80 Persen Susu MBG Wajib dari Peternak Lokal

Tim Redaksi • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 10:32 WIB
Murid kelas 4 C di SDN 115 Kota Pekanbaru menikmati hidangan menu program Makan Bergizi Gratis, beberapa waktu lalu.  Badan Gizi Nasional mewajibkan 80 persen susu di program MBG berasal dari susu segar produksi peternak lokal mulai 1 November 2026. (MHD AKHWAN/RIAUPOS)
Murid kelas 4 C di SDN 115 Kota Pekanbaru menikmati hidangan menu program Makan Bergizi Gratis, beberapa waktu lalu. Badan Gizi Nasional mewajibkan 80 persen susu di program MBG berasal dari susu segar produksi peternak lokal mulai 1 November 2026. (MHD AKHWAN/RIAUPOS)

ACEH (RIAUPOS.CO) - Badan Gizi Nasional (BGN) mewajibkan 80 persen susu yang dibagikan kepada siswa melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berasal dari susu segar produksi peternak lokal mulai 1 November 2026. Kebijakan ini ditujukan untuk memperluas penyerapan hasil peternakan dalam negeri sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak.

”Mulai 1 November tahun ini, susu yang dibagikan kepada anak-anak kita di sekolah harus sesuai dengan ketentuan yang kami putuskan, yakni 80 persen harus susu segar yang berasal dari peternak lokal,” ujar Kepala BGN Sudaryono saat menghadiri pelantikan Pengurus Dewan Pengurus Daerah (DPD) HKTI Provinsi Aceh, pada Selasa (13/10) lalu.

Menurutnya, kebijakan tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan usaha peternakan di berbagai daerah, termasuk wilayah yang memiliki potensi pengembangan peternakan sapi perah.

Baca Juga: Stok BBM Aman hingga 18 Hari ke Depan

Dengan demikian, keperluan pangan untuk program pemerintah dapat menjadi peluang ekonomi bagi produsen lokal sekaligus mendukung pemenuhan gizi masyarakat.

Ia menegaskan, penguatan keterlibatan peternak lokal perlu berjalan beriringan dengan upaya pemerintah meningkatkan produksi pangan nasional. Ketersediaan bahan pangan yang memadai menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan pelaksanaan MBG sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.

Selain penguatan penyerapan susu lokal, BGN juga tengah menyiapkan mekanisme pengadaan bahan pangan berbasis digital untuk mempertemukan dapur SPPG dengan produsen secara lebih langsung. Rencana tersebut ditujukan untuk meningkatkan transparansi harga dan memperkuat akses petani serta peternak terhadap pasar.

Baca Juga: Dilantik Prabowo, Letjen Kristomei Siap Benahi BNPB

”In sya Allah, mulai November atau Desember ini kami akan meluncurkan semacam marketplace di BGN. Dapur-dapur nantinya wajib membeli tujuh komoditas melalui marketplace secara daring sehingga harganya jelas dan sumber telur, ayam, serta dagingnya berasal dari peternak, termasuk melalui koperasi-koperasi peternak,” jelasnya.

Pria yang akrab disapa Mas Dar itu menilai, mekanisme tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperbaiki rantai pasok pangan, terutama ketika produsen di tingkat hulu belum selalu memperoleh harga yang sebanding dengan kondisi pasar.

Melalui sistem pengadaan yang lebih transparan, BGN berupaya memperkuat keterhubungan antara kebutuhan dapur MBG dan hasil produksi petani maupun peternak.

Baca Juga: PLN Kijang Pulihkan Pasokan Listrik Interkoneksi Batam-Bintan

Ia juga menyoroti pentingnya mengatasi praktik perantara yang berpotensi menekan harga di tingkat produsen. Menurutnya, pembenahan tata niaga harus dilakukan agar pelaksanaan MBG memberikan manfaat tidak hanya kepada penerima program, tetapi juga kepada pelaku usaha pangan di dalam negeri.

”Kita harus mengatasi persoalan yang ada. Praktik-praktik lama dengan mafia beras, mafia daging, dan sebagainya harus berubah. Kita ingin sistem yang tidak merugikan konsumen maupun produsen,” tegas Mas Dar.(jpg)

 

Editor : Arif Oktafian
Makan Bergizi Gratis Mbg badan gizi nasional