 WIB

Sejumlah warga melakukan cek kesehatan di Puskesmas Pulogadung, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sejumlah warga melakukan cek kesehatan di Puskesmas Pulogadung, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ada berbagai program unggulan di era setahun pemerintahan Prabowo Subianto. Salah satunya adalah cek kesehatan gratis (CKG). Selama delapan bulan berjalan, pendaftar CKG mencapai 44,9 juta jiwa. Namun yang benar-benar menyelesaikan layanan sebesar 31,5 juta jiwa.

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - BERDASAR data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), mayoritas yang melakukan CKG adalah penduduk usia sekolah atau 7 tahun sampai 17 tahun. Setelah itu baru usia 40 sampai 59 tahun. Program ini sudah ada di 510 kabupaten/kota di 38 provinsi. Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah peserta terbanyak.

“Angka harapan hidupnya (orang Indonesia, Red) itu mencapai 71 tahun,” kata Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono. CKG menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan angka harapan hidup. Dengan mengidentifikasi penyakit, maka pemetaan kesehatan Indonesia akan berjalan dengan baik. CKG bisa melihat mana penyakit yang menyebabkan kematian terbanyak.

Dante mengatakan, dalam sehari CKG bisa melayani 600 ribu orang. Berdasar hasil skrining, diketahui bahwa berat badan bayi baru lahir rendah menjadi masalah pada kelompok usia balita. Lalu, untuk anak usia prasekolah dan sekolah, kesehatan gigi perlu mendapatkan perhatian. “Kurangnya aktivitas fisik juga bermasalah pada anak-anak sekolah. Ini yang harus kita perhatikan,” tuturnya.

Dokter spesialis penyakit dalam itu menyebut, kurangnya aktivitas fisik bisa memicu munculnya sejumlah penyakit. Selain itu, tubuh yang minim gerak sering menjadi biang obesitas. Memang, Indonesia mengalami masalah tengkes sekaligus obesitas pada usia anak. Karena itu, intervensi gizi diperlukan.

Pada kelompok usia dewasa, sepertiganya mengalami obesitas. Dante mengungkapkan, tanpa pengecekan, sebenarnya bisa diketahui apakah seseorang itu obesitas atau tidak. Ini dilihat dari lingkar perut. Untuk laki-laki, lingkar perut maksimal 90 cm. Sedangkan perempuan 80 cm. “Lebih dari itu berarti berisiko menjadi penyakit jantung,” katanya.

Dari CKG juga diketahui bahwa diabetes menjadi momok. Temuannya ada 10,1 persen mengalami diabetes. Artinya, satu dari 10 orang di Indonesia mengalami diabetes. “70 persen di antaranya belum tahu kalau sebelumnya (sebelum tes, Red) menderita diabetes,” ungkapnya.

Dante mengungkapkan, mengetahui penyakit secara dini lebih baik. Daripada mengetahui setelah ada gejala. “Sebelum kena stroke, sebelum jantung, atau sebelum cuci darah,” katanya. Skrining kesehatan juga dapat melihat potensi kesehatan masyarakat dalam 10 tahun ke depan. Potensi penyakit juga dapat terlihat dari hasil CKG.

Dia tidak khawatir jika kunjungan di puskesmas akan naik. Sebab, sudah ada kesadaran bagi mereka yang memiliki risiko penyakit. “Teruslah memulai hidup sehat,” ucapnya.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, pada awalnya target CKG adalah 1 juta orang perhari. Dengan demikian, hingga akhir 2025 bisa dilakukan skrining pada 50 juta orang. Kemenkes mencoba beberapa cara agar cakupan semakin banyak. Awalnya, CKG menjadi hadiah bagi warga yang berulang tahun. Namun, kebijakan tersebut kini tidak diterapkan lagi. Sebagai gantinya, muncul wacana CKG akan dilakukan di kantor-kantor. Alasannya, pemeriksaan kesehatan di puskesmas hanya bisa dilakukan saat jam kerja. Itu berarti mereka yang masih bekerja harus mengajukan cuti. “Ini merupakan salah satu program terbesar yang sedang dilakukan pemerintah,” katanya.

