PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti sebagian besar wilayah Riau, Rabu (9/9). Bahkan, visibility atau jarak pandang menjadi berkurang di kisaran 3-4 kilometer (km), jauh dari normal yakni 10 km atau lebih saat udara bersih.
Forecaster on Duty Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru Gita Dewi Siregar menjelaskan, tingginya jumlah titik panas di Provinsi Riau turut membuat sejumlah daerah masih diselimuti kabut asap yang cukup tebal sehingga mengganggu jarak pandang.
‘’Visibility (jarak pandang) Pekanbaru hanya berkisar 3 kilometer, Rengat (Kabupaten Indragiri Hulu) 4 kilometer, Pelalawan 3 kilometer, Tambang (Kabupaten Kampar) 4 kilometer,’’ ujarnya, Rabu (9/9).
Baca Juga: Momentum Perkuat Kolaborasi Polda Riau Silaturahmi ke Riau Pos
Tak hanya jarak pandang, kualitas udara juga memburuk. Pada pukul 08.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru menunjukkan peningkatan cukup signifikan mencapai 112,8 µg/m³ dan masuk kategori Tidak Sehat. Memasuki pukul 14.00 WIB kualitas udara dengan konsentrasi partikulat (PM2.5) di Pekanbaru mencapai 110.8 µg/m3 dengan kategori Tidak Sehat.
Kualitas udara di Pekanbaru kian memburuk hingga pukul 17.00 WIB konsentrasi berada di kisaran 135,7 µg/m³. Hampir menyentuh ambang batas kategori Tidak Sehat menuju kategori Sangat Tidak Sehat dengan warga zona merah.
“Masyarakat di Pekanbaru diimbau meningkatkan kewaspadaan, khususnya ketika melakukan aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker dan pengurangan aktivitas di luar rumah dapat menjadi langkah pencegahan ketika kualitas udara memburuk,” katanya.
Baca Juga: Wako Agung Nugroho Raih Penghargaan Peduli Akses dan Infrastruktur Pendidikan 2026
Gita Dewi Siregar menambahkan, sejak pukul 17.00 WIB jumlah titik panas di Riau cukup tinggi mencaapai 245. Jumlah ini turut menyumbang total titik panas terbanyak kedua di wilayah Sumatera yang ikut melonjak menjadi 2.223. Provinsi Sumatera Selatan masih mendominasi dengan 1.384 titik.
Disusul Jambi 189, Bangka Belitung 176, Lampung 94, Kepulauan Riau 67, Sumatera Barat 39, Aceh 12, Bengkulu 9, dan Sumatera Utara 8.
Untuk sebaran titik panas di Riau masih didominasi Kabupaten Indragiri Hulu 104, Siak 29, Kepulauan Meranti 27, Indragiri Hilir 25, Pelalawan 17, Bengkalis 15, Dumai 12, Kuantan Singingi (Kuansing) 11, Kampar 3, Rokan Hilir 1, dan Rokan Hulu 1.
Baca Juga: Memburuk, Kualitas Udara Pekanbaru Malam Ini Sangat Tidak Sehat
Titik panas memang tidak banyak di Kuansing, kemarin. Namun, kualitas udara memburuk dan masuk kategori Tidak Sehat. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kuansing pun kembali memberlakukan pembelajaran pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau secara dalam jaringan (daring).
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kuantan Singingi, Rabu (9/9/2026) tentang Penyesuaian Kegiatan Pembelajaran Akibat Penurunan Kualitas Udara di Kabupaten Kuantan Singingi.
“Mengingat kualitas udara yang kembali memburuk di level tidak sehat, kita berlakukan pembelajaran jarak jauh atau daring selama dua hari, 10-11 September 2026,” kata Kadisdikpora Kuansing Herizon didampingi Sekretaris Disdikpora Zulmaswan.
Baca Juga: Datangi Kejari Pekanbaru, Komjak RI Cek Tindaklanjut Aduan Masyarakat
Surat edaran ini ditujukan pada seluruh Korwil Pendidikan, Pengawas, Kepala PAUD, SD, SMP negeri dan swasta se-Kuansing. Ia menjelaskan, kebijakan ini bersifat situasional dan akan terus dievaluasi mengikuti perkembangan kualitas udara.
