Beberapa hari ini media sosial mdan edia online penuh dengan berita pemakaman pemimpin tertinggi negara Iran: Ayatollah Ali Khamenei. Ada sekitar 20 juta orang rakyat Iran menghadiri pemakaman tersebut. Jadi, sekitar seperlima rakyat Iran-jumlah keseluruhan 90 juta jiwa-datang pada pemakaman tersebut. Walhasil, ini menjadi peristiwa pemakaman terbesar di era modern.
Penghormatan juga datang dari utusan negara luar negeri. Hadir lebih dari 30 kepala negara dan 100 lebih pejabat tinggi negara asing pada prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei. Di tengah krisis geopolitik Iran vs AS dan Israel, peristiwa tersebut menunjukan bahwa pemerintah negara Iran mempunyai legitimasi politik yang sangat kuat di dunia internasional.
Ia telah memainkan strategi catur politik yang sangat cantik. Kekuatan baru di Timur Tengah bukan lagi AS atau Israel, tapi Iran. Ditengah segala bentuk embargo ekonomi dari AS selama berpuluh-puluh tahun, Iran bergerak dalam kesunyian menjadikan diri raksasa politik yang mengguncangkan seluruh strategi politik internasional. Kini dunia internasional benar-benar terbelah dalam menentukan sikap sikap-apakah tetap bersekutu dengan AS dan Israel atau Iran.
Baca Juga: Analisis: Mengapa Rekam Jejak Kepemimpinan Penting dalam Memilih Rektor Perguruan Tinggi
Legitimasi politik Ayatollah Ali Khamenei luarbiasa. Ia bukan hanya simbol kekuatan perlawanan politik terhadap kaum imperialisme-dalam hal ini barat dan Israel- tapi juga perlawanan politik spiritual dengan kekuatan melawan hawa nafsu.
Media-media sosial, youtube, media online dan media elektronik pemerintah Iran dan pro terhadap pemerintahannya telah membangun image sangat positif tentang ajaran-ajaran agama Islam yang sangat membumi di hati masyarakat. Ketika Ayatollah Ali Khamenei berbicara tentang hidup penuh kesyuhudan, ia telah mencontohkan pada dirinya.
Baju gamis yang ia pakai adalah baju gamis tiga puluh tahun yang lalu. Rumah yang ia tempati dan rumah-rumah anak-anaknya adalah rumah kontrakan. Padahal, Ali Khamenei telah berkuasa selama 36 tahun lebih 9 bulan sebagai pemimpin tertinggi Iran. Akhir hidupnya, ia tidak mempunyai kekayaan kecuali kekayaan berupa rasa cinta rakyat Iran kepada nya.
Baca Juga: Rektor, Guru Besar dan Masa Depan Kebijakan Negara
Ketika berbicara cinta, saya sungguh tersentuh saat ada seorang anak laki-laki yang masih berusia sekitar 12 tahun datang di hadapan Ali Khamenei. Ia datang meminta doa agar bisa mati syahid membela agama dan negara. Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Ali Khamenei menasihat kepadanya agar belajar agama yang rajin, menuntut ilmu yang luas, hingga usia mencapai 80 tahun baru bisa mati syahid.
Pada salah satu pidato yang sangat menyentuh hatiku yaitu ketika Ali Khamenei juga menggambarkan seorang istri seperti oksigen. Istri adalah sumber kehidupan yang terus memberi nafas kehidupan sepanjang masa. Istri laksana mewangian yang terus menerus memberi kesegaran dan keharuman kepada suami dan anak-anaknya.
Keberanian melawan imperialisme, keteguhan terhadap pola hidup syuhud, dan kelembutan terhadap kaum perempuan, anak-anak serta kecintaan yang tulus terhadap rakyatnya menyebabkan masyarakat Iran sangat kehilangan nya. lautan tangisan benar-benar menyelimuti wilayah Iran. Bahkan aura kesedihan yang mendalam bahkan menembus batas-batas teritorial negara asing.
Baca Juga: KONI Riau di Persimpangan Jalan: Mengembalikan Marwah, Membangun Prestasi
Walhasil, di tengah masyarakat yang sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap para pemimpin di wilayah masing-masing, kisah hidup dan ajaran-ajaran Ayatollah Ali Khamenei benar-benar sangat menginspirasi masyarakat tentang pentingnya mempunyai pemimpin yang syuhud, membumi, memahami denyut nadi masyarakat dan hidup benar-benar untuk kepentingan masyarakat, bangsa, negara dan agama.
Benar, kita berbeda ideologi dengan Iran. Namun inti seni memimpin tetap sama yaitu memulyakan manusia, dan memanusiakan masyarakat yang dipimpinnya. Rasanya ini telah hilang saat sekarang ini. Semoga kita mendapatkan keberkahan lahir pemimpin yang hidup untuk kepentingan rakyatnya, bukan kantong pribadinya.***
Editor : Arif Oktafian