PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kabut asap terlihat muncul di wilayah Pekanbaru dan sekitarnya, Rabu (12/11). Meski tipis, kabut asap ini mengeluarkan aroma tak sedap, yakni bau asap dari kebakaran. Kondisi ini pun dikeluhkan warga dan harus menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.
Pantauan Riau Pos di Jalan Citra Labersa dan Jalan Kaharuddin Nasution Kecamatan Bukit Raya, sejak pukul 06.000 WIB hingga 08.00 WIB, aroma asap yang cukup menyengat pernapasan mulai mengganggu kenyamanan masyarakat sehingga banyak yang menggunakan masker.
Salah seorang warga Jalan Citra Warga Keluhkan Kabut dan Bau Asap Menyengat Labersa Kecamatan Bukit Raya bernama Wenny Surahman mengaku, aroma asap mulai menyengat dan membuat tenggorokan terasa kering serta perih sehingga aktivitas masyarakat terganggu.
Dirinya pun harus mengunakan masker saat mengantar anaknya ke sekolah. “Iya bau asapnya sudah mulai menyengat, terasa sakit di tenggorokan. Sepertinya Pekanbaru sudah diselimuti kabut asap lagi. Lihatlah jalannya juga terlihat berkabut sejak pagi tadi (kemarin, red),” ujarnya saat ditemui Riau Pos, kemarin.
Kondisi udara terasa tidak nyaman dan berbau menyengat juga dikeluhkan warga di kawasan Jalan HR Soebrantas hingga Desa Rimbo Panjang, Kampar. Marini, warga Jalan Garuda Sakti mengatakan, selama dua hari terakhir banyak warga yang mulai mengeluhkan udara yang menimbulkan gangguan pada tenggorokan.
Bahkan aroma asap sisa pembakaran juga terasa cukup pekat dan membuat banyak anak-anak mengalami batuk. “Terasa sekali bau asapnya, sudah menyebabkan banyak anak-anak terserang batuk. Semoga kabut asap ini tidak berlangsung lama agar tidak mengganggu kesehatan anak-anak,” harapnya.
Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG ) Pekanbaru titik panas wilayah Sumatera sejak pukul 16.00 WIB hanya tersisa 3 yang tersebar Sumatera Barat 1 dan Riau ada 2 tersebar Kabupaten Kampar. ‘’Visibilitas Pekanbaru berkisar 10 km, Rengat 7 km, Pelalawan 10 km, dan Tambang 10 km,” jelas Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru Deby C.
Terkait perubahan kualitas udara, BMKG Stasiun Pekanbaru melaporkan adanya fluktuasi signifikan. Meskipun secara umum berada di kategori sedang pada Rabu (12/11). Riwayat data menunjukkan adanya lonjakan yang mengkhawatirkan. Pada pukul 10.00 WIB, indikator PM2.5 berada di angka 31,6µg/m 3, konsisten dengan kategori sedang yang berlangsung sejak malam sebelumnya. Namun, data BMKG mengungkap momentum krusial pada dini hari kemarin. Kualitas udara Pekanbaru sempat terperosok tajam ke kategori tidak sehat.
Pada pukul 01.00 WIB dan 02.00 WIB, konsentrasi PM2.5 mencapai angka 135µg/m 3, sebuah level yang dapat merugikan kesehatan pada kelompok rentan. Hal ini menjadi peringatan keras akan ancaman cepat perubahan kondisi udara.
Bahkan bahaya partikulat halus seperti PM2.5 yang terdeteksi BMKG sangat berbahaya karena ukurannya yang sangat kecil (kurang dari 2.5 mikrometer). Partikel ini dapat menembus jauh ke dalam saluran pernapasan dan bahkan masuk ke aliran darah.
Paparan kabut asap dalam jangka panjang berisiko meningkatkan risiko gangguan paru-paru, iritasi mata, dan memperburuk kondisi penderita asma serta penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Meskipun BMKG menyebut kondisi angin di atas Riau bertiup lambat sehingga mengisolir asap, fenomena ini tidak lepas dari keberadaan titik panas, terutama dari wilayah selatan Riau dan sekitarnya seperti Jambi yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sering kali melibatkan pembukaan lahan secara tidak berkelanjutan.
“Masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi kualitas udara, mengurangi aktivitas di luar ruangan, dan memastikan penggunaan masker yang efektif, seperti N95 bila terpaksa beraktivitas di luar,” tegasnya.
Ya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau saat ini masih menerima laporan adanya karhutla di empat daerah. Yakni di Kabupaten Kampar, Rokan Hilir (Rohil), Siak, dan Bengkalis.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal mengatakan, di empat daerah tersebut hingga saat ini masih terus dilakukan pemadaman oleh petugas gabungan. Saat melakukan pemadaman, tim juga sempat mengalami kendala dalam mendapatkan sumber air. “Tim gabungan masih terus melakukan pemadaman,” katanya.
