Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

JCH Manasik Armuzna dan Matangkan Skema Murur

Denny Andrian • Senin, 18 Mei 2026 | 11:34 WIB
Jemaah calon haji Riau usai menjalani serangkaian ibadah di Makkah, Ahad (17/5/2026). (MARRIO KIZAS)
Jemaah calon haji Riau usai menjalani serangkaian ibadah di Makkah, Ahad (17/5/2026). (MARRIO KIZAS)

 
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji pada 8-13 Zulhijah, jemaah calon haji (JCH) Kloter BTH 9 mengikuti kegiatan bimbingan manasik Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina). Kegiatan pemantapan ini dilangsungkan di Hotel 201 Talal Al Ghadir.

Manasik ini bertujuan agar jemaah siap secara fisik dan batin menghadapi fase paling krusial dalam ibadah haji. Kegiatan diselenggarakan secara siner­gis oleh seluruh jajaran petugas haji kloter, yang terdiri dari Ketua Kloter, Pembimbing Ibadah, Tim Kesehatan (Dokter dan Perawat), serta Tenaga Haji Daerah (TKHD). 

Kehadiran formasi lengkap petugas ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif, baik dari sisi syariat ibadah maupun mitigasi kesehatan. Petugas Haji Pembimbing Ibadah H Suryandi Temala Bonar Lc MA memaparkan, secara rinci skema pergerakan jemaah selama di Armuzna.

Alur pergerakan tersebut meliputi perjalanan dari hotel menuju Arafah, dilanjutkan ke Mina, prosesi lontar jamarat, tahalul awal, mabit, hingga kembali ke hotel dan pelaksanaan tawaf ifadah. “Saat mengenakan pakaian ihram untuk Armuzna, jemaah diimbau hanya membawa tas khusus Armuzna,’’ ujarnya.

‘’Terkait jam keberangkatan dan skema pastinya, kita saat ini masih menunggu instruksi resmi dari pihak syarikah dan daker. Instruksi tersebut nantinya akan diteruskan ke ketua kloter dan didistribusikan kepada para ketua rombongan,” tambahnya.

Di Padang Arafah nanti, prosesi ibadah akan diisi dengan penyampaian khutbah wukuf terlebih dahulu, yang kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan Salat Zuhur dan Asar secara jamak qasar, sesuai dengan pendapat mayoritas  ulama.

Pada malam hari setelah wukuf, jemaah akan didorong dari Arafah menuju Muzdalifah menggunakan bus. Tahun ini, jemaah akan difokuskan pada skema murur, yakni melintas di Muzdalifah tanpa turun dari bus.

“Bagi jemaah lansia, risiko tinggi, penyandang disabilitas, serta para pendampingnya diperbolehkan untuk tidak mabit di Muzdalifah. Ini adalah bentuk rukhsah (keringanan) dalam agama yang bersandar pada pendapat sahabat Ibnu Abbas,” tegas pria lulusan universitas di Suriah ini.

Kloter BTH 3 Mulai Terima Gelang 

Sementara itu, kondisi jemaah haji asal Riau yang tergabung dalam Kloter BTH 3 secara umum dalam keadaan sehat selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Meski begitu, sejumlah jemaah mengalami gangguan kesehatan ringan akibat cuaca panas ekstrem di Makkah.

Ketua Kloter BTH 3, Faulina Riska mengatakan, keluhan kesehatan yang dialami jemaah mayoritas berupa radang tenggorokan, sesak napas, hingga batuk. Kondisi tersebut dipicu suhu udara di Makkah yang mencapai 43 derajat Celcius.

Baca Juga: Halte Dibiarkan Terbengkalai Tak Berfungsi

“Alhamdulillah jemaah sebagian besar sehat. Kalaupun ada yang sakit, rata-rata radang tenggorokan, sesak napas dan batuk karena cuaca panas,” ujarnya. Ia menyebut, meski cuaca cukup terik, aktivitas ibadah jemaah tetap berjalan dengan baik. Banyak jemaah memanfaatkan waktu di Makkah untuk melaksanakan umrah sunah maupun umrah badal.

