KAMPAR (RIAUPOS.CO) — Upaya mewujudkan pendidikan yang inklusif dan mampu mengakomodasi keberagaman karakteristik peserta didik terus dilakukan melalui berbagai inovasi pembelajaran.
Salah satunya melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) LENS-ART (Literacy Enhancement through Visual Support) yang dikembangkan oleh tim dosen Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai.
Program tersebut merupakan salah satu kegiatan yang berhasil memperoleh pendanaan BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026, melalui skema pendanaan program Pengabdian kepada Masyarakat.
Baca Juga: Satu Hati Menemani Setiap Langkah
Program yang mengusung tema “LENS-ART: Transformasi Gaya Belajar Siswa Disabilitas melalui Modul Bacaan Berbasis Grafis di SMA Kabupaten Kampar” tersebut dilaksanakan pada 3 Agustus 2026 di SMAN 2 Tapung, Kabupaten Kampar.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung sekolah menghadirkan pembelajaran yang lebih adaptif, khususnya bagi siswa disabilitas yang memiliki kebutuhan belajar beragam. Pelaksanaan kegiatan melibatkan unsur sekolah, guru, pendamping, serta tim pelaksana PKM.
Kegiatan tersebut diketuai oleh Dr. Putri Asilestari MPd., bersama anggota Dr Citra Ayu, M.Pd. dan Dr. Putri Hana Pebriana, M.Pd. Kehadiran tim di SMAN 2 Tapung juga mendapat dukungan dari pihak sekolah yang dipimpin oleh Dr. Hendra Yunal, S.Pd.I., M.Si.
Baca Juga: Pegadaian Dorong Masyarakat Cerdas Kelola Keuangan
Berangkat dari Tantangan Pembelajaran
Pengembangan LENS-ART berangkat dari kondisi bahwa bahan pembelajaran bagi siswa dengan kebutuhan khusus masih banyak menggunakan materi berbasis teks. Padahal, tidak semua siswa dapat memahami informasi dengan cara yang sama.
Karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya mengandalkan teks, tetapi juga memberikan dukungan melalui elemen visual. LENS-ART dirancang untuk menghadirkan materi yang lebih komunikatif dengan memadukan teks, gambar, ilustrasi, ikon, simbol, diagram sederhana, dan berbagai aktivitas literasi visual.
Baca Juga: Polres Amankan Pelaku Pembacokan Berinisial M, Kapolres: Pelaku hanya Sendiri Hadapi Massa
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu siswa dalam mengenali informasi, memahami isi bacaan, menghubungkan informasi, serta meningkatkan ketertarikan mereka terhadap aktivitas membaca.
Melalui konsep tersebut, pembelajaran tidak lagi hanya berfokus pada kemampuan siswa membaca teks secara konvensional, tetapi juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami informasi melalui berbagai bentuk representasi visual.
Dr. Putri Asilestari, M.Pd. menjelaskan bahwa LENS-ART dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih mudah dipahami dan menarik bagi siswa disabilitas.
Baca Juga: Indonesia Didorong sebagai Pencipta AI di Tingkat Global
“Melalui LENS-ART, kami ingin menghadirkan pengalaman belajar yang lebih mudah dipahami, menarik, dan sesuai dengan karakteristik siswa disabilitas. Guru juga tidak hanya menjadi pengguna, tetapi dibekali kemampuan untuk mengembangkan dan mengadaptasi bahan ajar visual sesuai kebutuhan siswa.”
Guru Dibekali Strategi Visual Support
Salah satu agenda penting dalam pelaksanaan program pada 3 Agustus adalah pelatihan bagi guru dan pendamping. Sebanyak 16 guru perwakilan SMA di wilayah Kabupaten Kampar mengikuti kegiatan tersebut.
Para peserta memperoleh pembekalan mengenai penerapan visual support, strategi pendampingan literasi, serta cara menggunakan modul dan website LENS-ART dalam proses pembelajaran.
Baca Juga: ESDM Ajukan Rp27,37 T di RAPBN 2027
Pelatihan tidak hanya memberikan pemahaman secara teoritis, tetapi juga diarahkan agar guru dapat melihat bagaimana bahan ajar visual dapat digunakan sebagai bagian dari strategi pembelajaran.
Guru diharapkan mampu memilih dan mengadaptasi materi sesuai dengan karakteristik serta kebutuhan masing-masing siswa. Dengan demikian, bahan ajar tidak dipandang sebagai sesuatu yang bersifat seragam, tetapi dapat dikembangkan secara fleksibel sesuai kondisi peserta didik.
Hasil evaluasi pelatihan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan guru yang cukup signifikan. Sebelum mengikuti pelatihan, sebanyak 58 persen guru berada pada kategori pengetahuan kurang, 25 persen kategori cukup, dan 17 persen kategori baik.
