RIAUPOS.CO - PIALA Dunia 2026 baru memasuki fase gugur, dua unggulan dan satu tim kuat sudah berguguran juga. Ini memperlihatkan, dengan format 48 negara, sulit memprediksi kekuatan setiap tim karena dalam babak gugur seperti ini, semua bisa saja terjadi. Dengan adanya 8 negara posisi ketiga yang bisa lolos ke fase gugur, menjadi tantangan tersendiri bagi tim-tim juara dan runner-up grup.
Semua tim kini dalam posisi setara, meski dia tak diunggulkan melawan raksasa yang diunggulkan, karena semua memikirkan tentang now or never. Melaju atau tersingkir.
Ini bisa dirasakan Jerman, salah satu unggulan. Tim asuhan Julian Negelsmaan ini semestinya, di atas kertas, bisa mengatasi salah satu tim peringkat tiga terbaik, Paraguay. Sebab, meskipun di babak penyisihan memenangi persaingan dengan Turki yang tersingkir lebih awal, Paraguay sempat kalah telak 1-4 dari Amerika Serikat (AS), yang pertandingan terakhir kalah 2-3 dari Turki. Sedangkan Jerman menjadi raja di Grup E meski ternoda dengan kekalahan 1-2 dari Ekuador di penyisihan terakhir.
Baca Juga: Myung-bo dan Korsel yang Harap-Harap Cemas
Nah, kekalahan dari Ekuador itu dianggap menjadi sinyal buruk dalam persiapan fase grup. Ditambah dengan keluhan Negelsman yang mengatakan tidak masuk akal dalam sebuah Piala Dunia, sebuah tim baru tahu siapa lawannya di fase gugur dalam waktu 48 jam sebelum pertandingan. Negelsmann dianggap tidak bisa memberi jaminan konsistensi timnya sejak menang 7-1 atas Curacao dan 2-1 atas Pantai Gading.
Padahal, saat melawan Ekuador, Der Panzer juga turun dengan tim utama dengan alasan untuk mempertahankan konsistensi timnya. Ini berbeda dengan Prancis, Argentina, atau beberapa tim lainnya yang menurunkan pemain pelapis di pertandingan ketiga setelah mengamankan langkah ke fase grup. Dengan tim utama, Jerman tetap kalah dari Ekuador. Dan itulah sinyalnya.
Menghadapi Paraguay yang di babak kualifikasi sempat mengalahkan Brazil dan Argentina –dan sudah 4 Piala Dunia tak pernah lolos-memang membuat Paraguay memanfaatkan betul momen fase grup ini untuk memberi perlawanan seolah memainkan partai final. Hasil imbang 1-1 hingga 120 menit membuktikan bahwa tim asuhan Gustavo Alafaro ini punya mental baja. Mereka juga beruntung memiliki kiper tinggi besar asal klub San Lorenzo (Argentina), Orlando Gill. Gill berhasil membuat keder dan mematahkan dua penendang Jerman, Kai Havertz dan Nick Woltemade. Satu lagi tendangan Jonathan Tah menyambar burung.
Baca Juga: Ronaldo, Messi, dan Rasa Hormat kepada Para “Monster
Yang menarik, rekor adu penalti sebenarnya memihak Jerman. Dalam empat adu penalti di Piala Dunia sebelumnya, Jerman selalu menang. Yakni di Piala Dunia 1982 (vs Prancis), Piala Dunia 1986 (vs Meksiko), Piala Dunia 1990 (vs Inggris), dan Piala Dunia 2006 (vs Argentina). Kegagalan ini seperti kutukan bagi Jerman karena dalam tiga Piala Dunia setelah meraih juara tahun 2014, tersingkir oleh tim-tim non-unggulan.
Sementara itu, Belanda yang tampil perkasa di babak penyisihan dengan mencatat dua kemenangan dan imbang dengan Jepang, dipulangkan oleh Maroko. Juga dengan adu penalti. Berbeda dengan Paraguay yang sudah lama tak lolos Piala Dunia, Maroko memang tim yang sedang naik daun. Empat tahun lalu di Qatar, mereka berhasil lolos hingga semifinal sebelum kalah dari Prancis. Yang menarik, mereka menumbangkan Portugal di perempatfinal. Dalam babak penyisihan, Maroko juga tampil impresif. Mereka tak terkalahkan, termasuk menahan Brazil dan menang atas Haiti dan Skotlandia.
