Olahraga adalah cermin kemajuan suatu daerah. Di balik setiap medali yang diraih, terdapat kerja keras atlet, dedikasi pelatih, dukungan pemerintah, serta kepemimpinan organisasi olahraga yang profesional. Karena itu, keberhasilan ataupun kegagalan prestasi olahraga tidak boleh dibebankan semata-mata kepada atlet, melainkan harus menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pemangku kepentingan, terutama organisasi yang diberi mandat melakukan pembinaan.
Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) merupakan organisasi yang memiliki tanggung jawab strategis dalam mengoordinasikan pembinaan olahraga prestasi. Amanah tersebut bukan sekadar mengelola administrasi organisasi, tetapi memastikan lahirnya atlet-atlet berprestasi melalui sistem pembinaan yang terencana, berkelanjutan, transparan, dan berorientasi pada hasil.
Provinsi Riau memiliki semua prasyarat untuk menjadi kekuatan olahraga nasional. Namun potensi tersebut belum sepenuhnya mampu diterjemahkan menjadi prestasi yang membanggakan. Sejumlah atlet terbaik bahkan memilih memperkuat provinsi lain. Fenomena ini menjadi alarm bahwa sistem pembinaan, penghargaan, kesejahteraan atlet, dan tata kelola organisasi perlu dibenahi secara serius.
Baca Juga: Mengungkap Kepemimpinan Status Quo
Menjelang Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov), harapan insan olahraga adalah lahirnya kepemimpinan yang bersih, profesional, dan berintegritas. Musorprov merupakan forum demokrasi tertinggi organisasi yang harus berlangsung secara jujur, terbuka, dan bermartabat.
Dalam dinamika menjelang Musorprov berkembang berbagai keluhan mengenai dugaan adanya tekanan, keberpihakan, maupun intimidasi terhadap pemilik hak suara. Apabila praktik-praktik demikian benar terjadi, maka hal tersebut bertentangan dengan nilai sportivitas dan demokrasi organisasi. Tidak boleh ada rasa takut dalam menggunakan hak suara, serta tidak boleh ada penyalahgunaan jabatan untuk memengaruhi keputusan organisasi.
Yang dibutuhkan olahraga Riau bukan sekadar figur ketua, melainkan pemimpin yang mampu menyatukan seluruh cabang olahraga, membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan, mengelola anggaran secara transparan, serta memperjuangkan kesejahteraan atlet dan pelatih.
Baca Juga: Mengapa Merek Besar Tetap Bisa Kehilangan Pelanggan?
Musorprov harus menjadi titik balik perubahan. Marwah KONI harus dikembalikan sebagai rumah besar seluruh insan olahraga. Kompetisi hendaknya dilakukan melalui gagasan, rekam jejak, integritas, dan program kerja, bukan melalui tekanan ataupun intimidasi.
Jabatan hanyalah titipan, sedangkan prestasi adalah warisan. Kekuasaan memiliki batas waktu, tetapi pengabdian kepada olahraga akan dikenang sepanjang sejarah.***
Editor : Arif Oktafian