Baca Juga: Sudah Dua Pekan Kuansing Diselimuti Asap
Setelah mengikuti pelatihan, kategori pengetahuan kurang menjadi 0 persen, kategori cukup menjadi 13 persen, sedangkan kategori baik meningkat menjadi 88 persen.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa pelatihan memberikan dampak positif terhadap pemahaman guru mengenai penerapan pembelajaran berbasis dukungan visual.
Tidak Hanya Modul, LENS-ART Hadir dalam Platform Digital
Keunggulan lain dari program ini adalah pengembangan website LENS-ART sebagai media pendamping pembelajaran. Website tersebut dikembangkan untuk memperluas akses terhadap bahan pembelajaran sekaligus mendukung literasi digital.
Baca Juga: Api Karhutla Belum Padam, Tim Gabungan Kembali Perkuat Penanganan di Bengkalis
Melalui platform tersebut, pengguna dapat mengakses bahan bacaan berbasis visual, aktivitas literasi, latihan pemahaman, video pembelajaran, serta panduan bagi guru dan pendamping.
Dengan adanya platform digital tersebut, LENS-ART tidak hanya dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran di kelas, tetapi juga memiliki peluang untuk mendukung aktivitas belajar di luar kelas.
Sementara itu, modul LENS-ART secara resmi diluncurkan pada 4 Agustus 2026 dan mulai diperkenalkan kepada guru pendamping khusus serta pihak sekolah mitra. Modul tersebut menjadi salah satu luaran utama program yang dirancang untuk membantu siswa memahami bacaan melalui dukungan visual.
Baca Juga: Come Back di San Siro dan Olimpico
Siswa Dilibatkan dalam Proses
Penerapan LENS-ART juga dilakukan secara partisipatif. Siswa, guru, pendamping, dan pihak sekolah dilibatkan dalam proses penerapan dan pemberian respons terhadap media pembelajaran yang digunakan.
Siswa tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat, tetapi juga menjadi bagian penting dalam melihat sejauh mana bahan ajar yang dikembangkan dapat digunakan dengan mudah dan menarik.
Baca Juga: Dari Laporan Menjadi Dampak: Saat AI Mengubah Cara Kita Melihat CSR
Respons siswa terhadap kemudahan, keterbacaan, dan daya tarik media menjadi bagian dari proses pengembangan dan evaluasi program. Pendekatan ini penting agar produk yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna di lapangan.
Dengan demikian, LENS-ART diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah produk pengabdian kepada masyarakat, tetapi dapat terus dikembangkan berdasarkan pengalaman penggunaan di sekolah.
Program Telah Mencapai 80 Persen
Baca Juga: DPRD Meranti Dorong Pemprov Riau Percepat Revitalisasi SMAN
Berdasarkan laporan kemajuan, pelaksanaan PKM LENS-ART telah mencapai sekitar 90 persen. Sejumlah luaran utama telah berhasil diwujudkan, antara lain modul bacaan berbasis grafis, website LENS-ART, serta peningkatan kapasitas guru dan pendamping melalui pelatihan.
Masih terdapat sekitar 20 persen tahapan program yang akan diselesaikan melalui kegiatan monitoring dan evaluasi lanjutan, penguatan keberlanjutan program bersama sekolah mitra, serta publikasi hasil kegiatan.
Tim menargetkan artikel ilmiah dari program tersebut dapat diselesaikan pada September 2026 dan dilanjutkan dengan proses submit pada Oktober 2026.
Baca Juga: UAS dan Ribuan Warga Inhu Doa Bersama untuk Bangsa dan Presiden Probowo
Tim pelaksana berharap LENS-ART dapat terus dimanfaatkan oleh sekolah setelah program PKM selesai. Guru yang telah mendapatkan pembekalan juga diharapkan mampu berbagi pengetahuan dan menjadi mentor bagi guru pendamping lainnya.
Ke depan, penerapan LENS-ART diharapkan dapat diperluas ke sekolah lain di Kabupaten Kampar yang memiliki siswa dengan kebutuhan belajar khusus.
Program ini sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan inklusif membutuhkan inovasi yang tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga pada kebutuhan nyata peserta didik.
Penggunaan visual sebagai dukungan pembelajaran dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu siswa memahami informasi secara lebih mudah.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi, sekolah, guru, pendamping, dan peserta didik, LENS-ART diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu model inovasi pembelajaran inklusif di Kabupaten Kampar.
Baca Juga: Pekanbaru Fokus Infrastruktur dan Banjir
Pada akhirnya, inovasi ini diharapkan tidak hanya membantu meningkatkan kemampuan membaca dan memahami informasi bagi siswa disabilitas, tetapi juga mendorong terciptanya lingkungan belajar yang lebih ramah, adaptif, menarik, dan memberikan kesempatan yang setara bagi setiap peserta didik. (kom)
Editor : M. Erizal