Gen Z: Di Ambang Krisis Tujuan Hidup dan Himpitan Ekonomi

Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 11:58 WIB
Desi Melza, Pegiat Literasi Islam Pekanbaru.
Desi Melza, Pegiat Literasi Islam Pekanbaru.

 

Meningkatnya kebutuhan hidup tidak diiringi dengan meningkatnya penghasilan. Hal ini dirasakan seluruh masyarakat bahkan Gen Z juga terkena imbasnya. Faktanya nya lebih dari 48 persen Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. 

Namun, bagi banyak Gen Z, membeli sesuatu setelah menerima gaji merupakan cara sederhana untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri setelah bekerja selama sebulan penuh. Lalu muncul pertanyaan, apakah kebiasaan self-reward benar-benar mencerminkan gaya hidup konsumtif, atau justru menjadi cara generasi muda bertahan mengha­dapi tekanan ekonomi dan psikologis? (kompas.com, 12/08/2026)

Inilah konsep hidup yang menjadi kebiasaan Gen Z. Dengan dalih self reward dan  gaya hidup  yang mereka ang­gap sebagai kebutuhan emo­sional bukan kemewahan atau pemborosan. Padahal perasaan tidak aman mereka terhadap kondisi finansial tetap membuat mereka mengikuti apa yang menjadi kebutuhan emosional saja. Apalagi dengan tekanan ekonomi yang semakin menghimpit, hal tersebut masih merupakan kewajaran bagi sebagian Gen Z. 

Berjuang Sendiri demi Kehidupan
Kehidupan hari ini jauh dari kata sejahtera. Segala himpitan datang dari segala arah. Mulai dari himpitan ekonomi, gaya hidup dan juga tuntutan finansial keluarga. Apalagi sistem kehidupan yang diemban masyarakat saat ini merupakan akar dari segala permasalahan yang ada. Sistem kapitalisme yang melahirkan mo­del kehidupan yang bebas dan memandang apapun berdasarkan keuntungan materi semata. Inilah yang kebanyakan generasi rasakan saat ini.

Sistem kapitalisme menciptakan tekanan ekonomi yang menghimpit Gen Z. Keti­ka biaya hidup terus merangkak naik namun gaji stagnan. Dalam konsep kapitalisme negara hanya sebagai regulator saja dan tidak mengambil peran yang benar-benar menjamin kebutuhan dasar setiap rakyatnya. Akhir­nya generasi muda hanya berjuang sendiri.

Hal yang ma­kin memperparah tekanan ekonomi tersebut adalah gaya hidup seku­ler-liberal. Ketika agama dijauhkan dari kehidupan dan asas kebebasan yang melandasi hidup mereka. Ketika self reward, healing dan konsumsi hedonis mereka jadikan sebagai solusi pelarian dari seluruh beban kehidupan mereka yang datang dari segala sisi. Ditambah lagi dengan munculnya fenomena di media sosial yang merasuki pemikiran generasi dengan tren populer yang memicu FOMO dan budaya konsumerisme.

Namun, ada krisis yang lebih dalam lagi yaitu Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Segala sesuatu mesti diukur dengan kenikmatan materi semata dan bukan dari pengharapan akan Rida Allah SWT dan kemuliaan Islam.

Bimbingan Hidup Terbaik Bagi Generasi
Islam merupakan solusi bagi seluruh permasalahan manusia. Termasuk permasalahan generasi yang menyangkut finansial, krisis tujuan hidup bahkan budaya liberalisme. Ketika Gen Z mengalami tekanan ekonomi dikarenakan sistem hidup saat ini jauh dari Islam. Padahal Islam sudah memberikan aturan bahwa negara yang mesti memenuhi kebutuhan dasar seluruh rakyatnya. 

Apalagi dengan keberlimpahan SDA (Sumber Daya Alam) yang ada di negeri ini harusnya mampu memastikan seluruh rakyat mera­sakan hasil dari pengelolaan SDA tersebut. Melalui mekanisme penyediaan lapa­ngan pekerjaan yang mampu menyerap tenaga kerja bagi setiap laki-laki sehingga da­pat menafkahi keluarganya dan rakyat tidak akan berjuang sendiri. 

Disamping itu, Islam juga menutup pintu dan celah masuknya gaya hidup hedo­nis demi melindungi generasi. Terutama dari media sosial dengan memfilter bahkan menghapus  konten yang merusak seperti kapitalisme - sekulerisme dan turunannya. Berbeda dengan media yang ada di dalam Islam yang hanya diarahkan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyat.

Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah dalam QS. Adz-Dzariyat:56 yang artinya  “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku” 

Dengan akidah yang kokoh, generasi akan memiliki visi sebagai pembangun peradaban Islam. Wallaahu a’lam bi ash shawaab.***

Oleh: Desi Melza, Pegiat Literasi Islam Pekanbaru

Editor : Arif Oktafian
ambang krisis ekonomi genz haji