Selain itu, jemaah Kloter BTH 3 juga telah menerima gelang Armuzna dari pihak Syarikah Al Bait Guests. Gelang tersebut nantinya digunakan sebagai akses keluar masuk kawasan Armuzna saat puncak pelaksanaan ibadah haji.

“Kami sudah mendapatkan gelang Armuzna dari syarikah AlBait Guests. Gelang ini menjadi akses keluar masuk Armuzna,” jelasnya.

Pihak Syarikah Al Bait Guests, lanjut Faulina, telah menyerahkan langsung gelang Armuzna kepada petugas kloter untuk kemudian dibagikan kepada seluruh jemaah.

Sementara itu, Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenenterian Haji (Kemenhaj) RI sekaligus Wakil Penanggung Jawab II PPIH Arab Saudi Puji Raharjo mengatakan, skema murur merupakan langkah untuk mengurangi kepadatan di Muzdalifah sekaligus melindungi kondisi kesehatan jemaah yang rentan.

“Karena keterbatasan space di Muzdalifah, nanti sebagian jemaah kita yang risiko tinggi, lansia, punya komorbid dan pendampingnya akan langsung kita bawa ke Mina,” kata Puji Raharjo dikutip dari https://haji.go.id, Ahad (17/5).

Ia menjelaskan,emaah yang masuk kategori murur nantinya akan langsung menaiki bus dari Arafah menuju Mina setelah menjalani wukuf. Dengan demikian mereka tidak perlu turun di Muzdalifah maupun menunggu hingga tengah malam untuk melanjutkan perjalanan.

“Ini yang mereka tidak harus turun di Muzdalifah dan tidak harus menunggu tengah malam untuk melewati Muzdalifah,” ujarnya. Sementara itu, jemaah yang dalam kondisi sehat tetap akan menjalani mabit di Muzdalifah sebelum diberangkatkan menuju Mina setelah lewat tengah malam.

Menurut Puji, saat ini PPIH Arab Saudi bersama Satuan Operasi Armuzna masih memfinalisasi mekanisme teknis, pembagian jemaah, dan SOP pelaksanaan murur maupun tanazul. PPIH juga terus melakukan koordinasi intensif dengan ketua kloter, pembimbing ibadah, tenaga kesehatan, hingga Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU).

“Kita berharap semua jemaah bisa mengikuti puncak ibadah haji secara normal, sehat, dan tanpa terkendala hal-hal yang menghambat ibadah,” katanya. Puji menegaskan, kepatuhan jemaah terhadap arahan petugas menjadi faktor penting keberhasilan skema Armuzna tahun ini. 

Baca Juga: Jaga Aset Tanah, Pemko Gali Parit Satu Kilometer 

Ia berharap persoalan yang pernah terjadi pada musim haji sebelumnya tidak kembali terulang. “Kita tidak ingin ada lagi jemaah yang kesiangan keluar dari Muzdalifah atau sampai harus berjalan kaki karena kepadatan,” ujarnya.

Selain menyiapkan skema murur, PPIH juga akan menempatkan petugas lebih awal di Arafah dan Mina. Sejumlah petugas bahkan disiagakan khusus di Mina sebelum puncak haji dimulai untuk membantu kedatangan jemaah dan memastikan mereka dapat menempati tenda dengan tepat. 

Petugas tersebut kemungkinan tidak akan berhaji karena mengutamakan pelayanan jemaah. “Ada petugas yang memang kita dedikasikan khusus di Mina supaya jamaah tidak tersesat dan bisa terlayani dengan baik,” kata Puji.

Ia menambahkan, sebagian petugas yang ditempatkan di Mina merupakan petugas berpengalaman yang telah beberapa kali berhaji. Selain itu, PPIH juga tetap menyiapkan layanan safari wukuf khusus bagi jemaah lansia dan disabilitas. Jumlah peserta safari wukuf tahun ini direncanakan sekitar 300 hingga 400 orang.

Menurut Puji, jumlah tersebut sudah melalui proses pemeriksaan kesehatan dan pengawasan kondisi jemaah sejak di Indonesia hingga di Arab Saudi yang lebih ketat dari tahun sebelumnya. Menjelang puncak haji, Puji mengingatkan jemaah agar menjaga kondisi fisik dan tidak memaksakan diri melakukan aktivitas berat sebelum wukuf di Arafah.

