TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) -- Peluang tradisi Pacu Jalur Kabupaten Kuansing bisa mendapatkan pengakuan dari Unesco sebagai bagian warisan tradisi dan budaya dunia yang ada, tipis.
Sebab, untuk bisa mendapatkan pengakuan sebagai warisan tradisi dan budaya dunia yang ada itu, tidak saja butuh dari kesiapan dokumen dan dukungan dalam negeri, tetapi harus mendapatkan dukungan dari negara lain yang memiliki kesamaan tradisi dan budaya dengan Pacu Jalur, milik Kabupaten Kuansing.
Sementara sejauh ini, Unesco baru mengakui tradisi Perahu Naga yang ada di negara Tiongkok (Cina), yang memiliki kesamaan dengan tradisi Pacu Jalur dan bentuk perpacuan menggunakan perahu skala besar.
Baca Juga: Pemkab Bengkalis Siapkan Pinjaman Infrastruktur Rp600 Miliar
Makanya, dalam usulan Pemkab Kuansing ke Menteri Kebudayaan RI Fadlizon pada tahun 2025 lalu, meminta agar negara Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan RI, bisa melakukan pendekatan ke negara Tiongkok, agar Pacu Jalur ini bisa didorong diakui Unesco sebagai salah satu warisan tradisi dan budaya dunia yang masih ada sampai sekarang.
"Kendala kita hanya disitu. Harus ada dukungan dari negara yang memiliki tradisi dan budaya serupa dengan Pacu Jalur yang sudah diakui. Satu-satunya baru Perahu Naga asal Tiongkok," ungkap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kuansing, Ir Emmerson pada Riaupos.co, kemarin.
Emmerson menjelaskan, sebagai langkah untuk bisa mendapat pengakuan Unesco, di tahun 2025 lalu Pemkab Kuansing sudah menyampaikan tentang tradisi Pacu Jalur. Mulai dari sejarah, pembuatan jalur sampai pelaksanaan iven.
Baca Juga: Realisasi Pajak Daerah Tembus Rp1,04 Triliun, Bapenda Kejar Target Rp1,3 T
Pacu Jalur sudah tidak asing lagi bagi wisatawan lokal maupun internasional. Buktinya, banyak wisatawan mancanegara negara yang datang ke Kabupaten Kuansing untuk menyaksikan iven Pacu Jalur. Puncaknya di tahun 2025 lalu yang viral sehingga mengundang wisatawan dari berbagai negara maupun para youtuber manca negara.
Meski peluang untuk bisa mendapatkan pengakuan dari lembaga dunia Unesco itu tipis, Pemkab Kuansing tetap terus berupaya mendorong Kementerian Kebudayaan RI. Selain itu, untuk bisa tercatat sebagai warisan dunia di Unesco, tidaklah mudah. Banyak persyaratan yang harus dipenuhi dan butuh proses yang panjang.
"Mudah-mudahan di tahun-tahun ke depan, impian ini bisa diakui Unesco sebagai warisan tradisi dan budaya yang lahir di Kabupaten Kuansing, Riau," ujar Emmerson.
Editor : Rinaldi