Pemkab Rohul memperpanjang PJJ hingga Kamis (10/9) hari ini. Sebelumnya, PJJ telah diberlakukan selama dua hari, yakni 8-9 September. Keputusan tersebut berlaku untuk satuan pendidikan PAUD, SD dan SMP negeri maupun swasta se-Rohul.
Perpanjangan PJJ tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Bupati Rohul Nomor 24 Tahun 2026 tentang Kewaspadaan dan Langkah Antisipasi Dampak Kabut Asap bagi Satuan Pendidikan di Kabupaten Rohul, tertanggal 9 September 2026.
Baca Juga: Datangi Kejari Pekanbaru, Komjak RI Cek Tindaklanjut Aduan Masyarakat
“Pak Bupati Rohul mengingatkan agar kesehatan dan keselamatan anak-anak menjadi perhatian utama. Karena kondisi kualitas udara masih perlu diwaspadai, PJJ diperpanjang hingga Kamis (10/9),” ujar Kadisdikpora Rohul Alreza, kemarin.
Alreza menambahkan, koordinator wilayah pendidikan kecamatan diminta melakukan monitoring terhadap pelaksanaan SE Bupati tersebut. Pemkab Rohul akan terus mengevaluasi kebijakan PJJ berdasarkan perkembangan kualitas udara serta kondisi kesehatan dan keselamatan peserta didik. “Jika kondisi udara membaik, kebijakan pembelajaran akan disesuaikan kembali,” jelas Alreza.
Pekanbaru Mulai Tatap Muka Terbatas
Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Pekanbaru kembali menyesuaikan kegiatan pembelajaran di tengah kondisi kualitas udara yang masih berada pada kategori Tidak Sehat akibat kabut asap. Mulai, Kamis (10/9) hari ini, proses belajar mengajar kembali dilaksanakan secara tatap muka terbatas.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru Nomor B.400.3.1/Disdik/32/2026 tentang Penyesuaian Kegiatan Pembelajaran di Kota Pekanbaru yang ditetapkan pada 9 September 2026. “Mulai Kamis (hari ini, red), proses belajar mengajar dilaksanakan tatap muka terbatas,” ujar Plt Kepala Disdik Pekanbaru, Abdul Jamal, Rabu (9/9).
Baca Juga: PBM di Pekanbaru Kembali Tatap Muka Terbatas, Siswa Wajib Pakai Masker
Ia menjelaskan, dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas, seluruh warga sekolah diwajibkan menggunakan masker. Sekolah juga diminta mengutamakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas dan membatasi aktivitas di luar ruangan.
Selain itu, pihak sekolah diminta melakukan pemantauan terhadap kondisi kesehatan siswa setiap hari. Perhatian khusus juga diberikan kepada siswa yang rentan atau memiliki riwayat penyakit pernapasan, seperti asma dan ISPA.
“Untuk siswa yang rentan dan memiliki riwayat penyakit pernapasan, sekolah harus memberikan keluwesan dan perhatian khusus. Kalau kondisi kesehatannya terganggu, siswa diperkenankan belajar dari rumah setelah berkoordinasi dengan pihak sekolah,” jelasnya.
Baca Juga: Diduga Aniaya Perempuan di RTH Tunjuk Ajar, Seorang Pria Diamankan Polisi
Menurutnya, apabila kondisi udara memburuk secara mendadak, kepala sekolah dapat mengambil langkah pengamanan, termasuk menghentikan kegiatan di luar ruangan, memulangkan siswa lebih awal maupun mengalihkan ke PJJ. “Namun, langkah tersebut dilakukan setelah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru,” katanya.
Ia menambahkan, sekolah atau madrasah yang berada di bawah Kementerian Agama maupun kementerian/lembaga lainnya juga diimbau menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan memperhatikan kondisi kualitas udara.
Kualitas udara di Rokan Hilir (Rohil) juga berada dalam kategori Tidak Sehat. “Berdasarkan hasil pemantauan laboratorium DLH dalam mengukur ISPU, saat ini kualitas udara kurang baik,” ujar Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rohil, Syafnurizal.
