Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Mengungkap Kepemimpinan Status Quo 

Redaksi • Senin, 6 Juli 2026 | 09:59 WIB
Machasin. (Dosen Prodi Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unri)
Machasin. (Dosen Prodi Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unri)

 

Kepemimpinan status quo adalah gaya manajemen dimana seorang pemimpin cenderung mempertahankan kondisi atau cara kerja saat ini. Pemimpin menghindari perubahan dan berpegang teguh pada prinsip “jika tidak rusak jangan diperbaiki” karena berisiko  menciptakan stagnasi di tengah dinamika pasar yang cepat berubah. Status quo menggambarkan kondisi yang mapan dan umumya diterima oleh berbagai pihak yang terlibat, berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan seperti politik, sosial, ekonomi dan lingkungan. 

Pertanyaannya, apakah anda beserta tim yang saat ini sedang memegang tampuk kekuasaan ingin mempertahankan status quo? Apakah anda memiliki niat dan berupaya menyusun strategi agar kekuasaan tidak jatuh ke tangan orang lain.  

Ada kecenderungan para pemim­pin beserta kroninya yang telah merasakan nikmatnya memegang kekuasaan, selalu ingin mempertahankan kekuasaannya. Berbagai strategi telah dirancang dan direkayasa agar kekuasaan tidak jatuh ke tangan orang lain. Kalaulah jatuh ke tangan orang lain tetap pada lingkaran status quo. Jalur yang ditempuh oleh pemimpin status quo adalah merancang suksesi melalui regenerasi yang diciptakan melalui kendaraan yang aman dan nyaman bagi penumpangnya. Meskipun berganti pemimpin, namun sebagai pemimpin status quo ia mampu mewariskan kepada kelompok binaannya untuk tetap bisa mengintervensi berbagai kebijakan yang menguntungkan pada kelompok status quo. 

Namun perlu disadari bahwa  kehidupan itu tidak ada yang abadi, sebaik  apapun kapasitas seorang pemimpin, jika dia  dikelilingi oleh pengikut yang buruk, maka  cepat atau lambat pengikut itu bisa mendatangkan kehancuran  untuk sang pemimpin. Pengikut yang baik, adalah mereka yang  bisa menghasilkan ide dan nilai. 

Baca Juga: Lebih dari Sekadar Kayu: Riau Berpeluang Bangun Raksasa Ekonomi Baru dari Tetes Nektar Akasia

Mereka  juga harus kritis dan punya pendirian,  sanggup dengan tegas mengatakan ‘tidak’  jika memang diperlukan. Organisasi butuh pengikut yang bisa  menghasilkan ide dan memberikan  masukan. Sebaliknya pemimpin yang baik adalah: Menghormati setiap anggota tim, Tidak mempermalukan bawahan di depan umum, Menjaga etika dan sopan santun, Memberikan perlakuan yang adil, Mau menerima kritik dan saran, Tidak merasa paling benar,  Bersedia mengakui kesalahan, Mengutamakan kerja tim dari pada ego pribadi, Menghargai kontribusi anggota tim, Memberikan pujian secara tulus , Memberikan penghargaan atas prestasi, Mendengarkan dan menghormati ide tim, dan Memberikan motivasi kepada tim. 

Tugas pemimpin bukan membangun tembok raksasa melainkan membangun jembatan, menjadi fasilitator yang mampu mena­vigasi ketidakpastian. Pemimpin yang tidak melakukan upaya serius mengembangkan potensi sumberdaya yang dimiliki akan mengalami dua krisis sekaligus  yaitu krisis kurangnya tenaga kerja terlatih dan krisis munculnya kekosongan kepemim­pinan. 

Oleh karena itu sedari awal para penganut faham status quo agar menyadari bahwa kini dunia berubah dengan cepat, Waktunya untuk Berubah, Waktunya untuk Beradaptasi, saatnya Melangkah Keluar dari Zona Nyaman. 

Suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar,  Mesin perubahan akan terus berjalan. Berubah bukan karena yang lama ‘buruk’ atau’salah’ tetapi yang lama sudah tidak relevan dan tidak kontekstual. Apa yang harus dirubah oleh pemimpin status quo? 

Di antaranya mengubah mindset cara berorganisasi yang professional, mengubah cara bekerja,  Mengubah cara belajar,  Mengubah cara mengelola perusahaan, atau   Mengubah cara mengelola pemerintahan. Jika anda yang saat ini memegang kendali kekuasaan dan ingin melanjutkan karier menuju puncak, lakukanlah perubahan dari model status quo menuju kepemimpinan baru melalui lajur pintu masuk  kepemimpinan transisi.  

Saatnya untuk melakukan perubahan mindset,  dimana pemikiran harus diasah, batin harus diperkaya, dan ketajaman intuisi perlu dikembangkan saat mengha­dapi masalah yang penting dan genting. Pemimpin tidak lagi hanya berfokus pada administrasi, tetapi juga dituntut mampu mengambil keputusan strategis berbasis data, meningkatkan efisiensi kerja, serta memahami kebutuhan karyawan secara lebih cepat dan akurat. Karena itu, inovasi dalam berkarya menjadi kebutuhan, bukan sekadar mempertahankan status quo.  

Terdapat beberapa persyaratan agar kepemimpinan transisi dapat dijalankan dengan baik. 

Pertama, terapkan konsep Change leadership. Merupakan konsep gaya kepimpinan yang  menyatakan bahwa kemampuan seorang pemimpin untuk mengarahkan perubahan dalam organisasi dan harus dapat mengidentifikasi kesempatan perubahan, merancang strategi yang efektif dan mengelola proses implementasi.  

Kedua, menerapkan Catalytic leadership, yakni konsep gaya kepimpinan yang berfokus untuk merangsang perubahan dan inisiatif baru, dengan mendorong kelompok untuk menciptakan perubahan yang diperlukan guna mengatasi status quo.  

Ketiga, Adaptive leadership, merupakan konsep gaya kepimpinan yang melibatkan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang cepat, sehingga akan membantu organisasi mengatasi hambatan dan mene­mukan solusi baru dalam menghadapi perubahan. 

Baca Juga: Biarkan BGN Benahi Tata Kelola MBG

Sementara itu sifat yang harus dimiliki pemimpin dalam menghadapi kepemimpinan transisi yakni: Terbuka terhadap perubahan, Pemahaman mendalam tentang organisasi,    Kemampuan berkomunikasi dengan efektif, Inspirasi dan motivasi, kolaborasi dan partisipasi, dan yang paling penting punya komitmen untuk kepentingan masyarakat agar mampu dan mau berubah. 

Kepemimpinan di masa transisi dalam konteks apa pun, menandai perubahan yang signifikan dan menghadirkan tantangan yang kompleks. Pemimpin di masa transisi tidak hanya menjadi pembawa visi, tetapi juga pemersatu, meredakan konflik, membangun konsensus, dan memastikan bahwa semua pihak terlibat merasa didengar dan dihormati.  Disamping itu kepemim­pinan di masa transisi juga menuntut kebijaksanaan dalam memanfaatkan teknologi dan inovasi. Pemimpin perlu memahami peran teknologi dalam memfasilitasi perubahan dan meningkatkan efisiensi, mempercepat proses transisi dan menciptakan keunggulan kompetitif.

Terdapat beberapa prinsip agar kepemimpinan transisi dapat dijalankan dengan sasaran yang jelas. Pertama, Prinsip Transparansi,  Anda harus transparan menginformasikan apa tujuan, manfaat dan konsekuensi dari inisiatif perubahan yang akan dilakukan.   

Kedua,  Prinsip Tanggung jawab. Anda harus bisa membangun rasa memiliki, dimana rasa memiliki ini akan membuat orang merasa bertanggung jawab atas konsekuensi yang akan terjadi pada proses perubahan yang akan di inginkan. 

