“Lancang Kuning-lancang kuning berlayar malam,
Haluan menuju, haluan menuju ke laut dalam.
Kalau nakhoda kuranglah faham,
Alamatlah kapal akan tenggelam.”
— Syair Lagu Melayu Riau
Di tepian Sungai Siak yang gagah dan tenang, ketika fajar menyemburkan emas di permukaan air, konon bahtera megah dari kayu merbau pilihan pernah berlayar. Namanya Lancang Kuning.
Diiringi bunyi genderang dan serunai, rakit-rakit rakyat mengantar dari tepian, melambai sambil memanjatkan doa agar bahtera pembawa marwah dan cita-cita bangsa itu berlayar selamat ke lautan luas. Tetapi dalam setiap pelayaran, selalu ada badai yang menunggu. Ada arus yang menggoda arah, dan ada nakhoda yang harus tahu kapan menegakkan layar dan kapan menurunkannya.
Imaji itu kini hidup kembali. Riau kini berlayar menembus samudra pembangunan dengan banyak peluang dan risikonya. Semakin jauh berlayar, semakin banyak tantangannya. Tidak hanya perahu yang tangguh dan canggih, tetapi juga nakhoda yang piawai dan cerdik membaca kompas zaman. Di haluan bahtera inilah berdiri para pemuda—generasi yang menentukan ke arah mana Riau akan berlabuh.
Layar Terkembang, Tak Surut karena Ombak
Kini Riau, di usia yang ke-68 tahun, memang tampak gagah dengan jembatan dan kawasan industrinya; pertumbuhan ekonominya pun mencapai 4,9 persen (BPS Riau, 2024). Namun di balik angka itu, 6,2 persen penduduk masih hidup di bawah garis kemiskinan. Seperti bahtera yang berlayar megah tanpa membaca arah angin, Riau bisa kehilangan haluan jika kemudi pembangunan tak dikendalikan dengan bijak.
Raja Ali Haji dalam Gurindam XII berpesan: ”Hendaklah berjasa kepada sebangsa. Hendaklah jadi kepala, buang perangai yang cela.” Lebih dari seabad saat Sumpah Pemuda dikumandangkan, Raja Ali Haji telah menulis arah zaman: bahwa kemajuan sejati tidak terpisah dari marwah dan akhlak.
Hari ini, pemuda-pemuda Riau berdiri di dek bahtera, tangan di kemudi, dan mata menatap cakrawala. Modernitas selain menawarkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga menyihir anak muda dalam hedonisme, apatisme, dan materialisme akut. Maka, air yang menerjang bahtera itu perlahan mengikis nilai-nilai agung bangsa Riau.
Keberanian pemuda menegakkan marwahnya tidak berarti sebuah konservatisme atau kekolotan. Ini semata sebuah keberanian menerjang arus besar modernisasi yang mengikis nilai kemanusiaan sekaligus harkat dan martabatnya. Sekali lagi, dengan sangat bangga kita harus mengingat pesan Raja Ali Haji: “Apabila hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa.”
Budi dan bahasa itulah kompas moral pemuda. Mereka adalah nakhoda marwah yang menjaga agar Lancang Kuning tidak hanyut dalam gelombang pragmatisme. Di Dumai, mereka menanam mangrove; di Bengkalis, mereka mengajar anak pesisir; di Pekanbaru, mereka mencipta karya digital bercorak Melayu. Itulah cara mereka membaca bintang—menemukan arah di langit zaman yang cepat berubah.
Pemuda di Pelabuhan Marwah
Ketika ikrar Sumpah Pemuda dikumandangkan pada 28 Oktober 1928, kita dipancang pada satu ikrar yang menyatukan Nusantara sebagai satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa persatuan: Indonesia. Namun, makna Sumpah Pemuda itu tidak boleh hanya berakhir dalam ingatan dan acara simbolik saja. Makna itu harus berlanjut dalam pelayaran di dada para pemuda Riau dalam bentuk tanggung jawab, kerja nyata, dan keberanian menjaga marwah bangsanya.
Pelayaran selanjutnya tentu tidak hanya berbicara tentang persatuan dan kesatuan, tetapi lebih dari itu adalah terwujudnya keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat. Pemuda Riau dengan demikian harus mampu membaca rasi bintang masa depan, memastikan pembangunan bukan hanya angka statistik. Karena kemajuan tanpa keadilan hanyalah pelayaran hura-hura.
Perjalanan masih panjang, dan tentunya masih banyak badai nun di depan sana. Namun, selama layar terikat pada nilai dan arah, dan nakhoda pemegang kemudi memahaminya secara kafah maka tak ada badai yang tak mampu dilewati.
Raja Ali Haji telah memberi peta lewat gurindamnya; para pemuda 1928 memberi arah lewat sumpahnya. Kini giliran pemuda Riau menjadi nakhoda baru: menuntun bahtera Lancang Kuning berlayar menuju pelabuhan marwah—tempat kemajuan bertemu kemanusiaan.
Sebab bangsa ini, seperti Lancang Kuning, tidak diciptakan untuk tenggelam, melainkan untuk terus berlayar menuju cahaya.***
Oleh: Andi Darma Taufik, Anggota DPRD Riau Fraksi PDI Perjuangan
Editor : Arif Oktafian