Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Dari Lahan Terbengkalai Menjadi Harapan, Telaga Air Merah Bertahan dan Lestari

Wira Saputra • Minggu, 28 Desember 2025 | 13:41 WIB
Warga berekreasi di Telaga Air Merah Desa Tanjung Tebingtinggi Barat, Kepulauan Meranti.
Warga berekreasi di Telaga Air Merah Desa Tanjung Tebingtinggi Barat, Kepulauan Meranti.

SELAT PANJANG (RIAUPOS.CO) - Pagi di Dusun Tanah Merah selalu datang dengan sunyi yang khas. Kabut tipis menggantung di atas permukaan air berwarna kemerahan, memantulkan bayang pepohonan gambut yang tumbuh setia di sekelilingnya. Siapa sangka, telaga yang kini ramai dikunjungi itu dulu hanyalah kolam air terbengkalai, sunyi, kotor, dan nyaris terlupakan.

Di tengah krisis global akibat pandemi Covid-19, ketika banyak usaha wisata gulung tikar dan pintu-pintu harapan tertutup rapat, sekelompok pemuda Desa Tanjung, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, justru memilih melawan arus. Mereka menghidupkan Telaga Air Merah bukan dengan modal besar, melainkan dengan gotong-royong dan keyakinan.

Telaga Air Merah awalnya hanyalah kolam penampungan air gambut yang sudah lama tak difungsikan. Rumput liar tumbuh tinggi, airnya keruh, dan tak ada yang menyangka tempat itu bisa menjadi destinasi wisata. Namun para pemuda desa melihat sesuatu yang berbeda yakni, potensi.

Setiap akhir pekan, mereka datang membawa parang, cangkul, dan bekal seadanya. Tak ada upah, tak ada janji keuntungan cepat. Yang ada hanya kerja bersama, tangan kotor oleh lumpur, dan semangat menjaga apa yang mereka miliki.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sekaligus pengurus BUMDes Desa Tanjung, Selamat Riyadi, masih mengingat masa-masa itu dengan jelas.

“Kami bekerja dengan niat dan keikhlasan. Kadang cuma minum air putih, makan roti. Tapi kami yakin, tempat ini bisa hidup dan bermanfaat,” kenangnya, Sabtu (27/12).


Rencana pembukaan Telaga Air Merah sebenarnya sudah disusun sejak akhir 2019. Namun pandemi datang lebih cepat dari kesiapan siapa pun.

Aktivitas dibatasi, ekonomi tersendat, dan ketidakpastian menjadi keseharian. Meski begitu, para pemuda tidak menyerah. Pada Juni 2020, di tengah keterbatasan, Telaga Air Merah akhirnya dibuka secara sederhana.

Tak ada seremoni besar. Hanya keyakinan bahwa alam yang dijaga dengan tulus akan membalas dengan caranya sendiri.

Pelan tapi pasti, Telaga Air Merah menemukan pengunjungnya. Dari mulut ke mulut, dari unggahan media sosial sederhana, namanya mulai dikenal. Kini, saat musim libur sekolah, Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru, telaga ini dipadati wisatawan. Dalam satu pekan, jumlah pengunjung bisa mencapai 2.000 hingga 2.500 orang.

Dampaknya terasa nyata. Berdasarkan Musyawarah Pertanggungjawaban BUMDes tahun 2024, pengelolaan Telaga Air Merah mencatat pendapatan Rp129 juta dan menyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes) sebesar Rp52 juta, melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Bagi warga Dusun Tanah Merah, angka-angka itu bukan sekadar statistik. Ia berarti dapur yang tetap mengepul. Setidaknya tujuh kios makanan dan minuman kini berdiri di sekitar telaga, menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga-keluarga setempat.

Kepala Desa Tanjung, Muhammad Anas, menyebut Telaga Air Merah sebagai contoh bagaimana aset desa bisa hidup jika dikelola dengan partisipasi masyarakat.

“Lahan ini dulu terbengkalai bertahun-tahun. Sekarang, berkat inisiatif pemuda dan dukungan warga, Telaga Air Merah menjadi sumber pendapatan desa sekaligus ruang rekreasi,” ujarnya.

Namun bagi para pengelola, pertumbuhan wisata bukan tujuan akhir. Sejak awal, mereka sepakat bahwa Telaga Air Merah harus tumbuh tanpa merusak alam gambut yang rapuh. Kerja bakti rutin dilakukan, sampah dikelola terpisah, dan pembangunan dibatasi agar tidak mengubah kontur alami.

“Setiap wahana dibangun dengan prinsip ramah lingkungan. Tidak ada pengerukan berlebihan, tidak ada penebangan pohon sembarangan,” tegas Selamat.

Papan edukasi lingkungan dipasang, petugas disiagakan, dan pengunjung diimbau menjaga kebersihan serta dilarang membuang sampah ke perairan telaga. Bagi mereka, menjaga alam adalah syarat mutlak agar Telaga Air Merah tetap hidup.

Kini, lebih dari tujuh tahun sejak pertama kali dibersihkan dengan tangan kosong dan keyakinan sederhana, Telaga Air Merah menjelma menjadi simbol ketangguhan desa. Ia menjadi bukti bahwa dari lahan yang nyaris dilupakan, harapan bisa tumbuh asal dirawat bersama.

Di tepian telaga itu, para pemuda Desa Tanjung belajar satu hal penting yakni, membangun bukan sekadar mencipta ruang wisata, tetapi menanam warisan bagi generasi yang akan datang.(nda)

Editor : Bayu Saputra
#lingkungan #kepulauan meranti #meranti