Pembayaran Dam Harus Aman

Kemenhaj juga memastikan pengelolaan dam bagi jemaah haji Indonesia dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, perlindungan jemaah, serta penghormatan terhadap keberagaman pandangan fikih. 

Juru Bicara Kemenhaj Suci Annisa mengatakan, pemerintah memberikan ruang bagi jemaah untuk melaksanakan dam sesuai keyakinan fikih masing-masing, baik melalui mekanisme pembayaran di Arab Saudi, di Indonesia, maupun melalui pelaksanaan puasa.

“Pemerintah menghormati keberagaman pandangan fikih terkait pelaksanaan dam. Karena itu, jemaah diberikan ruang untuk menjalankan keyakinan fikih yang diyakini masing-masing, sepanjang dilakukan melalui mekanisme yang benar, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Suci Annisa dalam keterangan resmi, Ahad (17/5).

Berdasarkan data operasional terakhir, jumlah jemaah yang telah terdata membayar dam, baik melalui mekanisme pembayaran di Arab Saudi, di Indonesia, maupun melalui pelaksanaan puasa, mencapai sekitar 70.758 orang.

Suci menjelaskan, bagi jemaah yang meyakini dam dapat dilaksanakan di dalam negeri, pemerintah mempersilakan pelaksanaan dam dilakukan di Indonesia melalui mekanisme yang sesuai ketentuan. Sementara bagi jemaah yang meyakini dam hanya sah dilaksanakan di Tanah Haram, pemerintah memfasilitasi pelaksanaan dam di Arab Saudi melalui lembaga resmi yang telah dilegalkan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, yaitu Adahi Project.

“Khusus bagi jemaah yang memilih melaksanakan dam di Arab Saudi, kami mengimbau agar pembayaran dilakukan melalui Adahi Project. Ini penting agar prosesnya resmi, transparan, dan melindungi jemaah dari risiko penipuan maupun penyalahgunaan dana,” tegasnya.

Baca Juga: 54.127 Ekor Hewan Kurban Diprediksi Akan Disembelih di Riau

Kemenhaj juga mengingatkan seluruh jemaah agar berhati-hati terhadap tawaran pembayaran dam dari pihak yang tidak jelas, baik secara langsung, melalui pesan singkat, media sosial, maupun pihak-pihak yang mengaku dapat membantu pembayaran dam dengan harga murah, cepat, dan mudah, namun tidak memiliki legalitas resmi.

Menurut Suci, pengelolaan dam bukan hanya menyangkut pembayaran, tetapi juga berkaitan langsung dengan kepastian pelaksanaan ibadah dan perlindungan jemaah. “Dam bukan sekadar transaksi pembayaran. Ini bagian dari kepastian ibadah jemaah. Karena itu, kami ingin memastikan jemaah mendapatkan informasi yang benar, memiliki pilihan sesuai keyakinan fikihnya, dan tetap terlindungi dari praktik tidak resmi yang berpotensi merugikan,” katanya.

Apabila jemaah masih memiliki pertanyaan mengenai kewajiban dam, tata cara pembayaran, pilihan mekanisme pelaksanaan, maupun pandangan fikih yang diyakini, Kemenhaj mengimbau jemaah untuk berkonsultasi dengan pembimbing ibadah, petugas kloter, petugas sektor, maupun petugas PPIH Arab Saudi.

Menjelang fase Armuzna, Kemenhaj bersama PPIH Arab Saudi terus mematangkan kesiapan layanan, mulai dari finalisasi data manifest jemaah, pemetaan pergerakan, transportasi, tenda, konsumsi, kesehatan, perlindungan jemaah, hingga pembinaan ibadah.

“Kami mengimbau jemaah mulai menghemat energi dan menjaga kondisi fisik. Batasi aktivitas yang tidak mendesak, hindari paparan panas berlebihan, cukup minum, makan teratur, istirahat yang cukup, dan segera melapor kepada petugas kesehatan apabila mengalami keluhan,” ujar Suci.(ilo/das) 

 

Editor : Arif Oktafian
#Haji 2026 #jch #ibadah