Sementara itu, untuk karhutla di Indragiri Hilir (Inhil) dan Indragiri Hulu (Inhu) yang sebelumnya sempat terpantau cukup besar, saat ini sudah dalam proses pendinginan, namun terus dilakukan pemantauan. “Di Inhil dan Inhu saat ini sudah proses pendinginan. Tapi tim terus melakukan pemantauan agar tidak lagi muncul titik api,” ujarnya.
Sementara itu, untuk kabut asap yang sempat dirasakan warga Pekanbaru, pihaknya menduga berasal dari karhutla yang terjadi di Kampar, pasalnya lokasinya berdekatan dengan kota Pekanbaru. “Kalau asap di Pekanbaru kemungkinan dari Kampar karena lokasi dekat,” sebutnya.
Untuk melakukan penanganan karhutla di Riau, pihaknya kembali mengajukan bantuan helikopter water bombing. Pasalnya, helikopter yang sebelumnya di Riau sudah ditarik ke pusat karena habis kontrak. “Kami sedang mengajukan bantuan helikopter lagi mengingat saat ini masih terjadi karhutla di Riau,” ujarnya.
Namun demikian, pihaknya menyebut secara umum karhutla di Riau saat ini masih terkendali. Meskipun tidak ada helikopter water bombing, pihaknya memaksimalkan tim darat dalam memadamkan karhutla. “Walaupun masih ada Karhutla, tapi masih terkendali. Beberapa daerah juga sudah turun hujan meskipun intensitas nya masih rendah,” sebutnya.
BPBD Inhil Fokus Penanganan di Kempas Api yang menghanguskan sekitar 46 hektare lahan di Desa Pancur, Kecamatan Keritang, Indragiri Hilir berhasil dipadamkan. Saat ini petugas gabungan dari Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Inhil bersama Manggala Agni, TNI, Polri dan Masyarakat Peduli Api (MPA) fokus pemadaman di Desa Pekan Tua, Kecamatan Kempas.
“Alhamdulillah, karhutla di Desa Pancur yang sempat meluas saat ini berhasil dipadamkan oleh tim gabungan,” ujar Kalaksa BPBD Inhil R Arliansyah melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik Ari Syuria, Rabu (12/11). “Kami saat ini fokus di Pekan Tua. Tim sedang melakukan pemadaman dan pendinginan di lokasi,” tambahnya.
Meski demikian, TRC BPBD Inhil terus melakukan koordinasi dengan petugas kepolisian dan masyarakat di Desa Pancur untuk memantau jika titik api kembali muncul. “Meski pemadaman dan pendinginan sudah dilakukan, tapi karena tanah gambut sehingga dengan hawa panas bisa timbul api. Jadi koordinasi terus kami lakukan,” ucap Ari.
Selain itu, BPBD Inhil juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan dibakar atau membuang puntung rokok sembarangan di lahan. “Daerah kita belum ada turun hujan sehingga tanah gambut rawan terbakar. Jadi kami minta kerjasamanya dengan masyarakat,” tutur Ari.
Pekanbaru Berpotensi Karhutla Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Pekanbaru Tekad Indra Perdana Abidin mengingatkan bahwa Pekanbaru juga memiliki wilayah yang berisiko terjadinya karhutla karena Pekanbaru juga masih banyak lahan kosong.
Hal ini menjadi sorotan Tekad menyusul meningkatkan angka karhutla di sejumlah wilayah di Provinsi Riau. Bahkan kabut dan bau asap sudah mulai dilaporkan warga di wilayah Pekanbaru yang berbatasan dengan Kampar. Atas fakta dan potensi kebakaran itu, politisi PDIP ini meminta seluruh satuan kerja terkait untuk mengambil langkah cepat dan berkoordinasi dalam menangani persoalan tersebut.
‘’Kita minta kepada tim BPBD Kota Pekanbaru untuk dapat melaksanakan tugasnya sebaik mungkin. Kepada Kalaksa tolong diperhatikan juga kesejahteraan para tim yang bertugas di lapangan yang bekerja keras memadamkan api di tengah cuaca ekstrem,’’ ujar Tekad.
Tekad mendorong BPBD Kota Pekanbaru berkoordinasi secara intens dengan BPBD Provinsi Riau serta Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP). Hal ini guna untuk pemetaan dan antisipasi serta guna percepatan proses pemadaman di titik-titik berisiko tinggi karhutla.
‘’Cuaca di Kota Pekanbaru saat ini cukup ekstrem. Karena itu, camat dan lurah juga harus ikut turun memonitor wilayahnya masing-masing. Masyarakat juga perlu diingatkan agar tidak membakar lahan maupun membuang puntung rokok sembarangan,’’imbaunya.
Tekad meminta perpanjangan tangan pemko di wilayah rawan karhutla seperti di kawasan gambut di kawasan Payung Sekaki lebih cekatan lagi. Pasalnya, hampir setiap kemarau panjang ada kejadian kebakaran di daerah ini.(ayi/sol/*2/end/das)
Laporan TIM RIAU POS, Pekanbaru
Editor : Rindra Yasin