Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

RMB Jadi Mata Uang Global

Redaksi • Kamis, 11 Oktober 2012 - 15:56 WIB
JAKARTA (RP) - Superioritas trio dolar Amerika Serikat (USD), Euro (EUR), dan Pound Sterling (GBP) sebagai mata uang global kini mulai digoyang.

Adalah Renminbi (RMB), mata uang Cina, yang kini siap merangsek sebagai kekuatan baru di perdagangan internasional. Para pebisnis, termasuk di Indonesia, kini harus mulai bersiap.

Regional Head of Global Trade and Receivables Finance HSBC Asia Pacific, Simon P Constantinides mengatakan, sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia, peran Cina dalam perdagangan global akan meningkat.

“Dalam hitungan beberapa tahun lagi, RMB akan menjadi mata uang ke tiga yang paling banyak digunakan di perdagangan dunia, menggeser GBP. Urutan pertama masih USD dan kedua EUR,” ujarnya dalam iven Internationalisation of Renminbi Opportunities & Challenge di Jakarta, Rabu (10/10).

Simon menyebut, pemerintah dan para pelaku usaha Cina kini memang getol mendorong menggunaan RMB dalam perdagangan internasional.

Sebagai gambaran, pada 2010, settlement perdagangan internasional Cina yang tercatat di Hongkong sebesar RMB 369 miliar.

“Pada 2011, nilainya naik lipat lima menjadi RMB 3,7 triliun,” katanya. Sebagai gambaran, saat ini nilai tukar RMB 1 sama dengan Rp1.500-an.

Menurut Simon, nilai perdagangan internasional Cina yang menggunakan RMB akan terus naik. Bahkan, HSBC memproyeksi, dalam kurun 2013-2015, sekitar 2 triliun dolar AS atau separo dari total perdagangan Cina dengan negara emerging market akan dilakukan dalam mata uang RMB.

“Tentu, Indonesia termasuk di dalamnya,” ucapnya.

Head of Global Market HSBC Indonesia, Ali Setiawan mengatakan, saat ini Cina merupakan partner dagang utama Indonesia. Ekspor ke Cina adalah yang terbesar di banding ekspor ke negara lain, demikian pula impor Indonesia dari Cina juga yang terbesar. Karena itu, semua pelaku bisnis di Indonesia harus siap-siap.

“Perdagangan internasional harus mengucapkan selamat datang pada Renminbi,” ujarnya.

Lalu, apa untungnya bagi pebisnis untuk beralih dari USD (dolar AS) kepada RMB? Ali mengatakan, tekad pemerintah Cina untuk mengglobalkan RMB (internationalisation of RMB) akan mendorong apresiasi RMB terhadap mata uang lain, termasuk Rupiah.

“Selain itu, dengan cadangan devisa yang sangat kuat, pemerintah Cina bisa melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas RMB, sehingga risiko fluktuasi nilai tukar sebagaimana yang sering dialami pebisnis dengan dolar AS bisa diredam,” jelasnya.

Penggunaan RMB dalam perdagangan antara Cina-Indonesia juga akan memangkas biaya nilai tukar dan proses administrasi. (owi/sar) Editor : RP Redaksi