SEMANGAT tinggi terasa pada acara pelantikan pengurus Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) Wilayah Riau periode 2025-2028. Acara ini berlangsung di Auditorium Menara Poltekkes Riau pada Sabtu, 26 Juli 2025. Bersamaan dengan pelantikan, diadakan Seminar Nasional mengenai upaya penanganan stunting di era transformasi digital kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, drg Sri Sadono Mulyanto MHan, mewakili Gubernur Riau, membuka dan menjadi keynote speaker kegiatan ini. Beliau membahas upaya penanganan stunting untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, sejalan dengan visi misi Presiden Prabowo-Gibran 2024-2029.
Peran Digital dalam Penanggulangan Stunting
Era transformasi digital menghadirkan potensi besar untuk menanggulangi stunting di Indonesia. Pemanfaatan teknologi digital sangat penting, misalnya aplikasi pemantauan gizi, telemedicine, dan big data analytics. Teknologi ini dapat meningkatkan efektivitas deteksi dini, intervensi, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak. Penting untuk memastikan digitalisasi ini mudah diakses dan inklusif bagi semua lapisan masyarakat, terutama di daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan. Kita perlu membuat terobosan penting terkait kesehatan dan pertumbuhan anak, karena ini adalah indikator utama keberhasilan pembangunan sosial dan ekonomi bangsa Indonesia. Transformasi digital kesehatan esensial untuk masa depan anak Indonesia yang cerah dan gemilang.
Intervensi penguatan program stunting lintas program dan sektor sangat dibutuhkan dan perlu segera dilakukan. Ini meliputi peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di berbagai bidang seperti sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas di setiap lini.
Intisari Seminar Nasional
Seminar nasional ini menghadirkan narasumber dari berbagai institusi dan latar belakang, yaitu akademisi, praktisi kesehatan, dan perwakilan industri migas. Mereka adalah Prof dr Arfianti MBiomed MSc, PhD (Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Riau); Prof Dr Aslis Wirda Hayati SP MSi (Dosen Poltekkes Kemenkes Riau); Dr Mitra SKM MKM (Dosen Universitas Hangtuah Pekanbaru); Prof Dr drg Sandra Fikawati MPH (Direktorat Alumni dan Dana Abadi Universitas Indonesia); dan Yanin Kholison SSos MSi (SKK Migas Sumbagut).
Intisari seminar ini membahas upaya pengurangan stunting. Pengurangan stunting pada anak adalah tujuan pertama dari enam tujuan dalam Target Gizi Global 2025 dan merupakan indikator kunci dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yang tujuan keduanya adalah bebas kelaparan. Data epidemiologi Survei Status Gizi Indonesia Tahun 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional menurun dari 21,5% pada 2023 menjadi 19,8% pada 2024. Namun, kondisi di Provinsi Riau justru mengalami peningkatan dari 13,6% pada 2023 menjadi 20,1% pada 2024.
Akar Masalah dan Dampak Stunting
Perhatian serius di hulu terhadap stunting sangat diperlukan. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan stimulasi lingkungan yang tidak memadai. Kondisi ini terutama terjadi selama periode penting “1.000 Hari Pertama Kehidupan”, dimulai sejak kehamilan hingga anak berusia 2 tahun. Stunting pada anak secara langsung disebabkan oleh kurang konsumsi zat gizi dan penyakit yang biasanya berlangsung lama atau berulang pada ibu maupun anak.
Penyebab tidak langsung stunting meliputi ketersediaan pangan rumah tangga, pola asuh, lingkungan, dan pelayanan kesehatan. Faktor-faktor ini dipengaruhi oleh pendapatan atau sosial ekonomi, kemiskinan, serta sosial dan budaya. Penelitian Beal dan rekan-rekan pada 2018 memperkuat temuan bahwa tinggi badan ibu dan/atau ayah yang pendek meningkatkan odds stunting, dan dampaknya diperbesar di lingkungan sosio-ekonomi rendah, sanitasi buruk, atau pola asuh yang kurang optimal. Odds stunting sendiri mengacu pada risiko terjadinya stunting pada anak, yang diukur dengan rasio odds (OR), menunjukkan seberapa besar kemungkinan suatu faktor meningkatkan atau menurunkan risiko stunting.
Proses terjadinya stunting bersamaan dengan hambatan pertumbuhan dan perkembangan organ, berdampak jangka pendek pada angka kematian, kesakitan, dan kecacatan.
Dampak stunting jangka panjang yang perlu diketahui adalah kondisi irreversibel; seorang anak tidak dapat memulihkan tinggi badan dengan cara yang sama seperti menambah berat badan. Berdasarkan penelitian Laksono (2022), ini diakibatkan oleh gizi yang tidak memadai dan infeksi berulang selama 1.000 hari pertama kehidupan anak.
Dampak kedua adalah dampak kognitif dan ekonomi. Anak-anak yang mengalami stunting lebih sering jatuh sakit, kehilangan kesempatan belajar, berprestasi lebih buruk di sekolah, dan kurang beruntung secara ekonomi. Menurut Adilla dan rekan (2019), ini karena anak dengan kondisi stunting mengalami pertumbuhan rangka yang lambat dan pendek akibat tidak terpenuhinya kebutuhan gizi dan meningkatnya kesakitan dalam waktu lama. Prevalensi anak stunting dan kurus meningkat pada tahun kedua dan ketiga kehidupan. Otak manusia mengalami perubahan struktural dan fungsional yang sangat pesat antara minggu ke-24 sampai minggu ke-42 setelah konsepsi dan berlanjut setelah lahir hingga usia 2 atau 3 tahun, dengan periode tercepat pada usia 6 bulan pertama kehidupan. Gizi yang tidak adekuat pada proses perkembangan anak dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi otak.
