Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

MotoGP Mandalika 2025: Tak Berdaya di Sprint Race, Pecco Bagnaia Sebut Tak Bisa Kendalikan Motor, Merasa seperti Penumpang

Redaksi • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 22:47 WIB

Pecco Bagnaia finis paling buncit di Sprint MotoGP Mandalika 2025.
Pecco Bagnaia finis paling buncit di Sprint MotoGP Mandalika 2025.
 

MANDALIKA (RIAUPOS.CO) — Sirkuit Mandalika tidak ramah bagi Ducati GP25 tunggangan Fracesco “Pecco” Bagnaia. Padahal pembalap Italia yang baru sepekan lalu tampil superior di Jepang. Namun di sprint race MotoGP Indonesia 2025 di Mandalika, Pecco Bagnaia tak berdaya.

Juara dunia dua kali itu itu tampil bak penumpang di atas motor Desmosedici terbarunya. Bukannya mengendalikan, Bagnaia justru merasa motor yang membawanya melaju sendiri tanpa arah.

“Saya tidak mengendarai motor. Saya hanya penumpang di motor saya, saya tidak bisa mengendalikan apa pun,” kata Bagnaia kepada Crash.net usai balapan.

 Baca Juga: Kecelakaan di Jalan PT SIR Tewaskan Pemuda Asal Sungai Mandau, Begini Penjelasan Kasatlantas Polres Siak

Kondisi ini benar-benar ironis jika mengingat apa yang terjadi seminggu sebelumnya di Motegi. Bagnaia saat itu menyapu bersih pole position, juara Sprint, dan kemenangan di balapan utama. Namun di Mandalika semua berubah drastis. Ducati GP25 yang tadinya menjadi senjata pamungkas justru berubah menjadi mimpi buruk bagi pembalap asal Italia tersebut.

Bagnaia terseok-seok sejak awal sprint dan tidak mampu menempel rombongan depan. Ia bahkan finis paling buncit dengan selisih 29,3 detik dari Marco Bezzecchi yang keluar sebagai pemenang.

Masalah besar yang dirasakan Bagnaia adalah getaran hebat pada motornya. Shaking itu membuatnya kesulitan mengerem, menjaga jalur, dan bahkan harus menutup gas di beberapa tikungan.

 Baca Juga: HMI Dukung Dishub Tertibkan Truk ODOL Penyebab Kerusakan Jalan di Rohul

“Empat kali saya tiba di tikungan tanpa rem. Tiga kali saya harus menutup gas karena motor goyang hebat, rasanya mustahil membalap seperti ini,” keluhnya.

Situasi ini semakin menyakitkan karena secara teori motor GP25 di Mandalika sama dengan yang dipakai di Jepang. Tidak ada perubahan setup besar yang dilakukan Ducati Lenovo Team.

Anehnya, masalah ini tidak hanya menimpa Bagnaia. Hampir seluruh pembalap Ducati mengeluh motor sulit dikendalikan di Mandalika, kecuali Fermin Aldeguer yang mampu bertarung di depan.

 Baca Juga: Warga Desa Penghidupan Diimbau Waspada, Diduga Harimau Liar Terlihat di Pinggir Jalan Poros SSA

Hal ini membuat tim teknis Ducati benar-benar pusing. Apalagi musim lalu, motor mereka begitu dominan di Mandalika meski menggunakan ban yang sama dengan edisi tahun ini.

Menurut laporan The-Race, akar masalah berasal dari revisi mesin GP25. Perubahan pada crankshaft membuat karakter mesin berbeda, terutama pada respons motor ketika masuk tikungan. Karakter baru itu membuat Ducati GP25 sulit beradaptasi dengan kondisi Sirkuit Mandalika yang panas dan abrasif. Hasilnya, para pembalap harus berjuang ekstra hanya untuk bertahan.

Sayangnya, aturan homologasi mesin membuat Bagnaia tidak bisa beralih penuh ke GP24. Padahal ia sempat menjajal motor lama tersebut di Misano dan merasa lebih nyaman.

Situasi ini menambah ketegangan di internal Ducati. Isu pengujian GP24 oleh VR46 Racing bahkan menimbulkan gesekan dengan manajemen karena dianggap membuka detail teknis ke publik.

Media Spanyol AS.com menyebut Bagnaia berusaha menahan kekecewaan di pit box. Ia menampilkan senyum paksa di depan kamera meski hasil finis ke-17 jelas membuatnya terpukul.

“Hari ini bagi saya sudah berakhir. Saya tertinggal 30 detik dari yang terdepan, sulit dipercaya,” ucapnya dengan wajah datar.

Bagi Bagnaia, hasil Sprint Mandalika adalah salah satu yang terburuk sejak naik ke kelas utama. Padahal ia datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah hasil sempurna di Jepang.

Sementara itu, Marco Bezzecchi tampil luar biasa di Mandalika. Meski start buruk, ia berhasil menyalip Fermin Aldeguer di lap terakhir dan mengunci kemenangan dramatis. Kemenangan itu sekaligus menjadi pembuktian Bezzecchi yang kembali kompetitif. Di saat para rider Ducati Lenovo kesulitan, Bezzecchi justru membawa VR46 Racing ke puncak podium.

Bagi Ducati, masalah ini menjadi alarm keras. Musim lalu mereka tampil dominan hampir di semua lintasan, kini GP25 justru membuat Bagnaia tampak tak berdaya.

Krisis kecil ini sekaligus membuka diskusi soal arah pengembangan mesin Ducati. Revisi besar pada crankshaft GP25 kini dipertanyakan setelah justru membuat motor sulit dikendalikan. Publik Italia pun mulai khawatir. Bagnaia yang biasanya tampil kalem kini menunjukkan gestur frustrasi, bahkan mengaku tidak bisa membalap sama sekali di Mandalika.

Sirkuit Mandalika memang terkenal sulit dengan karakter lintasan bergelombang dan permukaan abrasif. Namun fakta hanya Ducati yang terpuruk membuat tanda tanya semakin besar.

Bagnaia masih punya kesempatan memperbaiki diri di balapan utama Ahad (5/10/2025). Namun performa sprint memberi gambaran jelas betapa GP25 sedang “ngambek” di Mandalika.

Kini semua mata tertuju pada Ducati Lenovo Team. Mampukah mereka menemukan solusi cepat agar Bagnaia bisa kembali bersaing, atau GP25 justru menjadi penghalang terbesar dalam upaya mempertahankan gelar dunia?***

Editor : Edwar Yaman
#Marco Bezzecchi #Ducati GP25 #motogp mandalika 2025 #sprint race #Pecco Bagnaia