Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Kupas Gaya Pemikiran Kepemimpinan Pendidikan Abad 21 yang Berteraskan Budaya Melayu

Herianto Baserah • Senin, 26 Januari 2026 | 11:45 WIB
Prof Drs Daeng Ayub MPd Phd
Prof Drs Daeng Ayub MPd Phd

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Prof Drs Daeng Ayub MPd PhD dikukuhkan pada sidang pengukuhan guru besar Universitas Riau (Unri) di Gedung Student Center Unri, Senin (19/1). Pria kelahiran Air Muruh Ranai, 17 Maret 1961 mencapai gelar profesor bidang Manajemen Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unri.

Prof Drs Daeng Ayub MPd PhD anak dari Almarhum H Daeng Tina dan Almarhumah Wan Aminah. Istri Almh Hj Hefilina SE. Anak dr D Alfhiradina, D Aqlielhafiz SPd, D Arasshilfajri. Riwayat pendidikan, di SDN 01 Ranai, PGA 4 Tahun Ranai, PGAN 6 Tahun Tanjungpinang, S1 Unri, S2 Universitas Negeri Jakarta, S3 Universiti Kebangsaan Malaysia.

Orasi ilmiah pidato pengukuhan guru besarnya berjudul ”Gaya Pemikiran Kepemimpinan Pendidikan Abad 21 yang Berteraskan Budaya Melayu”. Menurutnya, tuntutan abad 21 selalu berkembang dalam segala sektor, tanpa kecuali bidang pendidikan dan peran pemimpin dengan gaya pemikirannya. Karena, gaya pemikiran seseorang dapat menentukan tindakan dan perilakunya.

Disebutkannya, kepemimpinan pendidikan abad 21 yang berteraskan pada budaya Melayu, adalah amanah yang disertakan sifat siddiq, tabligh, dan fathonah, harus beriman, jujur, adil, dan berakhlak mulia, supaya: lurus hati, lurus akal, lurus niat, lurus buat, serta kerja elok, manfaatnya kekal.  Berpegang teguh pada agama, adat, serta undang-undang, agar kepemimpinan itu membawa berkah dunia akhirat.

Transformasi kepemimpinan pendidikan menjadi prasyarat utama keberhasilan sistem pendidikan di era disrupsi. Orang tua-tua mengatakan “yang tua dituakan, yang pandai diturutkan” bermakna kepemimpinan pendidikan berakar pada penghormatan terhadap pengalaman, keilmuan, dan kebijaksanaan. Karena, “pemimpin boleh berganti, tetapi nilai mesti tetap hidup” yang menjelaskan tentang kesinambungan nilai pendidikan lintas generasi.

Budaya Melayu menggambarkan kepemimpinan yang bermartabat melalui sikap ”teguh memegang adat, bijak menimbang langkah, dan lurus menata niat” yang berpijak pada falsafah ”adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah”. Maknanya, kepemimpinan pendidikan harus berlandaskan nilai agama, etika, dan moral sebagai sumber legitimasi tertinggi. Pandangan budaya Melayu menegaskan bahwa nilai dan adat merupakan marwah yang harus dijaga, karena hilangnya adat berarti runtuhnya martabat.

Perlu diingat nasehat orang tua-tua: bahwa pemimpin adalah orang ”yang ditinggikan seranting dan didahulukan selangkah,”. Hanya seranting ditinggikan, bila ranting itu dipatahkan maka rusaklah pemimpin itu, dan cuma selangkah didahulukan, bila dikait orang dari belakang, maka akan tersungkurlah ianya.

Kepemimpinan pendidikan pada akhirnya merupakan jalan pengabdian yang menuntut keikhlasan, keberanian, dan kesetiaan pada nilai. Dijalankan sebagai amanah di dunia, dan dipertanggngjawabkan sebagai amal di akhirat.(nto/c)

Editor : Arif Oktafian
#pendidikan abad 21 #kepemimpinan #universitas riau #daeng ayub #pengukuhan guru besar