Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Ade Suhendra, Pelatih Terbaik Liga 2 Tahun 2025/2026, “Anak Riau Berpotensi, Berikan Kepercayaan”

Denny Andrian • Jumat, 15 Mei 2026 | 10:08 WIB
Ade Suhendra saat menerima penghargaan pelatih terbaik Liga 2 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Sabtu (9/5/2026) lalu. (ISTIMEWA)
Ade Suhendra saat menerima penghargaan pelatih terbaik Liga 2 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Sabtu (9/5/2026) lalu. (ISTIMEWA)

 
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Sabtu (9/5) malam di Stadion Maguwoharjo, Sleman menjadi yang spesial bagi Ade Suhendra. Saat itu, suasana stadion gegap gempita oleh sorak-sorai perayaan akhir musim Liga 2 Pegadaian Championship 2025/2026. Satu per satu penghargaan mulai diumumkan. Di tengah riuh tepuk tangan, namanya  dipanggil. Ia dinobatkan sebagai pelatih terbaik Liga 2 musim ini.

Pria yang sejak berumur 9 tahun dibesarkan di Duri, Bengkalis, Riau ini berjalan menuju podium. Wajahnya tetap tenang. Beberapa hari sebelumnya, pria yang oleh rekan seangkatannya di Riau akrab dipanggil Ajo ini, baru saja membawa Adhyaksa FC menembus Super League setelah menang dramatis 1-0 atas Persipura Jayapura.

Jauh sebelum berdiri di atas panggung penghargaan tersebut, Ade hanyalah seorang pemain gelandang pekerja keras yang dikenal dengan long passing-nya terukur. Ia berpindah dari satu kota ke kota lain dan dari satu tim ke tim lain. Namun, nama Ade Suhendra cukup dikenal di persepakbolaan Riau, khususnya Pekanbaru. 

Pria kelahiran Lampung 7 Mei 1983 ini pernah ikut Pekan Olahraga Daerah (Porda) Riau tahun 2002 dan membela Riau pada Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) tahun 2003. Bahkan, tahun 2005 Ade Suhendra menembus skuad PSPS Pekanbaru.

Beberapa musim bersama PSPS, Ade memutuskan merantau. Pria yang berposisi sebagai gelandang saat aktif bermain ini membela tim-tim besar Liga Indonesia. Seperti Persija, Sriwijaya FC, Persiba Balikpapan, Madura United, Mitra Kukar, Persita, Persikad, Persika, PSIM, Cilegon United, dan Dewa United. Tahun 2021, Ade memutuskan gantung sepatu sebagai pemain sepakbola dan fokus melatih.

Baca Juga: Pantau Hilal Awal Zulhijah di Pantai Selat Baru

Dari perjalanan panjang itu, Ade belajar memahami sepakbola dari berbagai sisi. Bagaimana bekerja keras, seperti apa bertahan, dan lainnya. Ketika karier bermainnya selesai, Ade turun ke lapangan-lapangan kecil, melatih anak-anak usia dini di Farmel FC Banten.

Dari sini Ade Suhendra, belajar sesuatu: kesabaran. Ia belajar membentuk karakter sebelum membentuk strategi. Ajo tidak hanya ingin timnya menang. Ia ingin pemainnya mengerti cara bangkit saat tertinggal, tetap tenang dalam tekanan, dan memahami permainan dengan kepala dingin.

Dari lapangan usia muda itulah namanya mulai tumbuh. Membawa Farmel FC U-13 juara Liga Topskor tanpa kekalahan, juara Singa Cup Singapura, dan juara 3 Gothia Cup Swedia. Setelah itu, Adhyaksa Farmel memberinya kesempatan menangani tim senior. 

Awalnya, banyak yang ragu. Sebab pengalamannya sebagai pelatih kepala di level profesional nyaris belum ada. Tapi manajemen melihat sesuatu berbeda: Ade tahu bagaimana membangun tim. Dan kepercayaan itu dibayar lunas.

Ia membawa Adhyaksa Farmel juara Liga 3 Nasional 2023/2024 sekaligus promosi ke Liga 2. Lalu di musim 2025/2026, Adhyaksa benar-benar menjelma menjadi tim yang sulit dikalahkan. Mereka hanya kalah empat kali. Sisanya 14 kemenangan dan sembilan hasil imbang didapatkan. Mereka lolos ke semifinal. 

Meski gagal di melaju ke final, harapan untuk promosi ke Liga Super masih terbuka. Namum, jalan terjal sudah menunggu di Jayapura. Ya, Adhyaksa menghadapi Persipura di Stadion Lukas Enembe yang selalu menjadi momok bagi tim tamu. 

Persipura berdiri dengan sejarah dan tekanan suporternya sendiri. Banyak tim datang ke sana dengan rasa gentar. Namun, Ade dan timnya tetap tenang. Adhyaksa pun menang 1-0 dan lolos ke promosi ke kasta tertinggi sepakbola Indonesia.

Baca Juga: Wako Agung Nugroho Pastikan Dukung hingga Tingkat Nasional, Buka Piala Dunia Anak Regional Riau

Saat pemain larut dalam selebrasi, Ade tersenyum bahagia di pinggir lapangan. Seolah tak percaya denga napa yang telah ia raih. Keraguan, mimpi yang dulu terlihat terlalu jauh kini mulai mendekat. Masuk dalam jajaran pelatih tim nasional Indonesia pun dia impikan.

“Sejak kecil bermain sepakbola, semua pemain bermimpi menjadi pemain timnas. Begitu juga melatih, semua yang berkarier sebagai pelatih, pasti ingin menangani timnas Indonesia,” ujarnya

Itulah sebabnya ia tak berhenti belajar. Membentuk timnya pelan-pelan. Serta menjaga keyakinan bahwa kerja keras suatu hari akan menemukan jalannya sendiri. Meski demikian, Adet tetap merendah. ‘’Sebenarnya banyak pelatih di Riau yang berkualitas lebih baik dari saya. Tapi, mereka tidak diberikan kepercayaan penuh,’’ ujarnya.

‘’Anak-anak Riau berpotensi, baik pemain maupun pelatih. Jadi, berikan kepercayaan. Manajemen tim jangan terlalu berpikir ingin prestasi instan sehingga terlalu cepat memecat pelatih. Prestasi itu ada proses yang harus dijalani dan itu perlu waktu,’’ tambah pelatih berlisensi A ini.

Di balik semua pencapaian itu, ada satu nama klub yang tampaknya masih memiliki tempat khusus di hatinya, yakni PSPS. Ade bahkan tak menutup kemungkinan suatu hari kembali ke Kota Bertuah sebagai pelatih Askar Bertuah. 

“PSPS adalah klub profesional pertama saya sebagai pemain. Kalau ada kesempatan dan diberikan kepercayaan tentunya saya siap. Tapi, saat ini saya masih fokus bersama Adhyaksa. Ke depan kita belum tahu seperti apa perjalanannya,” katanya.*

Laporan DENNI ANDRIAN

 

Editor : Arif Oktafian
#ADE SUHENDRA #LIGA 2 TAHUN 2025/2026 #Sepak bola