Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Suka-Duka Menjadi Pramugari Haji

Redaksi • Selasa, 3 Juni 2025 | 11:37 WIB
Tutin Apriyani, Ketua WPI (Wanita Penulis Indonesia) Riau (2025-2030) dan Pramugari GIA (1980-1993)
Tutin Apriyani, Ketua WPI (Wanita Penulis Indonesia) Riau (2025-2030) dan Pramugari GIA (1980-1993)

SETIAP musim haji selalu melahirkan banyak kisah yang melibatkan jutaan umat Islam di dunia, termasuk muslim Indonesia. Salah satu aspek yang jarang mendapat sorotan adalah peran awak kabin atau pramugari dalam penerbangan haji tersebut. Sebuah tugas yang penuh tantangan, kesabaran, pengabdian, dan pembelajaran.

Sebagai seorang pramugari aktif maskapai Garuda Indonesia Airways (GIA) – kini bernama Garuda Indonesia – antara tahun 1980–1993, saya mempunyai pengalaman menjalankan tugas dalam penerbangan haji. Tentu saja, ini bukanlah penerbangan reguler. Ada perbedaan dalam mengemban tugas, suasana, dan karakter penumpangnya.

Para jemaah calon haji (JCH) yang berasal dari berbagai penjuru Tanah Air mempunyai latar belakang sosial, budaya, bahkan kemampuan berbahasa yang sangat beragam. Pramugari yang melayani penerbangan ini harus siap menghadapi kenyataan bahwa sebagian JCH tidak fasih berbahasa Indonesia, karena mereka lebih nyaman menggunakan bahasa daerah masing-masing. Kondisi ini memerlukan kecakapan komunikasi non-verbal dan kesabaran emosional yang luar biasa.

Embarkasi penerbangan haji, pada masa itu, tersebar di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan kemudian Ujung Pandang (Makassar). Maskapai Garuda Indonesia mengoperasikan pesawat berbadan lebar seperti DC-10 dan Boeing 747 untuk membawa ribuan jemaah menuju Jeddah. Fase pemberangkatan dan pemulangan jemaah diatur secara ketat, di mana pada kloter awal pesawat berangkat dalam keadaan penuh dan waktu pulang menjemput penumpang kloter berikutnya tanpa penumpang. Begitu pula sebaliknya pada fase pemulangan.

Salah satu tantangan terbesar pramugari dalam penerbangan haji adalah beradaptasi dengan tingkah laku jemaah yang sebagian besar berusia lanjut dan belum terbiasa dengan fasilitas modern, seperti toilet di dalam pesawat atau tempat membuang sampah. Tidak jarang terjadi kesalahpahaman dalam penggunaan kloset duduk, atau bahkan kejadian-kejadian tak terduga seperti jemaah yang buang air di lantai toilet dan meminta awak kabin membersihkannya. Kejadian semacam ini tentu menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga membuka ruang kesabaran dalam diri para awak kabin.

Cerita-cerita unik dan penuh keharuan kerap muncul dari interaksi sesama para jemaah. Bahkan, cerita sebagian jemaah dengan para pramugari. Banyak dari mereka yang telah menabung bertahun-tahun, menjual sawah atau kebun demi bisa berangkat ke Tanah Suci. Di sisi lain, ada pula yang menjadi korban penipuan biro perjalanan tidak bertanggung jawab. Kisah-kisah tersebut memperlihatkan betapa kuatnya dorongan spiritual masyarakat untuk menunaikan rukun Islam kelima, meski harus menghadapi risiko besar.

Tak hanya kejadian lucu atau mengharukan, beberapa situasi yang dialami awak kabin bahkan menyentuh rasa kemanusiaan yang paling mendalam. Dalam sejumlah penerbangan, ada jemaah yang meninggal dunia di dalam pesawat setelah take off beberapa saat. Dalam kondisi seperti itu, awak kabin harus bersikap tenang dan diplomatis. Mengingat pandangan masyarakat terhadap jenazah, pramugari harus mampu memberikan informasi yang harus disamarkan agar penumpang lain tidak panik. Tindakan ini, meski menyalahi keterbukaan, harus dilakukan demi ketertiban dan kenyamanan penumpang selama penerbangan.