Yang agak membingungkan, dengan kualitas pemain yang banyak bermain di tim besar Eropa, Belanda justu tampil tertekan melawan Maroko. De Oranje kalah jauh dalam penguasaan bola (30 berbanding 60 persen) meski unggul dalam shoot on goal dan shoot on target. Yang juga mengherankan, adalah pilihan pelatih Ronald Koeman untuk lima penendang pertama dalam adu penalti.
Ada tiga nama anak muda yang belum teruji yang harus memikul tanggung jawab itu: Justin Kluivert, Quinten Timber, dan Crysencio Summerville. Padahal masih ada beberapa pemain senior seperti Virgil van Dijk, Teun Koopmeiners, Denzel Dumfries, atau Marten de Roon di lapangan. Pendukung Belanda pantas marah kepada Koeman dalam hal ini. Setidaknya, jika pun kalah juga dalam adu penalti Selasa kemarin, paling tidak pilihannya memang sudah memenuhi espektasi. Bukan berspekulasi dengan pemain-pemain yang baru pertama tampil di Piala Dunia.
Kekalahan ini membuat Belanda menyamai rekor buruk Spanyol dalam menjalani adu penalti di Piala Dunia. Belanda dan Spanyol kini sama-sama mengalami empat kekalahan dalam adu penalti di Piala Dunia. Empat tahun lalu di Qatar, Belanda juga tersingkir lewat adu penalti setelah kalah di perempatfinal dari Argentina. Belanda juga kalah adu penalti dari Argentina di Piala Dunia 2014. Kekalahan pertama adu penalti Belanda terjadi di Piala Dunia 1998 dari Brazil.
Sementara itu, Jepang, tim kuat yang memang tak diunggulkan, juga gagal ke babak selanjutnya. Brazil, memang -dengan susunan pemain seperti apa pun-tetaplah mimpi buruk bagi tim mana pun. Meski di pertandingan uji coba terakhir Jepang menang 3-2, namun itu berbeda dengan kondisi pertandingan hidup-mati di fase gugur seperti sekarang.
Baca Juga: Ketika Para Bintang Tak Mampu Selamatkan Turki
Tetapi, harus diakui, mental baja sebagai tim yang paling banyak meraih gelar Piala Dunia sangat berperan dalam pertandingan ini. Sepanjang pertandingan Selecao mengurung pertahanan Jepang dengan presentase penguasaan bola 69 berbanding 31 persen, shoot on goal 19 berbanding 5, dan shoot on target 7 berbanding 2, Brazil memang unggul segalanya.
Hanya saja, dalam kondisi statistik tak memihak, Jepang tampil tetap percaya diri. Bermain dengan gaya yang dirancang dan secara konstan dimainkan dalam semua pertandingan mereka melawan siapa pun. Mereka mulai goyah justru setelah unggul 1-0 lewat Kaishu Sano. Carlo Ancelotti yang tersengat dengan gol itu, di babak kedua, memberi perintah agar melalukan serangan frontal lewat laut, darat, dan udara.
Hingga kemudian Casimero mencetak gol lewat tandukan hasil kiriman Gabriel Magalhaes, dan gol kemenangan dicetak Gabriel Martinelli lewat tik-tak di kotak penalti bersama Bruno Guimaraes menit 90+5, di saat semua orang yakin pertandingan akan dilanjutkan leta extra time.
Pertemuan Jepang melawan Brazil memang kepagian. Secara kualitas, Jepang tak pantas gagal di fase grup awal seperti ini. Sebab, meski kehilangan tiga bintang utama-Wataru Endo, Kaoru Mitoma, dan Takumi Minamino-jelang Piala Dunia, mereka seperti tak ada masalah. Siapa pun pemain yang dimainkan, langsung masuk dengan sistem dan strategi permainan yang dirancang Hajime Moriyasu. Kini, setelah Jepang, Jerman, dan Belanda tersingkir, tim top dan unggulan mana lagi yang akan menyusul?***
Editor : Arif Oktafian