Syafnurizal mengimbau masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker untuk mengurangi risiko terpapar asap dan partikel pencemar yang berpotensi memicu gangguan pernapasan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Ia menjelaskan, kabut asap yang terjadi di Bagansiapiapi mayoritas diduga merupakan asap kiriman dari wilayah lain. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh pergerakan angin yang membawa asap dari daerah sekitar menuju wilayah Rohil. “Mayoritas asap ini merupakan asap kiriman dari daerah lain,” jelasnya.
Baca Juga: UHTP Sambut 983 Mahasiswa Baru pada PKKMB
Udara juga memburuk di Tembilahan, Indragiri Hilir (Inhil), kategorinya Tidak Sehat. Kondisi tersebut telah berlangsung lebih dari sepekan. Kepala DLHK Inhil, Hardinata, mengatakan pemantauan kualitas udara terus dilakukan untuk melihat perkembangan kondisi udara di Tembilahan.
Angka ISPU dapat berubah mengikuti kondisi cuaca dan konsentrasi pencemar di udara. “Untuk kondisi kualitas udara saat ini, ISPU berada di angka 131 atau masuk kategori Tidak Sehat. Kondisi ini masih perlu menjadi perhatian masyarakat,” ujar Hardinata, Rabu (9/9).
Tenaga Medis Turun ke Lokasi Karhutla
Bukan hanya api yang menjadi ancaman dalam karhutla. Kondisi fisik para petugas yang berhari-hari berjibaku dengan panas, asap dan medan berat juga menjadi perhatian. Untuk memastikan kondisi mereka tetap prima, tenaga kesehatan dari UPT Puskesmas Tanjungsamak turun langsung ke posko pemadam karhutla di Desa Gemalasari, Kecamatan Rangsang, Selasa (8/9).
Baca Juga: Jalan Beringin Jadi Bukti Pembangunan Gapai Pinggiran Pekanbaru
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti Widya Nengsih mengatakan pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan petugas setelah menjalankan aktivitas pemadaman di tengah kondisi lapangan yang cukup berat. “Petugas kita menghadapi paparan asap, panas dan aktivitas fisik yang cukup berat. Karena itu, kondisi kesehatan mereka juga perlu dipantau,” ujar Widya.
“Keluhan yang ditemukan cukup beragam, mulai dari batuk, nyeri tenggorokan, mata perih dan merah, iritasi kulit, demam hingga myalgia. Petugas yang memiliki keluhan diberikan penanganan sesuai kondisinya,” jelasnya.
Kebakaran Lahan Rimbo Panjang Padam
Rabu (9/9) sore, terdapat kejadian kebakaran lahan di Jalan Madura, Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Namun, saat ini telah berhasil dipadamkan. Kalaksa BPBD Kampar Azwan melalui Kepala Pusdalops PB Adi Candra Lukita menjelaskan, kebakaran terjadi pada lahan gambut dengan jenis ground fire, yang meliputi perkebunan nenas dan semak belukar.
Baca Juga: Bersama Forkopimda, Pemprov Riau Optimalisasi Pajak dan Hak Daerah
“Luas lahan yang terbakar sekitar 1,5 hektare dan hingga hari kelima tidak terdapat penambahan luas area terbakar. Kondisi api saat ini sudah padam, namun masih ditemukan asap di beberapa bagian lokasi,” jelas Adi Candra Lukita, Rabu (9/9).
“Upaya yang dilakukan berupa penyekatan, pendinginan dan pemblokiran di area lokasi untuk memastikan api tidak kembali menyala dan mencegah meluasnya kebakaran. Meski api sudah berhasil dipadamkan, petugas tetap melakukan pemantauan dan pendinginan karena masih terdapat asap. Ini penting dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api, khususnya pada lahan gambut,” tambahnya.
Di sisi lain, kondisi kualitas udara di Kabupaten Kampar berdasarkan data AQMS/ISPU pada pukul 18.30 WIB menunjukkan nilai ISPU 134, yang masuk dalam kategori Tidak Sehat. Parameter kritis yang terpantau adalah PM2,5.(ayi/ilo/dac/epp/*2/wir/kom/das)
Laporan TIM RIAU POS, Pekanbaru
Editor : Arif Oktafian