PELALAWAN (RIAUPOS.CO) -- Tim Mitigasi dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau saat ini tengah berupaya untuk menangkap individu Harimau Sumatera. Harimau ini diketahui menyerang dua orang hingga tewas yang diketahui terjadi kurang dari sepekan di kawasan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan Hutan Tanaman Industri (PBPH-HTI), sebuah perusahaan HTI di Kabupaten Pelalawan.
Peristiwa pertama, terjadi pada 7 Juli 2026 yang menewaskan anak berusia 12 tahun, Jerlin Zalukhu. Selanjutnya, pada 10 Juli 2027, seorang pekerja bernama Eko Prastio (29), juga ditemukan meninggal dunia setelah diduga juga diserang harimau. Dan lokasi kejadian diketahui hanya berjarak sekitar 6,5 kilometer dari lokasi serangan pertama.
Demikian disampaikan Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Supartono kepada Riaupos.co, Selasa (14/7/2026) via selulernya. Dikatakannya bahwa, pihaknya sedang melakukan pemantauan intensif di lapangan.
Baca Juga: Harimau Memangsa Manusia Lagi di Pelalawan
Yakni memasang kamera trap atau kamera penjebak untuk mengidentifikasi harimau Sumatera pemangsa warga di perbatasan Desa Sungai Ara dan Desa Pangkalan Terap, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan.
Bahkan, untuk menangkap dan mengevakuasi hewan buas bernama latin panthera tigris sumatrae ini, tim BBKSDA Riau, juga telah memasang box trap atau kandang jebak di lokasi kejadian serta melakukan upaya mitigasi.
"Ya, tim sudah turun ke lokasi untuk melakukan upaya pemantauan. Sedangkan untuk menangkap dan mengevakuasi harimau itu, kita juga sudah memasang kamera trap dan kandang jebak," terangnya.
Meski demikian, sambung Supartono, pihaknya belum dapat memastikan, apakah dua kasus penyerangan warga itu, adalah individu harimau yang sama. Dan ini yang sedang dilakukan analisa BKSDA Riau.
"Jadi, tim sedang melakukan pemantauan terkait keberadaan harimau, khususnya di lokasi kejadian. Dan sejauh ini, kita masih menunggu info dari tim di lapangan," paparnya.
Diungkapkan Supartono bahwa, dengan adanya kasus penyerangan harimau ini, pihaknya mengimbau agar perusahaan dapat memberlakukan SOP yang ketat terhadap para pekerja. Sehingga peristiwa serupa tidak terjadi lagi kedepannya.
Selain itu, masyarakat, pekerja, dan perusahaan yang beraktivitas di sekitar habitat Harimau Sumatera, juga diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak beraktivitas seorang diri terutama pada malam hingga dini hari. Kemudian memastikan sistem pengamanan camp berfungsi dengan baik, serta segera melaporkan kepada petugas apabila mengetahui keberadaan satwa liar di sekitar lokasi.
"BBKSDA Riau menegaskan penanganan konflik satwa liar akan terus dilakukan bersama para pihak terkait dengan mengedepankan keselamatan manusia sekaligus menjaga kelestarian Harimau Sumatera sebagai satwa dilindungi," ujarnya.
Di tempat terpisah, Camat Pelalawan, Theo Pandu Alrasyid menambahkan bahwa, kejadian kasus penyerangan harimau itu, berada jauh dari pemukiman masyarakat. Dan lokasi itu, diketahui berada di areal lingkup perusahaan.
Baca Juga: Kakanwil Kemenag Riau Lepas Siswa MAN IC Siak ke Pemusatan Paskibraka Tingkat Pusat 2026
"Ya, kalau lokasinya memang jauh dari pemukiman masyarakat. Yakni berjarak sekitar 7 hingga 9 kilometer. Dan sejauh ini, tidak ada areal kebun warga di sekitar kejadian, karena berada dalam kawasan hutan lindung.
"Tentunya, dengan adanya kejadian ini, kita meminta perusahaan dapat meningkatkan SOP agar kejadian ini tidak kembali terulang lagi. Dan kepada masyarakat serta pekerja, kami juga meningimbau agar dapat mengurangi aktivitas di daerah semak belukar atau pun hutan. Tapi, jika tetap beraktiviktas, kami imbau agar jangan sendiri, namun harus beramai-ramai. Ya, minimal 5 orang lah. Dengan demikian, tidak berpotensi menjadi korban serangan susulan harimau.
"Begitu juga dengan BKSDA, kita minta dapat segera mengevakuasi harimau itu dari lokasi agar tidak kembali terjadi korban jiwa," tutupnya.
Editor : Rinaldi