Ketiga,  Prinsip keteladanan Anda harus menjadi contoh dari perubahan yang anda inginkan. Apabila perilaku anda tidak mencerminkan perubahan yang anda inginkan, jangan harap orang lain akan mela­kukannya. Kuasai manajemen perubahan, agar perubahan yang anda lakukan berhasil dan berkelanjutan. Keempat, punya keberanian tinggi, punya  reputasi dan pengalaman serta punya komitmen untuk kepentingan masyarakat yang mampu mengadakan perubahan yang mendasar dari pertumbuhan menjadi percepatan dan berkeadilan serta berkesinambungan. 

Kelima, Memanfaatkan situasi transisi sebagai peluang untuk menciptakan perubahan positif dan meningkatkan keadaan yang sebelumnya sulit. sebagai pemersatu dan mediator yang bertindak sebagai pihak netral untuk membantu meredakan konflik dan mencari solusi yang dapat diterima oleh semua pihak. Keenam, Digitalisasi menuntut peran pemimpin pada masa transisi sebagai peluang untuk menciptakan perubahan positif dan meningkatkan kinerja yang lebih baik dan mendorong anggota tim atau masyarakat untuk mengadopsi dan menerapkan konsep perubahan.  

Kematangan pemimpin transisi terlihat dari integrasi kata dan perbuatan yang menciptakan keselarasan dan sinergi antara berbagai elemen dalam organisasi hingga tujuan dapat dicapai secara efektif, efisien dan berkelanjutan. 

Pemimpin harus mampu melihat organisasi sebagai sistem yang saling terhubung. Setiap keputusan yang diambil berdampak kepada aspek lain, sehingga memerlukan pemikiran yang menyeluruh dan strategis. Kepemimpinan tidak hanya dimiliki oleh individu dengan jabatan tertentu, tetapi harus dimiliki oleh seluruh anggota organisasi. Setiap individu didorong untuk memiliki inisiatif, tanggung jawab, serta kemampuan berkontribusi terhadap pencapaian tujuan organisasi. 

Baca Juga: Dari Moratorium Rekrutmen ke Lompatan Mutu ASN Riau

Pada organisasi modern yang sarat dengan kompleksitas dan dinamika perubahan yang cepat, kepemimpinan tidak lagi dapat dipahami secara tunggal melalui gaya tertentu. Dibutuhkan suatu pendekatan kepemimpinan yang tidak hanya adaptif, tetapi juga mampu mengintegrasikan berbagai aspek yang saling terkait dalam organisasi.

Pendekatan kepemimpinan idealnya mampu menyatukan unsur kepribadian, nilai, perilaku, sistem, dan konteks sosial secara sinergis untuk mencapai tujuan bersama. Karena itu pengelolaan sumber daya manusia yang efektif dalam era transisi melibatkan kombinasi strategi SDM dengan inovasi yang relevan untuk mengatasi tantangan yang muncul selama perubahan. 

Kepemimpinan yang ideal dan profesional menekankan kolaborasi, koordinasi, dan sinergi antara berbagai aktor untuk menyelesaikan masalah kompleks secara kolektif. Sehingga dapat dipahami sebagai gaya kepemimpinan yang menekankan keseimbangan antara kepemimpinan diri, kepemimpinan antar individu (interpersonal), dan kepemimpinan sistemik (organisasional). Pemimpin tidak hanya memimpin dari atas, tetapi juga dari dalam dan dari samping yakni menjadi bagian dari sistem dan jaringan kerja yang lebih luas. 

Semoga, anda yang saat ini memegang kekuasaan sebagai pemim­pin, bisa memahami hakikat kepemimpinan, kekuasaan dan kesantunan dalam bersikap dan berperilaku demi masa depan organisasi.***

 

Editor : Arif Oktafian
#Kepemimpinan Transisi #Status Quo #kepemimpinan