Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Refleksi “Embedded System” dalam Diri Manusia

Tim Redaksi • Jumat, 10 April 2026 - 11:24 WIB
Oktaf Brillian Kharisma, Dosen Embedded System di Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sultan Syarif Kasim Riau (JPG)
Oktaf Brillian Kharisma, Dosen Embedded System di Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sultan Syarif Kasim Riau (JPG)

 
​RIAUPOS.CO - Di dalam banyak perangkat modern, mulai dari mesin cuci, mobil, hingga alat kesehatan, terdapat sesuatu yang jarang terlihat oleh pengguna, tetapi menentukan seluruh perilaku mesin. Ia disebut embedded system atau sistem tertanam. Sistem kecil ini tertanam di dalam perangkat, mengatur bagaimana mesin membaca kondisi, mengambil keputusan, dan bertindak. Tanpanya, perangkat secanggih apa pun hanya akan menjadi benda mati yang tidak tahu harus berbuat apa.

Menariknya, konsep ini memiliki kemiripan yang sangat dalam dengan cara Islam memandang manusia. Dalam perspektif spiritual, manusia juga membutuhkan semacam “sistem tertanam” yang mengendalikan perilaku hidupnya. Sistem itu dalam bahasa agama disebut takwa.

​Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukanlah kekuatan, kekayaan, atau kecerdasan, melainkan ketakwaannya. Dalam konteks teknologi modern, kita dapat memandang takwa sebagai sebuah embedded system moral yang tertanam dalam diri manusia.

Baca Juga: Manfaat Tahu Putih untuk Kesehatan

​Dalam dunia teknik elektro, sebuah embedded system biasanya terdiri dari tiga komponen penting: sensor, pengendali (controller), dan aktuator. Sensor membaca kondisi lingkungan, controller memproses informasi tersebut, dan aktuator menghasilkan tindakan. Ketiga komponen ini bekerja dalam satu sistem yang terintegrasi untuk memastikan mesin bertindak secara tepat. Jika dianalogikan dengan kehidupan manusia, kita dapat menemukan struktur yang hampir serupa.

​Pertama, manusia memiliki sensor spiritual, yaitu hati dan kesadaran moral. Dalam tradisi Islam, kesadaran ini dikenal dengan istilah murakabah, yaitu perasaan bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan. Sensor ini membuat manusia mampu “membaca” keadaan moral di sekitarnya; mana yang benar dan mana yang salah.

​Kedua, manusia memiliki controller, yaitu akal yang dipandu oleh iman. Akal memproses informasi yang diterima dari hati dan pengalaman hidup, lalu menentukan keputusan yang akan diambil. Namun, sebagaimana dalam sistem tertanam, controller membutuhkan perangkat lunak yang benar agar dapat bekerja dengan baik. Dalam kehidupan seorang muslim, perangkat lunak itu adalah nilai-nilai tauhid, ajaran Al-Qur’an, dan teladan Nabi SAW.

Baca Juga: Terobosan Hukum Kasus Air Keras

Ketiga, ha­sil dari seluruh proses itu muncul dalam bentuk perilaku, yang dalam istilah teknik dapat dianalogikan sebagai aktuator. Perilaku manusia—baik berupa ucapan, tindakan, maupun keputusan—adalah output dari sistem yang bekerja di dalam dirinya.

​Dalam sebuah perangkat elektronik, kesalahan pada firmware atau program dapat menyebabkan sistem bekerja secara tidak normal. Mesin bisa menghasilkan keputusan yang keliru atau bahkan berhenti berfungsi. Hal yang sama juga terjadi pada manusia. Ketika nilai spiritual melemah, keputusan hidup sering kali kehilangan arah.

​Di sinilah pentingnya mekanisme umpan balik. Dalam rekayasa sistem, dikenal konsep feedback loop yang memungkinkan sistem melakukan koreksi terhadap kesalahan. Tanpa umpan balik, sebuah sistem mudah mengalami ketidakstabilan. Islam memiliki konsep yang sangat mirip dengan mekanisme ini, yaitu muhasabah yang merupakan evaluasi diri secara terus-menerus. Melalui muhasabah, manusia meninjau kembali tindakannya, menyadari kesalahan, lalu memperbaikinya melalui tobat dan perubahan perilaku. Proses ini menjaga agar sistem spiritual dalam diri manusia tetap stabil.

Baca Juga: Menakar Manfaat Perdagangan Karbon  ​

​Refleksi ini menjadi semakin relevan di era teknologi digital saat ini. Kita hidup di zaman saat kemampuan manusia untuk menciptakan teknologi berkembang sangat cepat. Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan analisis data besar telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Namun, kemajuan teknologi tidak selalu diiringi dengan kemajuan moral.

​Kita menyaksikan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menyebarkan informasi palsu, memanipulasi opini publik, atau mengeksploitasi kelemahan manusia. Kecerdasan buatan dapat memproses miliaran data dalam hitungan detik, tetapi ia tidak memiliki kompas moral. Ia hanya mengikuti algoritma yang diberikan manusia. Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan lagi sekadar seberapa canggih teknologi yang kita miliki, tetapi seberapa kuat sistem moral yang tertanam dalam diri manusia yang menggunakannya.

​Teknologi pada akhirnya hanyalah alat. Ia memperbesar kemampuan manusia, tetapi tidak menentukan arah penggunaannya. Jika manusia yang menggunakannya memiliki sistem nilai yang kuat, teknologi dapat menjadi sarana kebaikan yang luar biasa. Namun, jika sistem moralnya lemah, teknologi justru dapat mempercepat kerusakan.

​Dalam perspektif ini, konsep takwa menjadi sangat penting. Ia bukan sekadar istilah religius yang sering diulang dalam khotbah atau ceramah, tetapi sebuah sistem pengendali internal yang menjaga manusia agar tetap berada pada jalur yang benar.

​Para insinyur mengetahui bahwa mesin yang paling canggih sekalipun membutuhkan sistem kecil yang tertanam di dalamnya agar tidak bekerja secara liar. Tanpa embedded system, perangkat hanya akan menjadi kumpulan komponen yang tidak memiliki arah. Manusia jauh lebih kompleks daripada mesin. Ia memiliki akal, emosi, ambisi, dan keinginan yang terus bergerak. Tanpa sistem pengendali yang kuat di dalam dirinya, kecerdasan manusia justru dapat menjadi sumber kesalahan yang lebih besar.

​Mungkin karena itulah Al-Qur’an tidak pernah memuji manusia karena kepintarannya semata, tetapi karena ketakwaannya. Sebab pada akhirnya, yang menentukan arah kehidupan manusia bukanlah seberapa tinggi pengetahuannya, melainkan sistem nilai yang tertanam di dalam hatinya.

​Jika teknologi membutuhkan embedded system untuk mengendalikan mesin, maka manusia membutuhkan takwa untuk mengendalikan dirinya. Dan di tengah dunia yang semakin canggih, mungkin justru sistem tertanam inilah yang paling menentukan masa depan peradaban manusia.***

 

Editor : Arif Oktafian
#Perangkat Modern #embedded system #opini #Mesin