Selain itu, kasus jemaah dengan kondisi kesehatan buruk kerap menjadi ujian berat. Ada yang menderita luka infeksi yang membusuk akibat riwayat sakit gula karena insiden saat melempar jumrah, menimbulkan bau yang tak sedap dan memancing keluhan jemaah lain. Dalam kondisi seperti itu, awak kabin mencari solusi alternatif dengan menaburkan bubuk kopi untuk menetralisasi bau. Sikap improvisasi para pramugari menjadi kunci dalam menghadapi situasi ekstrem semacam ini.

Pengalaman dalam melayani penerbangan haji menyimpan ironi yang beragam. Para jemaah yang baru saja menunaikan ibadah suci sering kali belum mencerminkan sikap sabar dan penuh mawas diri yang seharusnya melekat pada predikat “haji mabrur.” Sebaliknya, banyak jemaah haji tersebut yang cepat tersulut emosi hanya karena hal-hal kecil, seperti keterlambatan penyajian makanan atau keterbatasan fasilitas. Hal ini menunjukkan bahwa sikap spiritual seseorang yang baru meraih predikat haji tidak selalu sejalan dengan perubahan perilaku jemaah bersangkutan.

Tugas dalam penerbangan haji bagi pramugari selain sebuah kewajiban juga merupakan bentuk pengabdian sosial dan spiritual. Oleh karena itu, tidak semua pramugari bersedia menjalani tugas ini. Selain karena tekanan fisik dan mental, mereka juga harus bersedia ditempatkan di home base mana saja yang kadangkala jauh dari keluarga. Namun, bagi sebagian awak kabin, kesempatan ini menjadi tantangan tersendiri untuk ikut dan bila memungkinkan, ikut menunaikan ibadah haji atau umrah. Bahkan ada yang bisa menunaikan ibadah haji lebih dari satu kali, saat dipercaya menjadi pramugari haji.

Menjadi pramugari haji bukan sekadar pekerjaan profesional, melainkan juga ruang pembelajaran manusiawi, ajang ujian kesabaran, dan ladang pengabdian. Setiap penerbangan menyimpan cerita, baik yang mengundang tawa maupun air mata.

Tentu saja penting bagi penyelenggara haji, maskapai, dan pemerintah untuk terus mengevaluasi sistem pelatihan bagi awak kabin yang ditugaskan melayani jemaah haji. Bekal bahasa daerah, pemahaman lintas budaya, pelatihan penanganan khusus, serta pemahaman psikologi lansia akan sangat membantu dalam menjamin penerbangan yang aman, nyaman, dan bermartabat.

Begitu pula, mengingat masih banyaknya para penumpang JCH yang lugu dan tak mengerti menggunakan fasilitas dalam pesawat, dirasa perlu saat melakukan manasik haji sebelum keberangkatan, ada sesi dari pihak maskapai yang menjelaskan tata cara menjadi penumpang yang baik sambil menjelaskan tata cara penggunaan fasilitas di dalam pesawat selama penerbangan jarak jauh Indonesia–Arab Saudi atau sebaliknya. Dengan demikian, tak ada lagi jemaah yang buang air tidak pada tempatnya atau di lantai toilet, atau jemaah yang buang sampah sesukanya di lorong atau lantai pesawat.

Penerbangan haji adalah potret miniatur bangsa dalam bingkai spiritualitas. Ia mencerminkan keberagaman, tantangan sosial, hingga kerinduan akan Tanah Suci. Dari kursi kabin pesawat menuju Baitullah, ada begitu banyak cerita tentang kemanusiaan, pengorbanan, dan keikhlasan yang layak diangkat ke permukaan.***

Oleh: Tutin Apriyani, Ketua WPI (Wanita Penulis Indonesia) Riau (2025-2030) dan Pramugari GIA (1980-1993)

Editor : Arif Oktafian
#pramugari #opini #haji #suka duka