Dampak ketiga adalah munculnya penyakit kronis. Anak stunting berisiko menderita resistensi insulin, hipertensi, dan dislipidemia (“DOHaD hypothesis”). Peningkatan berat badan (catch-up weight) setelah usia 2 tahun meningkatkan risiko kegemukan atau obesitas sentral, diabetes tipe 2, dan hipertensi.
Interaksi Genetik dan Lingkungan
Interaksi genetik dan lingkungan berpengaruh terhadap terjadinya stunting. Gen memberikan potensi, tetapi lingkungan menentukan bagaimana potensi tersebut terwujud. Interaksi ini dinamis dan berlangsung sepanjang hidup, memengaruhi berbagai aspek seperti penyakit, kepribadian, dan respons terhadap lingkungan yang kurang sehat. Sebagai gambaran, seorang anak mungkin memiliki predisposisi genetik untuk tinggi badan pendek, tetapi jika mendapat nutrisi baik dan lingkungan sehat, ia dapat tumbuh optimal. Sebaliknya, jika anak dengan predisposisi genetik tersebut kekurangan gizi atau terpapar infeksi, risiko stunting akan meningkat, ditambah lingkungan yang kurang sehat.
Inovasi Digital dan Prioritas Penanganan Stunting
Zaman digital kesehatan makin berpacu dalam penemuan karya yang memudahkan identifikasi status gizi balita yang mengalami stunting. Salah satu karya fenomenal adalah temuan Prof Aslis, Dosen Poltekkes Riau, yaitu Rapid Diagnostic Test Pyridinium Crosslinks. Ini adalah alat deteksi dini dan MONEV status gizi balita untuk pencegahan stunting.
Alat ini berfungsi untuk menilai status kalsium dan vitamin D, yang sangat penting untuk kesehatan dan perkembangan tulang pada anak-anak. Alat ini juga mampu mengevaluasi status protein, karena kolagen kaya akan asam amino, dan asupan protein yang cukup penting untuk sintesis kolagen dan pertumbuhan secara keseluruhan. Pyridinium Crosslinks mencerminkan pemecahan kolagen, yang dapat dipengaruhi oleh status protein. Asupan protein rendah dapat menyebabkan gangguan sintesis kolagen dan peningkatan resorpsi tulang, yang berpotensi meningkatkan kadar PYD dan DPD. Selain itu, alat ini juga dapat mendeteksi defisiensi nutrisi yang tidak seimbang; peningkatan penanda resorpsi tulang seperti PYD dan DPD dapat menandakan ketidakseimbangan asupan nutrisi, seperti kekurangan kalsium atau protein.
Prioritas kita saat ini adalah menghindari asupan gizi yang buruk, terutama kekurangan protein, zinc, dan mikronutrien lain, yang sangat berperan dalam terjadinya stunting. Namun, tidak semua anak dengan asupan gizi kurang akan mengalami stunting karena anak dengan predisposisi genetik tertentu lebih rentan. Sanitasi lingkungan yang kotor dapat meningkatkan risiko infeksi saluran cerna dan diare, yang mengganggu penyerapan nutrisi dan memperburuk pertumbuhan, terutama pada anak yang secara genetik sudah rentan terhadap stunting.
Peran Genetik dan Kolaborasi Lintas Sektor
Faktor keturunan atau genetik dominan pada populasi Eropa; studi terhadap 25.465 individu memperkirakan sekitar 68% variasi tinggi badan ditentukan oleh faktor genetik, sisanya oleh lingkungan. Studi kembar secara konsisten menemukan heritabilitas tinggi badan sangat tinggi, sering kali di atas 80%, artinya sebagian besar variasi tinggi badan dalam populasi disebabkan oleh faktor genetik. Studi pada anak usia dini di negara berkembang memperkirakan heritabilitas tinggi badan sekitar 46%, menunjukkan pengaruh genetik tetap kuat meskipun lingkungan juga berperan. Kebijakan yang tepat dan cepat untuk percepatan penurunan stunting harus menerapkan berbagai pendekatan berbasis risiko genetik dan lingkungan, intervensi adaptif, multisektor, dan responsif terhadap kebutuhan lokal.
Permasalahan stunting memerlukan dukungan lintas program dan lintas sektor di masyarakat untuk membina kerja sama, sinergisitas, dan dukungan positif dalam pembangunan kesehatan. Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di daerah harus mampu melaksanakan pembangunan kesehatan masyarakat sebaik-baiknya, dengan kegiatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif secara terpadu. Pengaktifan kader posyandu merupakan cikal bakal perbaikan sistem surveilans berbasis masyarakat dan membentuk kerja sama yang baik. Posyandu sebagai upaya kesehatan bersumber daya masyarakat memudahkan akses pelayanan kesehatan secara koordinatif dan integratif. Posyandu berfungsi sebagai surveilans aktif, termasuk skrining layanan keluarga berencana (KB) gratis bagi pasangan subur untuk mengatur jarak kelahiran. Pemantauan tumbuh kembang balita terus-menerus melalui penimbangan berat badan anak setiap bulan dan pengisian Kartu Menuju Sehat (KMS) sebagai alat pencatatan dan pemantauan pertumbuhan, di mana KMS yang diisi lengkap dan benar memberikan informasi tentang pertumbuhan anak.
Sebagai penutup, era transformasi digital menawarkan solusi inovatif untuk mengatasi stunting. Monitoring dan evaluasi yang baik melalui implementasi berdasarkan pendekatan yang menyeluruh, ketersediaan luas, inklusi, dan kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan menjadi hal penting yang harus disiapkan secara matang.***
Editor : Bayu Saputra