BINAWIDYA (RIAUPOS.CO) – Pengerjaan perbaikan jalan dan drainase di kawasan Jalan Merpati, Kelurahan Simpang Baru, Kecamatan Binawidya mendadak terhenti. Proyek yang berada di lingkungan Perumahan Lumba-Lumba ini terpantau mangkrak selama hampir tiga pekan terakhir.
Kondisi ini dikeluhkan warga sekitar karena kondisi drainase yang mampet menyebabkan air kotor meluap menggenangi badan jalan.
Pantauan Riau Pos, Kamis (7/5) badan jalan yang sebelumnya sempat dibongkar kini dibiarkan dan tergenang. Meski terdapat penanda berupa benang di sekitar trotoar sepanjang Jalan Cendrawasih sampai Jalan Merpati, tidak terlihat adanya aktivitas pekerja maupun alat berat yang melanjutkan proyek di lokasi tersebut.
Yohanes, warga yang tinggal di lokasi tersebut mengungkapkan kekecewaannya. Menurutnya, pembongkaran jalan dan drainase dilakukan sekitar satu bulan lalu. Ia katakan, masyarakat sangat berharap dengan adanya pengerjaan drainase dan ruas jalan ini dapat menjadi solusi atas masalah banjir yang kerap melanda kawasan tersebut.
Namun nyatanya, hingga kini perbaikan tidak kunjung selesai. Akibatnya, genangan air sudah mulai menghitam dan mengeluarkan aroma yang tidak sedap bagi masyarakat.
”Pengerjaannya hanya berlangsung sekitar 4 sampai 5 hari saja setelah dibongkar, lalu mereka (pekerja) stop. Sudah ada sekitar tiga minggu ini belum ada kelanjutannya. Kami tidak tahu apa kendala pastinya hingga pengerjaan ini ditinggalkan begitu saja,” ujar Yohanes.
Hal senada juga diungkapkan oleh Mariani warga lainnya. Menurutnya terhentinya proyek ini berdampak langsung pada mobilitas harian warga setempat.
Baca Juga: Saksi Sebut Rp150 Juta Mengalir ke TAPD, Untuk Ikut FGD ke Kemendagri
Di mana jalan yang dibongkar merupakan akses utama bagi penghuni perumahan dan jalur bagi pengantar logistik maupun kurir makanan. Akibat kondisi jalan yang tak kunjung selesai, warga terpaksa memutar arah melalui jalur alternatif yang lebih jauh.
Apalagi, masalah drainase di Jalan Merpati memang menjadi persoalan menahun. Dimana air kiriman dari arah Jalan Cendrawasih tumpah ke kawasan ini karena kapasitas parit yang tidak memadai, diperparah dengan posisi pemukiman yang lebih rendah dari badan jalan utama.
”Setiap hujan lebat, di sini jadi titik tumpuan banjir. Air tumpah semua ke sini karena paritnya tidak sanggup menampung debit air yang besar. Rencananya memang mau dibuatkan parit besar untuk dialirkan ke arah Bangau, tapi sekarang malah berantakan begini,” jelasnya.
Bahkan saat hujan mengguyur kota Pekanbaru, ditambahkan Mariani ketinggian air banjir di jalanan bisa mencapai paha orang dewasa, sementara di dalam rumah bisa mencapai setinggi lutut.
Dirinya berharap pihak kontraktor terkait untuk segera melanjutkan pengerjaan. Pasalnya, masyarakat khawatir lubang galian yang dibiarkan terbuka akan memicu kecelakaan dan memperparah kerusakan lingkungan sekitar.
”Dampaknya sangat kami rasakan, khususnya di BTN Lumba-Lumba ini. Seolah kami sudah menjadi ‘penampung’ banjir kiriman. Kami sangat berharap pihak terkait segera menyelesaikan pengerjaan ini agar fungsi drainase bisa maksimal sebelum puncak musim hujan tiba,” tegasnya.(ayi)
Editor : Arif Oktafian