Jalan Sunyi Ditengah Mengejar Popularitas 

Tim Redaksi • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 10:32 WIB
MARA ONGKU Hsb. (jpg)
MARA ONGKU Hsb. (jpg)

Ada satu perkataan Menteri Agama yang menarik satu quotenya majhul fil ard, ma’lum fi al-sama’ artinya tidak dikenal di dunia tapi dikenali di langit, dalam keterangan quote tersebut ia mengatakan sebuah harapan kepada para penghafal Al-Qur’an masa kini hendaknya jangan menjadikan hapalan Al-Qur’an untuk dipertontonkan di televisi. Tetapi nilainya tidak diamalkan, tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai living Al-Qur’an, maksudnya Al-Qur’an sebagai kehidupan. Masih terdapat juga sebagian yang memegang agama tetapi perilakunya bukan seperti pemegang agama itu sendiri. 

Inilah sebab jalan sunyi meskipun gelap jauh dari keviralan masa kini. Tetapi satu jalan terang dan cahaya untuk sampai kepada jalan menuju Tuhan. Tidak ada salahnya kalau mengejar viral hari ini, namun tidak pula berlebihan kalau untuk mengimbangi mengikuti  trend. Tentu sangat diperbolehkan, bahkan ada ulama yang berpendapat para da’i pun harus ikut trend untuk membentengi aliran-aliran di media sosial yang mulai merusak tatanan nilai yang sudah bagus dan diamalkan oleh penduduk kearifan lokal.

Jalan sunyi itu membawa alam piki­ran manusia untuk melihat dirinya sesungguhnya. Betapa banyak manusia di depan orang ramai terlihat alim, cukup ketat dalam agama. Tetapi ketika ia sendirian di dalam kamarnya mulai hilang kealimannya,  kembali ke habitatnya. Bagaimana ia dahulunya ia lepaskan iman dan kehati-hatiannya 

Baca Juga: Silent Leadership: Pemimpin Berdampak Nyata

Bagus juga kita melihat apa yang dikatakan Ulil Absar Abdallah dalam bukunya “Manusia Rohani” dengan julukan manusia kamar lawan dari manusia sosial. Manusia kamar di sini ialah orang yang mengabdikan dirinya menjauh dari keramaian untuk menerpa jalan Illahi menunduk dan memperbanyak zikir baik di tengah keramaian apalagi di tengah sendirian. Beruntung jika ada yang mampu berbuat seperti ini di tengah zaman yang serba semua harus di sosialisasikan.

Rugi juga kalau salah niat. Dia mengurung diri di kamar tapi tidak mendekat kepada Tuhan. Tapi menemani setan berbuat hal-hal yang negatif. 

Selain itu, pengalaman jalan sunyi sangat banyak ditemukan di dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya banyak orang ingin tampil ingin mendapat pujian dari manusia agar disebut hebat, pandai, semuanya multi talenta. Disaat itu ada juga sosok manusia yang tidak mau tampil. Sekalipun ia kaya akan multitalen, ia tidak ingin kehebatannya itu membawa petaka.

Baca Juga: PDRB Riau Besar, APBD Jangan Jalan di Tempat 

Patut menjadi concern bagi semua kalangan. Saat ini muncul sosok nama yang dipanggil Mbah Riyan. Padahal orangnya masih muda tetapi dipanggil ‘mbah’. Sejatinya panggilan ‘mbah’ itu adalah untuk orang yang sudah berumur, sudah dituakan. Tetapi ia dipanggil mbah karena ketinggian ilmunya yang mencuat ke dalam antar negara.

Ia sudah terpilih sebagai kategori ulama yang banyak menulis karya-karya dan mentahqiq kitab-kitab turas Islami dapat penghargaan dari Majelis Ulama Indonesia pusat. Namun Mbah Riyan enggan menerima permintaan tersebut. Dia lebih memilih jalan sunyi tetap di kampung halamannya menjadi seperti orang biasa di kampung semestinya tidak mau dibangga-banggakan.

Karakter seperti tersebut bukanlah karakter biasa di era disrupsi masa kini. Dimana semua ingin tampil di depan. Disebut sebagai superman, manusia hebat. Tetapi ada yang memilih jalan sunyi karena jalan itu lebih membuat kekuatan Ilmu seseorang terus terjaga.

Baca Juga: SDM dan Kompetensi Tenaga Kerja Sektor Pariwisata

Imam al-Ghazali pernah menyebut teori uzlah yaitu menjauh dari keramaian untuk mendekatkan diri kepada Tuhan adalah jalan yang paling efektif. Dibanding sibuk mencari popularitas yang tidak kunjung selesai. Al-Ghazali pernah menjabat sebagai rektor Universitas Nizamiyah di zaman Abbasiyah yang merupakan kampus Islam sangat populer dan terkenal kaya akan peradaban Islam. 

Akan tetapi semua itu tidak berjalan lama. Beliau menikmati puncak keemasan itu hanya sekitar lima tahun saja. Beliau segera mengundurkan diri dan meninggalkan semua kehormatan duniawi. Ada panggilan hati dan suara hati nurani atau bisikan rahmani yang datang dengan kekuatan penuh seakan suara itu mengajak dirinya meninggalkan segala kehormatan duniawi untuk meraih kehormatan ukhrawi yang hakiki. Hingga pada akhirnya al-Ghazali merasa harus kembali kepada jalan para nabi serta para sahabat nabi. 

Yaitu menempuh jalan kehidupan yang zuhud  (tidak cinta dunia) dan wara’ (menjauhi hal-hal yang samar). Serta memaksakan diri untuk mematikan segala dorongan hawa nafsu yang dapat menghilangkan segala keraguan. Beliau yakin bahwa tasawuf lah yang dapat menghilangkan segala karaguan dan kegalauan yang melanda jiwanya dan dengan ilmu membersihkan hati. Dari situlah ia mendapatkan keyakinan yang benar.

Baca Juga: Disonansi Moral di Balik Asap 

Kekosongan jiwa dan kegalauan hati sikap Imam al-Ghazali tersebut sangat relevan. Segera cepat diambil tindakan supaya setiap jiwa manusia kembali kepada kebahagiaan menghilangkan stres tingkat tinggi. Bahkan sampai depresi tidak tahu jalan hidup yang sebenarnya. Apalagi kalau sudah mendapatkan semuanya. Harta sudah banyak, semua keinginan terpenuhi tetapi jiwa kosong. Tidak pernah sadar dan nyaman jalan sunyi menjadi solusi untuk meredanya sehingga tahu dirinya siapa dan kemana perginya.*** 

Editor : Arif Oktafian
Jalan Sunyi Tasawuf Opini riau pos