RIAUPOS.CO - Tidak lama lagi umat Islam akan merayakan Hari Raya Iduladha. Momentum penting yang identik dengan ibadah kurban dan berakar dari kisah keteladanan Nabi Ibrahim. Ibadah kurban tidak hanya memiliki makna spiritual sebagai bentuk ketakwaan dan pengorbanan, tetapi juga memberi dampak ekonomi yang cukup besar, terutama pada sektor peternakan.
Jumlah ternak kurban di Provinsi Riau, cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sapi dan kerbau masih menjadi komoditas utama yang banyak dipilih masyarakat. Namun, tingginya tingkat permintaan hewan kurban tersebut, belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari dalam daerah.
Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau yang dikutip dari Antara News Riau, sekitar 80 persen kebutuhan sapi kurban di Riau masih bergantung pada pasokan dari luar provinsi, sedangkan peternak lokal baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan.
Ketergantungan pasokan kurban dari luar daerah ini, seharusnya menjadi perhatian bersama. Riau sesungguhnya memiliki potensi ternak lokal yang dapat dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan kurban. Salah satunya yaitu Sapi Kuantan atau juga dikenal dengan sebutan “jawi kampung”.
Sapi Kuantan merupakan rumpun sapi lokal Indonesia yang berasal dari Provinsi Riau dan telah ditetapkan secara resmi melalui keputusan Menteri Pertanian RI tahun 2014. Sapi ini dinamakan Sapi Kuantan, karena banyak ditemukan di wilayah sepanjang aliran Sungai Kuantan/Indragiri, yang meliputi tiga kabupaten, yaitu Kuantan Singingi, Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir.
Baca Juga: (SALAH) Hasil Rapat Terbatas Menyatakan Indonesia Masuk Kondisi Darurat Siaga 1
Sebagai ternak lokal, Sapi Kuantan memiliki sejumlah keistimewaan yang menjadikannya layak dikembangkan sebagai primadona hewan kurban di Riau.
Pertama, Sapi Kuantan memiliki daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan dan kualitas pakan yang terbatas. Sapi Kuantan umumnya dipelihara dengan sistem ekstensif, yaitu dilepas merumput sepanjang hari.
Menariknya, Sapi Kuantan ini mampu memanfaatkan beragam jenis hijauan dan bagian tanaman lokal sebagai sumber pakan, mulai dari rumput, leguminosa, daun sagu, daun pisang, daun jambu, daun mangga, daun kopi, daun ubi kayu, hingga limbah dapur dan sisa sayuran.
Kemampuan adaptasi ini, membuat biaya pemeliharaan Sapi Kuantan relatif rendah dibandingkan sapi introduksi. Selain itu, Sapi Kuantan juga berpotensi dikembangkan melalui sistem integrasi dengan perkebunan sawit maupun pertanian padi yang banyak dijumpai di Riau.
Kedua, Sapi Kuantan memiliki ketahanan yang cukup baik terhadap penyakit. Belum ditemukan laporan kematian massal Sapi Kuantan akibat penyakit menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Gangguan kesehatan yang umum dilaporkan berupa parasit seperti cacingan, tungau dan kutu yang relatif lebih mudah ditangani.
Ketiga, Karakter Sapi Kuantan lebih jinak dan mudah ditangani. Hal ini tentu menjadi nilai tambah, baik bagi peternak dalam proses pemeliharaan maupun bagi panitia kurban saat penanganan sebelum penyembelihan.
Baca Juga: Lebih dari Sekadar Diagnosis: Pentingnya Komunikasi dalam Pelayanan Kesehatan
Keempat, Sapi Kuantan juga memiliki kemampuan reproduksi yang baik. Dengan manajemen pakan yang optimal, performa reproduksi Sapi Kuantan masih sangat mungkin untuk ditingkatkan. Upaya pengembangan ini juga mulai didukung dengan pemeliharaan pejantan Sapi Kuantan di UPT Inseminasi Buatan Tenayan Raya, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau, yang diharapkan dapat memperkuat program peningkatan populasi.
Kelima, ditinjau dari sisi ekonomi, harga Sapi Kuantan relatif lebih terjangkau. Kisaran harga per ekor sekitar Rp9-10 juta, sehingga lebih sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan harga jual tersebut, usaha beternak Sapi Kuantan, tetap dapat memberikan keuntungan bagi peternak.
Dengan berbagai keunggulan tersebut, sudah saatnya Sapi Kuantan tidak hanya dipandang sebagai ternak lokal biasa, tetapi sebagai aset strategis daerah. Pengembangan Sapi Kuantan dapat menjadi solusi dalam mengurangi ketergantungan pasokan sapi kurban dari luar daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak lokal.
Oleh Karena itu, diperlukan dukungan sinergis dari berbagai pihak. Pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan yang terintegrasi, seperti penetapan wilayah sumber bibit Sapi Kuantan, penyelamatan betina produktif, penelusuran pejantan unggul hingga perluasan akses permodalan bagi peternak rakyat.
Baca Juga: Mengawal Kerja Pansus Optimalisasi PAD DPRD Provinsi Riau
Perguruan tinggi dan Lembaga penelitian dapat terus mengkaji dan menghasilkan inovasi teknologi dalam rangkat meningkatkan performa bibit dan penyediaan pakan berkualitas, Selain itu, promosi Sapi Kuantan sebagai ternak kurban lokal unggulan juga perlu diperkuat agar masyarakat semakin percaya dan bangga menggunakan ternak lokal.
Pada akhirnya, keberhasilan pengembangan Sapi Kuantan tidak hanya bergantung pada intervensi pemerintah, akademisi, dan peternak, tetapi juga pada dukungan masyarakat sebagai pengguna akhir ternak kurban.
Iduladha seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai ritual ibadah semata, tetapi juga momentum memperkuat ekonomi masyarakat. Memilih ternak lokal untuk kurban merupakan bentuk dukungan nyata terhadap kemandirian peternakan daerah.
Dengan potensi sumber daya pakan yang melimpah dan keberadaan ternak lokal yang adaptif, tidak ada alasan bagi Riau untuk terus bergantung pada pasokan sapi kurban dari luar daerah. Jika potensi ini dikelola secara serius melalui dukungan pemerintah, akademisi, dan masyarakat, bukan tidak mungkin Riau dapat menjadi daerah yang mandiri, bahkan surplus, dalam penyediaan ternak sapi untuk kebutuhan kurban.***
Editor : Arif Oktafian