PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Banyak bahasa daerah di dunia yang pelan-pelan punah dan menghilang. Menurut data badan PBB, UNESCO, setiap hari ada dua bahasa daerah yang punah. Dalam setiap 10 tahun, ada 20% anak-anak yang tak bisa berhasa daerahnya sendiri yang membuat bahasa daerah itu menyusut. Di Indonesia sendiri, sudah ada 11 bahasa daerah yang hilang dan tidak lagi dipakai oleh penuturnya.
Fakta itu disampaikan Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau (BBPR), Dr Umi Kulsum SS MHum saat acara Rapat Koordinasi Antarpemangku Kepentingan Revitalisasi Bahasa Melayu di Pekanbaru, Senin (19/5/2025) malam. Kegiatan ini dihadiri Sekretaris Dinas Pendidikan Riau Dr Arden Sumeru MKom, Rektor Universitas Lancang Kuning Prof Dr Junaidi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Dumai Yusmaidar Ssos Msi, para perakilan Kepala Dinas Pendidikan dari Kabupaten Bengkalis, Siak, Rokan Hulu (Rohul), dan Rokan Hilir (Rohil), serta para maestro yang dilibatkan dalam Revitalisasi Bahasa Daerah (Melayu Riau).
Baca Juga: Turun, Harga Kelapa Sawit Mitra Pekan Ini Dihargai Rp3.387 per Kg
Umi Kulsum menjelaskan, kepunahan menjadi ancaman serius bagi bahasa-bahasa lokal/daerah di banyak negara di dunia karena tidak ada upaya revitalisasi. Jika ini terus berlangsung, maka akan semakin banyak bahasa lokal yang tinggal nama karena tak punya penutur lagi. Dan itu akan menjadi kehilangan besar bagi kebudayaan secara global.
“Beberapa hal penyebabnya adalah generasi muda yang tak bangga lagi dengan bahasa daerahnya, kemiskinan, dan urbanisasi,” ujar perempuan kelahiran Brebes, Jawa Tengah (Jateng) tersebut.
Menyadari hal itu, kata Umi, sejak tahun 2024, Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyelenggarakan apa yang disebut sebagai Revitalisasi Bahasa Daerah yang diselengarakan oleh seluruh Badan/Kantor Bahasa yang ada di semua daerah. Tujuannya adalah terus membina dan menumbuhkan anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat, agar terus belajar dan menggunakan bahasa daerahnya.
Baca Juga: Polsek Peranap Ringkus Dua Pengedar Narkotika Jenis Sabu Jaringan Antarprovinsi, Begini Kronologinya
Tahun ini di Riau, program ini diaplikasikan dalam berbagai macam kegiatan pelatihan dan lomba yang semuanya berbasis bahasa Melayu, antara lain menulis aksara Melayu (Arab Melayu), menulis cerpen, stand-up comedy (komedi tunggal), pidato, bersyair, dan menulis dan membaca puisi. Untuk tahun 2025, kegiatan ini akan diadakan di empat kabupaten, yakni Bengkalis, Siak, Rohul, dan Rohil. Sebelumnya, tahun 2024, kegiatan diadakan di Kampar, Dumai, Indragiri Hulu (Inhu) dan Kepulauan Meranti.
Sekretaris Dinas Pendidikan Riau, Dr Arden Simeru, menyambut baik upaya yang dilakukan oleh Badan Bahasa melalui BBPR ini. Menurutnya, upaya pelestarian atau revitalisasi bahasa daerah, terutama bahasa Melayu di Riau, sangat penting dilakukan. Bahasa Melayu Riau, kata dia, adalah akar dari bahasa Indonesia. Karena bahasa Indonesia yang kini menjadi bahasa resmi negara, berasal dari bahasa Melayu yang kemudian dikembangkan sedemikian rupa.
“Ini menjadi tugas mulia bagi kita bersama untuk melestarikan bahasa Melayu, juga bahasa Indonesia,” ujar Arden.
Dia berharap, jika memungkinkan, pengembangannya nanti bisa dilakukan kepada siswa SMA dan sederajat yang berada di bawah Disdik Riau. Sebab, di tingkat itu para siswa juga penting mendapat pemahaman dalam pelestarian bahasa daerahnya ini.(hbk)
Editor : Edwar Yaman