BANDA ACEH (RIAUPOS.CO) – Anggar kembali menambah pundi-pundi medali buat Kontingen Riau pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut 2024. Ahad (15/9), satu medali perak dan satu perunggu diraih. Dengan demikian maka anggar sudah menyumbangkan tiga emas, dua perak, dan 7 perunggu.
‘’Alhamdulillah, atlet kita meraih medali lagi meski bukan medali emas. Satu perak diraih dari beregu degen putri dan satu perunggu dari beregu floret putra,’’ ujar pelatih anggar Riau Zulkifli saat dihubungi Riau Pos, Ahad (15/9).
Lantas apakah ada kans menambah medali? ‘’Besok (hari ini, red) ada dua nomor lagi yakni degen beregu putra dan sabel beregu putri. Harapan untuk medali emas tetap ada, tapi persaingan cukup ketat, terutama dari tuan rumah,’’ ujarnya.
Sehari sebelumnya, anggar meraih emas ketiga dari nomor floret beregu putri yang diperkuat Nuril Aini dan Norhayati. Emas ketiga anggar ini sekaligus mencapai target yang dipatok. “Alhamdulillah, untuk target KONI sudah kita capai tiga medali emas,” ujar pria yang juga menjabat Sekretaris Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (IKASI) Riau ini.
Ia menuturkan, tentunya hasil tersebut sangat membanggakan dan juga menjadi berkah berkat doa masyarakat Riau. “Capaian ini menjadi berkah doa kita semua. Mohon doanya atlet-atlet kita yang bertanding sukses meraih medali,” ujar Zulkifli.
Tambahan medali dari anggar ini tak mempengaruhi posisi Riau di klasemen sementara perolehan medali PON XXI Aceh-Sumut 2024. Hingga pukul 14.28 WIB, Riau berada di posisi ke 12 dengan torehan 12 emas, 11 perak, dan 22 perunggu. Puncak klasemen diduduki Jakarta dengan 102 emas, 85 perak, dan 83 perunggu. Diikuti Jawa Barat di posisi kedua dengan 93 emas, 86 perak, dan 92 perunggu.
Erick Thohir Perintahkan Investigasi
Ricuh di pertandingan cabang olahraga sepakbola Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI 2024 antara Aceh melawan Sulawesi Tengah (Sulteng) berbuntut panjang. Kepemimpinan wasit Eko Agus Sugiharto dinilai kontroversial. Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) menegaskan akan melakukan investigasi terkait itu.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengaku kecewa berat atas pertandingan. ’’Memalukan. Sangat memalukan. PSSI akan mengusut tuntas peristiwa ini dan akan menjatuhkan sanksi terberat!,’’ tegas Menteri BUMN itu, Ahad (15/9).
Erick menyatakan, PSSI akan melakukan investigasi mendalam atas pertandingan babak delapan besar PON XXI itu. Investigasi itu dimulai dari kepemimpinan wasit yang dinilai penuh kejanggalan. Tak hanya wasit, PSSI juga akan menginvestigasi reaksi berlebihan yang dilakukan Muhammad Rizki, pemain Sulteng.
’’Pastinya akan dilakukan investigasi mendalam. Indikasi pertandingan yang tidak fair menjadi materi serius yang ditelaah. Pun halnya reaksi pemain yang dipastikan berbuah sanksi yang sangat berat,’’ tegas mantan presiden klub Inter Milan tersebut.
Erick menyatakan ada potensi sanksi hukum dan larangan seumur hidup bagi wasit Eko. Potensi sanksi serupa juga mengancam pihak-pihak lain jika terbukti mengatur hasil pertandingan. Termasuk, tidak ada justifikasi bagi pemain untuk melakukan aksi pemukulan.
’’Tidak ada toleransi bagi pihak yang telah dengan sengaja melanggar komitmen fair play. Sanksi bukan sekadar hukuman melainkan statement dari sepakbola Indonesia yang tidak menolerir sedikitpun praktik di luar fair play,’’ ujarnya.
Sementara itu, agar kualitas pertandingan semifinal sepakbola PON XXI 2026 meningkat, PSSI membuat keputusan penting. Wasit dari Liga 1 dan Liga 2 akan diterjunkan di perhelatan PON XXI.’’Semua wasit yang ditugaskan kemarin akan diganti dengan wasit terbaik Liga 1 dan Liga 2. Mereka akan memimpin pertandingan semifinal dan final di Aceh,’’ ujar Arya Sinulingga, anggota Komite Eksekutif PSSI.
Dalam pertandingan yang digelar Sabtu (14/9) tersebut, sedikitnya, terdapat empat keputusan kontorversial yang dibuat wasit Eko. Kontroversi pertama terjadi pada menit ke-75. Wasit Eko memberikan kartu merah kepada pemain Sulteng Wahyu Pori usai mengangkat kaki terlalu tinggi sehingga mengenai kepala pemain Aceh Hercules.
Padahal, sebelumnya, kejadian serupa terjadi pada pengujung babak pertama. Pemain Aceh Irza Rahmad mengangkat kaki hingga mengenai kepala pemain Sulteng Abdul Sabir di kotak penalti. Tapi, wasit Eko tidak meniup peluit.
Keputusan aneh berikutnya terjadi di menit ke-84. Pemain Sulteng Mohammad Akbar mendapat kartu merah setelah dianggap melakukan tekel keras. Para pemain Sulteng sempat melakukan protes keras. Pertandingan sempat dihentikan beberapa menit. Namun, wasit Eko tetap teguh dengan keputusannya.
