Apakah kalian pernah mendengar komunikasi adalah kunci dari sebuah hubungan? Tidak hanya dalam hubungan asmara, tetapi komunikasi juga menjadi aspek kunci dari semua hubungan, termasuk hubungan dalam keluarga, pekerjaan, atau sosial. Komunikasi merupakan fondasi dalam interaksi manusia.
Dalam masalah kesehatan, komunikasi yang efektif menghasilkan kesehatan yang baik pula. Komunikasi kesehatan memainkan peran penting yang bertujuan untuk mengurangi risiko kesehatan pada berbagai jenjang.
Artinya, komunikasi menjadi modal untuk membuat pilihan dan keputusan dalam memecahkan permasalahan kesehatan. Komunikasi kesehatan disampaikan dalam bentuk yang beragam sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam proses komunikasinya.
Baca Juga: Mengawal Kerja Pansus Optimalisasi PAD DPRD Provinsi Riau
Komunikasi kesehatan mencakup bagaimana teknik komunikasi yang baik dapat memengaruhi masyarakat luas untuk mempromosikan bagaimana cara memelihara kesehatan. Selain itu, komunikasi kesehatan juga berfungsi untuk pengambilan keputusan yang berhubungan dengan penanganan kesehatan.
Dengan komunikasi yang efektif, cara pandang masyarakat terhadap suatu penyakit dapat berubah. Hal tersebut juga menjelaskan bagaimana perbedaan asumsi dapat muncul dalam memandang suatu masalah kesehatan. Komunikasi kesehatan dapat membangun makna tentang bagaimana pelayanan kesehatan diberikan kepada masyarakat.
Sebagai masyarakat Indonesia, kesan pertama pada siapa yang sedang berbicara lebih dikedepankan dibandingkan apa yang dibicarakan. Nilai etika dan estetika dalam berbicara memainkan peran penting di sini. Dokter dengan kemampuan berkomunikasi yang baik dan bisa merangkul pasien untuk sembuh dapat memberi pasien makna hidup yang mungkin tidak bisa orang lain rasakan.
Baca Juga: Transformasi Digital Sebagai Wujud Kedaulatan Demokrasi di Indonesia
Oleh karena itu, sangat wajar pasien mengharapkan para tenaga kesehatan dapat menyampaikan pesan melalui pendekatan psikologis dan bersikap empatik sehingga pasien merasa termotivasi untuk sembuh. Dalam konferensi internasional di bidang komunikasi kesehatan merumuskan “Toronto Consensus Statement” yang terkait dengan praktik komunikasi dalam dunia kesehatan.
Dalam salah satu pernyataan tersebut terdapat kunci komunikasi kesehatan, yaitu “Tingkat stres pada seseorang yang menderita sakit serius akan lebih berkurang jika ia mengetahui informasi yang cukup tentang penyakitnya”.
Artinya, jika seseorang sudah mengetahui informasi mengenai penyakit yang ia derita, ia akan lebih siap secara mental karena tahu penyebab, gejala, dan pengobatannya. Ketidaktahuan sering memicu rasa khawatir yang berlebihan. Orang akan lebih memikirkan hal buruk yang belum tentu terjadi dibandingkan fokus pada penyelesaian masalah.
Mungkin kita pernah ke rumah sakit dengan tujuan untuk mendapatkan pelayanan dan pengobatan yang baik, tetapi para petugasnya terkesan jutek dan enggan untuk melayani. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada pasien atau keluarganya. Padahal, sikap dan cara memperlakukan pasien maupun keluarganya sangat berpengaruh terhadap kepercayaan pada proses pengobatan.
Penyedia layanan kesehatan yang mampu berkomunikasi dengan baik kepada pasien, telah terbukti menghasilkan perubahan dan dampak positif bagi pasien maupun orang di sekitarnya. Dengan komunikasi yang baik, mereka akan lebih mudah untuk setuju dan mengikuti saran yang diberikan para petugas kesehatan.
Kepuasan pelayanan kesehatan yang dirasakan pasien juga berdampak pada kesembuhan dan pengurangan tingkat kecemasan. Contoh lain peran komunikasi dalam permasalahan kesehatan adalah pada saat kita membawa keluarga yang sakit ke rumah sakit dan meminta dokter atau petugas kesehatan untuk menjelaskan terkait kondisi kesehatannya. Sering kali, dokter tidak memberitahu tentang kondisi pasien secara gamblang karena khawatir mereka tidak dapat menangani reaksi emosional keluarga pasien.
Informasi dari dokter mungkin akan menimbulkan rasa cemas dan khawatir dalam keluarga pasien. Dalam kondisi tertentu, pemberian informasi mengenai kondisi kesehatan kepada pasien yang kurang tepat akan menimbulkan tekanan emosional. Oleh karena itu, dalam kondisi tersebut, petugas kesehatan harus mampu menyampaikan informasi secara bertahap melalui pendekatan psikologis.
Alasan lainnya mengapa dokter tidak memberitahu mengenai masalah kesehatan kepada pasien maupun keluarganya adalah karena berpikiran bahwa keluarga pasien tidak akan mampu memahami prognosis yang dijelaskan kepada mereka. Dokter sering kali menghindar atau memutarbalikkan kenyataan dengan cara menghentikan pembicaraan.
Penundaan dalam memberikan informasi juga menghambat penyelesaian masalah dan pengobatan pasien. Terkadang, keluarga pasien juga memiliki perspektif tersendiri dalam memandang penyakit yang diderita pasien. Padahal, tujuan penyampaian informasi oleh dokter adalah agar keluarga mengetahui tentang permasalahan kondisi pasien sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dalam memandang penyakit yang diderita pasien.
Pengambilan keputusan dalam menjalankan prosedur pengobatan juga seharusnya diinformasikan lebih lanjut kepada keluarga pasien. Para petugas kesehatan dapat menjelaskan secara terbuka mengenai kemungkinan baik dan buruknya atas pengobatan yang dijalani. Penggunaan bahasa yang sederhana, nada, dan kecepatan suara yang sesuai, membuat keluarga lebih dapat menerima informasi dengan baik.
Pasien dan keluarga juga harus diberi waktu yang cukup untuk berpikir dan bermusyawarah atas keputusan yang diambil. Hal ini penting agar keputusan yang diambil berdasarkan pemahaman dan pertimbangan yang matang. Pada akhirnya, pasien harus menerima haknya, yaitu mendapatkan informasi mengenai penyakit yang dideritanya.
Dalam penyampaian informasi, dokter seharusnya dapat menjelaskan dengan kalimat sederhana dan tidak menggunakan istilah medis yang terlalu dominan agar pasien mudah memahaminya. Selain memenuhi hak pasien dalam pengobatan fisik, pasien juga berhak mendapat dukungan psikologis.
Dokter mungkin dapat menyembuhkan pasien dengan ilmu yang dimilikinya, tetapi dengan adanya kemampuan berkomunikasi yang baik melalui pendekatan secara psikologis dan empatik membuat proses pengobatan lebih efektif.
Oleh karena itu, kemampuan berkomunikasi seharusnya menjadi kompetensi utama yang terus dilatih dalam pendidikan kesehatan. Karena tidak hanya dalam dunia kesehatan, tetapi komunikasi menjadi kunci utama untuk jalannya interaksi yang sehat di berbagai aspek kehidupan.***
Oleh: Nabila Putri Tesya, Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
Editor : Bayu Saputra