Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Potret Pendidikan Agama Islam di Era Kesultanan Siak Sri Indrapura

Redaksi • Sabtu, 16 Agustus 2025 | 22:30 WIB

Amrizal, Dosen IAIN Datuk Laksemana Bengkalis dan Ketua Umum MUI Kabupaten Bengkalis
Amrizal, Dosen IAIN Datuk Laksemana Bengkalis dan Ketua Umum MUI Kabupaten Bengkalis
 

SIAK Sri Indrapura merupakan salah satu Kesultanan Islam yang cukup termasyhur dan memiliki pengaruh politik sangat kuat di wilayah Pesisir Sumatera hingga ke Semenanjung Malaya pada abad ke-18 hingga awal abad ke-20. Salah satu jejak peninggalan sejarahnya yang dapat disaksikan sampai saat ini adalah sebuah istana megah yang berlokasi tak jauh dari tepian Sungai Siak, memiliki luas 32.000 meter dengan bentuk bangunan dua lantai yang memiliki arsitektur bercorak Melayu, Arab dan Eropa.

Sebagai institusi politik baru yang menerajui kekuasaan di tanah Melayu ketika itu, Kesultanan Siak Sri Indrapura yang pertama kali didirikan oleh Raja Kecil bergelar Sultan Abdul Jalil Syah, tidak hanya mengatur urusan-urusan yang berkaitan dengan administrasi pemerintahan, politik, hukum dan ekonomi saja tapi juga urusan pendidikan khususnya pendidikan agama Islam.

Kepeduliaan dan perhatian besar sultan dalam membangun lembaga pendidikan khususnya pendidikan agama Islam di Siak Sri Indrapura, bila ditelisik lebih jauh tidak bisa dilepaskan dari faktor identitas kesultanan yang menjadikan Islam sebagai entitas politiknya. Mereka berkepentingan dan memiliki tanggung jawab melalui lembaga pendidikan untuk melahirkan rakyat kesultanan Siak Sri Indrapura yang memiliki pengetahuan yang mendalam, berkarakter dan memiliki nasionalisme yang tinggi.

Potret Pendidikan Agama Islam sebagaimana dikemukakan sebelumnya, dibahas secara apik dan sistematis oleh Dr. Siti Khairiyah, S.Pd.I, M.Ag dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Agama Islam di Kesultanan Siak Sri  Indrapura (1917-1945) yang diterbitkan oleh Nasya Expanding Management (NEM), Pekalongan Jawa Tengah, pada tahun 2024.

Buku setebal 245 halaman ini diawali dengan pembahasan teoretis tentang pendidikan agama Islam sebagai sistem dan instrumen serta sebagai sebuah lembaga. Kemudian pembahasan tentang persentuhan pendidikan agama Islam dengan modernisasi. Setelah itu, potret kehidupan masyarakat Kesultanan Siak Sri Indrapura dan terakhir pengaruh pendidikan agama Islam terhadap kehidupan masyarakat Kesultanan Siak Sri Indrapura.

Sisi kelebihan dari buku yang keseluruhan materinya diambil dari hasil disertasi penulis di Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta adalah sejumlah data dan informasi mengenai lembaga pendidikan agama Islam yang didirikan oleh Kesultanan Siak Sri Indrapura diperoleh dari arsip dokumen dan naskah otentik (asli) yang masih tersimpan sehingga argumentasi dan analisis yang dikonstruksi penulis sangat kokoh dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Temuan dari kajian penulis, lembaga pendidikan yang pertama kali didirikan pada masa Sulthan Sjarif Qasim II adalah Madrasah Taufiq al-Hasjimiah pada tahun 1917. Sekolah ini hanya dikhususkan untuk anak laki-laki saja. Seiring perkembangan zaman, karena perempuan juga membutuhkan pendidikan, Sultan mendirikan sekolah pada tahun 1927 atas prakarsa permaisuri Tengku Agung Sulthanah Latifah yang diberinama Sulthanah Latifah School yang dikhususkan untuk perempuan dalam rangka pembinaan keterampilan hidup. Kemudian pada tahun 1933, Sulthan mendirikan sekolah berbasis pendidikan agama Islam yang diberinama Madrastoen Nisa’. Khusus Madrastoen Nisa’, dari sisi kurikulum dan metode pembelajarannya diadopsi dari Diniyah Puteri Padang Panjang yang pada masa itu berada di bawah pimpinan Rahmah el-Yunusiah.

