RIAUPOS.CO - Setelah dikecam publik karena dinilai perundungan terhadap penyandang disabilitas, seorang guru di Kabupaten Morowali Utara akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Sebelumnya, video dirinya yang mengejek seorang remaja tuna wicara viral di media sosial hingga menuai kritikan netizen.
Sang guru menyampaikan permintaan maaf kepada korban bernama Cahyo, siswa SMK Negeri 1 Rembang, serta kepada pihak sekolah tempat korban menempuh pendidikan.
Guru pria tersebut mengaku sangat menyesali perbuatannya dan menyatakan tindakannya dilakukan dalam kondisi khilaf.
“Saya benar-benar menyesal dan meminta maaf sebesar-besarnya kepada Cahyo dan keluarganya. Tidak ada niat sedikit pun untuk merendahkan atau menghina,” ujar guru tersebut, dilansir dari instagram @fakta_indo.
Guru itu juga menyampaikan permohonan maaf kepada pihak SMK Negeri 1 Rembang atas kegaduhan yang ditimbulkan akibat perbuatannya.
Ia mengugkapkan, tindakan yang dilakukan saat itu tidak mencerminkan sikap seorang pendidik yang seharusnya memberi contoh baik kepada masyarakat.
“Saya sadar perbuatan saya tidak pantas dilakukan oleh seorang guru. Saya menerima semua kritik dan akan menjadikannya sebagai pelajaran,” ucapnya.
Sebelumnya, video guru tersebut beredar luas setelah menampilkan dirinya menirukan cara berbicara Cahyo sambil tertawa saat melakukan siaran langsung di media sosial.
Dalam video itu, aksi sang guru dinilai melecehkan dan merendahkan kondisi korban sebagai penyandang tuna wicara.
Tak pelak video tersebut dengan cepat menyebar dan memantik kecaman netizen yang mengkritik tindakan tersebut karena dianggap tidak berempati dan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan serta etika profesi pendidik.
Tak sedikit pula yang mendesak agar pihak berwenang memberikan sanksi tegas.
Kasus ini juga memicu diskusi publik mengenai pentingnya perlindungan terhadap penyandang disabilitas, terutama dari tindakan perundungan di ruang digital.
Masyarakat menilai bahwa figur pendidik seharusnya menjadi garda terdepan dalam menanamkan nilai saling menghormati dan inklusivitas.
Sementara itu, pihak keluarga korban menyampaikan harapan agar kejadian serupa tidak terulang kembali, baik terhadap Cahyo maupun penyandang disabilitas lainnya.
Mereka berharap permintaan maaf tersebut diikuti dengan kesadaran dan perubahan sikap yang nyata.
Editor : M. Erizal