Karies Gigi dan Diabetes Mendominasi

Sejumlah daerah pun berlomba mengejar target. Di Kota Tangerang Selatan, pemkot menargetkan 36 persen dari total 1,4 juta penduduk bisa mendapatkan layanan tersebut pada tahun ini. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar mengungkapkan, hingga 12 Oktober 2025, sebanyak 342.322 warga dan pelajar telah memanfaatkan layanan CKG. Berbagai penyakit dan kondisi kesehatan terdeteksi melalui program ini. Antara lain, tekanan darah tinggi, anemia, risiko jantung, kanker usus, kanker paru, hepatitis, tuberkulosis (TB), dan hipotiroid kongenital. Lalu, gejala depresi, gula darah (diabetes), penyalahgunaan napza, kanker leher rahim, thalasemia, PPOK, hingga kanker payudara.

“Untuk masyarakat umum, kasus terbanyak yang kami temukan adalah hipertensi dan risiko strok,” ungkap Allin. Dinkes tidak hanya membuka layanan di puskesmas, tapi juga jemput bola sesuai permintaan warga. Meski berlangsung di berbagai fasilitas kesehatan, Allin memastikan tidak ada kendala berarti terkait alat kesehatan di Puskesmas.

Program ini juga menyasar kalangan pelajar. Pemeriksaan kesehatan gratis di sekolah dimulai pada 4 Agustus 2025 dengan total sasaran 302.933 siswa dari jenjang SD hingga SMA. Hingga kini, penerima sudah mencapai 132.688 siswa (43,8 persen).

Rinciannya, sasaran siswa SD sebanyak 167.029 orang telah tercapai 91.522 siswa (54,8 persen). Untuk SMP, dari 68.664 siswa, baru 29.136 orang (42,4 persen) yang diperiksa. Sedangkan di tingkat SMA, capaian masih 12.010 dari 67.240 siswa (17,86 persen).

Allin mengakui beberapa hambatan teknis masih terjadi pada proses input data ke aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK). “Masalahnya biasanya pada Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang tidak sesuai, ada juga sekolah yang belum bisa memberikan NIK. Tapi ini masih berproses,” tuturnya.

Dari hasil pemeriksaan di sekolah, karies gigi menjadi masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan pada pelajar. Sekitar 15 persen siswa mengalami masalah pada gigi. “Kalau di sekolah itu kebanyakan karies gigi. Kemudian ada juga anemia, tapi masih di bawahnya, jadi gigi paling banyak masalahnya,” imbuhnya.

Sementara itu, di DKI Jakarta, target CKG tahun ini ada 4.037.885 orang yang terskrining. Hingga 12 Oktober, sudah separonya atau 2.027.558 orang yang terskrining. Wakil Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Octavia menyebutkan, CKG sudah menyentuh semua segmen kehidupan. “Kami gabungkan upaya kesehatan yang menyentuh masyarakat, kami coba kerjakan bareng. Untuk di puskesmas, digerakkan masuk ke kantor. Tidak hanya perumahan,” ucapnya. Dwi ingin program ini dapat dirasakan seluruh masyarakat.

Sebelum ada program CKG, DKI Jakarta sudah melakukan program skrining. Dwi menyebut program skrining pemda tidak selengkap CKG. Untuk itu, CKG bisa melengkapi. “Untuk Jakarta, penyakit tidak menularnya semakin banyak,” tuturnya. Dwi mencontohkan diabetes dan hipertensi yang mendominasi. Bahkan 95 persen terdeteksi kurang aktivitas fisik. Lalu, ada 75,45 persen yang memiliki kadar lemak berlebih. Karena itu, Dinkes DKI Jakarta mengajak warga untuk bergerak. Tujuannya agar masyarakatnya memiliki postur tubuh yang ideal dan sehat.(mim/ria/lyn/oni/muh)

Editor : Bayu Saputra
#kemenkes ri #cek kesehatan #diabetes #Program CKG