Temuan menarik lainnya dari buku yang ditulis oleh Dr. Siti Khairiyah, S.Pd.I, M.Ag, yang lahir di Desa Pangkalan Batang, Bengkalis ini adalah pembaruan dan modernisasi lembaga pendidikan agama Islam yang dilakukan oleh Sulthan Sjarif Kasim II dari model pendidikan lainnya yang ada sebelumnya yang cenderung bersifat tradisional sehingga tak berlebihan bila dikatakan bahwa lembaga pendidikan agama Islam yang ada di Kesultanan Siak Sri Indrapura merupakan awal dari cikal bakal modernisasi pendidikan agama Islam di Provinsi Riau.

Selain itu, Sultan memiliki hak otonom dan kemandirian dalam menyelenggarakan pendidikan, tidak mendapat pengaruh dan intervensi dari Pemerintah Hindia Belanda. Sulthan dan Permaisuri mengelola sendiri pendidikan dan kurikulumnya tanpa campur tangan Belanda. Kemandirian itu ditunjukan dengan adanya upaya Sulthan yang mendatangkan guru-guru dari luar kerajaan, seperti dari Padang Panjang, Medan dan Singapura, menyediakan asrama bagi guru dan murid, membiayai sepenuhnya penyelenggaraan pendidikan dan memberi gaji para guru. Hal ini menggambarkan satu komitmen besar dan sungguh-sungguh dari Sulthan dalam membangun pendidikan khususnya pendidikan agama Islam di Kesultanan Siak Sri Indrapura.

Kebijakan Sultan Sjarif Kasim II dalam membangun lembaga pendidikan khususnya lembaga pendidikan agama Islam cukup memberikan dampak dan pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Kesultanan Siak Sri Indrapura khususnya dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas; memiliki pengetahuan, keterampilan, akhlak (karakter) yang baik dan semangat kebangsaan dan cinta tanah air yang tinggi.

Sedikit kelemahan dari buku ini adalah penggambaran mengenai eksistensi tiga lembaga pendidikan yang didirikan sulthan, yaitu Madrasah Taufiq al-Hasjimiah (1917), Sulthanah Latifah School (1927) dan Madrastoen Nisa’ (1933) hanya bersifat umum sehingga tidak didapatkan gambaran yang lebih detail dan terperinci misalnya berkaitan dengan isi kurikulum dan metode pembelajarannya yang dterapkan di sekolah atau madrasah yang dimaksud. Namun, hal ini harus diakui tidak mudah karena memang arsip dokumen dan naskah otentik (asli) yang bersifat lengkap dan menyeluruh mengenai peristiwa di masa lalu sulit didapatkan. Meskipun demikian, upaya yang dilakukan oleh penulis dalam mendokumentasikan perkembangan pendidikan agama Islam di Kesultanan Siak Sri Indrapura patut diapresiasi.

Berdasarkan pemaparan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa buku Pendidikan Agama Islam di Kesultanan Siak Sri  Indrapura (1917-1945) yang ditulis oleh Dr. Siti Khairiyah, S.Pd.I, M.Ag telah berhasil memotret perkembangan lembaga pendidikan khususnya pendidikan agama Islam di Kesultanan Siak Sri Indrapura yang memberikan pengaruh siqnifikan terhadap kehidupan masyarakat dan merupakan cikal bakal modernisasi pendidikan agama Islam di Provinsi Riau. Wallah A’lam***

Oleh: Amrizal, Dosen IAIN Datuk Laksemana Bengkalis dan Ketua Umum MUI Kabupaten Bengkalis

 

 

 

Editor : Edwar Yaman
#Potret Pendidikan Agama Islam #Era Kesultanan Siak Sri Indrapura #siak sri indrapura