Lalu, pada menit ke-97, dia memberikan hadiah penalti untuk Aceh setelah Muhammad Nur Mahyuddin dianggap dijatuhkan di kotak terlarang. Padahal, dalam tayangan ulang, Mahyuddin diduga diving.
Keputusan kontroversial wasit Eko nampaknya membuat pemain Sulteng marah. Puncaknya, saat Rizki, pemain Sulteng melayangkan bogem ke wasit Eko hingga terjungkal. Wasit Eko sempat mendapatkan perawatan di lapangan. Perawatan medis untuk wasit Eko bahkan sampai harus ditindaklanjuti dengan membawanya ke luar lapangan menggunakan ambulance. Pertandingan kemudian dilanjutkan dengan dipimpin wasit cadangan Fadil Nurdiana.
Usai pergantian wasit, pertandingan kembali dilanjutkan dengan tendangan penalti untuk Aceh. Penalti itu berhasil ditepis oleh kiper Sulteng Rexy. Namun, beberapa menit kemudian, Aceh kembali mendapatkan penalti usai pemain Sulteng melakukan handball di kotak terlarang. Kali ini, Akmal Juanda yang menjadi eksekutor berhasil menjalankan tugasnya. Skor pertandingan menjadi 1-1 dan harus dilanjutkan ke babak extra time. Tapi, Sulteng memilih untuk mengundurkan diri. Sehingga, Aceh dinyatakan lolos ke semifinal.
Laporan Radar Lampung (JPG), keputusan kontroversial juga terjadi di cabor tinju. Hal itu setelah wasit Royke Waney dinilai membuat keputusan yang dinilai tidak sportif dan merugikan petinju Lampung Rusdianto Suku. Rusdianto dinyatakan kalah angka atas lawannya Joshua Juan Vargas Harianja dari Sumatera Utara dalam pertandingan di Gedung Nomensen Siantar, Sabtu (14/9).
Keputusan wasit asal Sulawesi Utara, yang memimpin pertandingan di kelas 75-80 kg itu membuat Lampung meradang. Pasalnya Rusdianto dinyatakan kalah angka meskipun sempat meng-KO lawannya.
Dalam rekaman live video oleh Esalalan Boxing Camp, wasit tidak menghentikan pertandingan saat Rusdianto memukul telak Joshua hingga sempoyongan dan terjatuh di ronde ketiga. Saat itu, Joshua bisa berdiri dan masih sanggup bertarung.
Namun, di menit kedua ronde ketiga, Rusdianto kembali mendaratkan pukulan telak ke Joshua. Joshua pun terjatuh kedua kalinya. Namun, wasit tidak memberi hitungan. Bahkan, seolah sengaja mengulur waktu untuk memberi kesempatan recovery bagi petinju tuan rumah.
Di akhir pertandingan, justru Joshua yang dinyatakan menang angka atas Rusdianto dengan skor 10-9 untuk ketiga ronde. Kendati menang, Joshua harus mendapat perawatan di rumah sakit terdekat.
Menurut pelatih tinju Lampung Piter Harry, seharusnya laga itu sudah dihentikan mutlak, karena dua kali Rusdianto memukul lawan hingga jatuh. ’’Tapi malah dibantu untuk bangun. Bukan menghitung dan menghentikan pertandingan,’’ ucapnya tak habis pikir.
Atas keputusan itu, Piter mengaku sangat emosi saat itu. Tim tinju Lampung melayangkan protes karena telah dicurangi. ’’Bahwa ini tidak benar. Sebenarnya ini blunder wasit. Namun tidak bisa mempengaruhi hasil,’’ kata Piter.
Ketua Pertina Provinsi Sumatera Utara, Sabam Manalu merespon kejadian itu. Dia tampak marah kepada wasit memimpin pertandingan. Menurutnya kepemimpinan wasit sudah memalukan Sumatera Utara di cabor tinju secara keseluruhan.
Polri Terjunkan Satgas PON XXI
Dari Jakarta, Polri membentuk Satuan Tugas Khusus (Satgas) untuk pengusutan kasus dugaan penyelewengan dana dalam PON XXI Aceh-Sumatera Utara. Hal itu merespon berbagai keluhan atas penyelenggaraan PON XXI yang dinilai bermasalah.
Satgas PON tersebut akan melibatkan beberapa gabungan personil kepolisian. Di antaranya Bareskrim Porli, Polda Aceh dan Polda Sumut. ’’Satgas akan melakukan pendampingan, monitoring, lalu klarifikasi terkait permasalahan penyelenggaraan pada kegiatan PON XXI 2024,’’ terang Kabagpenum Divisi Humas Polri, Komisaris Besar Erdi Chaniago.
Satgas nantinya akan bekerjasama dengan Kemenpora, Kejagung, dan pihak BPKP untuk menemukaan dugaan perbuatan tidak pidana korupsi. ’’Apabila ditemukan pelanggaran dalam penyelenggaraan keuangan, Polri siap melakukan penyelidikan dan penyidikan,’’ paparnya.
Erdi menyebut, tim saat ini sudah berangkat ke Aceh dan Sumut. Tim masih mendalami terkait dengan tempat-tempat atau lokasi yang digunakan untuk ajang PON. ’’Perkembangan lebih lanjut dari tim yang sudah turun akan kami sampaikan,’’ jelasnya.(das/dof/fiq/jen/elo/bay/jpg)
Editor : Rindra Yasin