BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Rapat Dengar Pendapat (RDP) lintas Komisi DPRD Bengkalis, mendesak Direktur Perumda Tirta Terubuk Bengkalis Abel Ikbal mengundurkan diri dari jabatannya. Karena dinilai tidak mampu mengatasi persoalan air bersih yang saat ini mengalami krisis air baku di waduk.
Dalam RDP lintas komisi, yang berlangsung, Senin (6/4) sore, para legislator melontarkan kritik tajam sekaligus mengultimatum dan menuntut langkah nyata setelah berulang kali persoalan distribusi air bersih tak kunjung selesai.
“Ini untuk yang ketiga kalinya dipanggil, manajemen Perumda Tirta Terubuk Bengkalis kembali dihadapkan pada evaluasi terbuka. Namun hingga kini, solusi konkret yang diharapkan belum juga terlihat, sementara kondisi di lapangan masih jauh dari kata normal,” kata Anggota Komisi II DPRD Bengkalis Firman.
Ia menegaskan, di tengah kekeringan sumber air baku yang belum pulih, bahkan kian berlumpur, membuat distribusi tersendat. Situasi ini menegaskan persoalan yang terjadi tidak lagi semata bersifat teknis, melainkan mencerminkan lemahnya respons yang cepat, terukur dan berorientasi pada hasil.
Dia menilai manajemen Perumda Tirta Terubuk masih terjebak dalam pola kerja pasif dan tidak adaptif terhadap situasi krisis air baku. “Kalau hal sederhana saja tidak bergerak, bagaimana mau bicara solusi besar? Kerja itu dimulai, bukan ditunggu,” tegasnya.
Baca Juga: Kejari Bengkalis Terima Berkas SPDP Kasus Lakalantas yang Menimpa Wakil Ketua DRPD Hendrik Firnanda
Ia mengatakan, saat dicarikan solusi agar belajar dengan daerah lain, malah tidak hadir. Tapi saat dihadapkan dengan persoalan air baku yang kurang, langkah yang dilakukan sangat lamban. Bahkan hanya untuk membangun sumur bor saja banyak retorikanya.
“Malah menunggu sambungan pipa suplai air baku yang ada di waduk PT Meskom yang menelan anggaran,” tegasnya.
Pimpin rapat Fakhtiar Qodri mengungkapkan, forum rapat secara tegas menolak pola penanganan yang terus berulang dalam bentuk alasan tanpa diikuti tindakan nyata. Ia menilai, berlarutnya persoalan menunjukkan kurangnya ketegasan dalam pengambilan keputusan.
“Air kebutuhan pokok masyarakat yang pelanggannya mencapai 5.000 rumah tangga. Tidak ada ruang untuk alasan yang terus diulang. Yang dibutuhkan sekarang adalah keputusan dan tindakan nyata,” tegas Fakhtiar.
Ia mengingatkan, keterlambatan penanganan tidak hanya berdampak pada terganggunya pelayanan, tetapi juga mengikis kepercayaan masyarakat terhadap Perumda Tirta Terubuk Bengkalis. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka krisis yang dihadapi bukan hanya soal air, melainkan juga krisis kepercayaan publik.
“Jangan sampai masyarakat melihat tidak ada keseriusan. Kalau terus begini, bukan hanya air yang tidak mengalir, tapi kepercayaan publik juga ikut hilang,” jelasnya.
Baca Juga: BNN Usulkan Pelarangan Vape dalam RUU Narkotika Temuan Zat Berbahaya Jadi Alarm Serius
Tekanan semakin menguat ketika Sekretaris Komisi II DPRD Bengkalis Rendra Wardana secara terbuka menyoroti stagnasi kinerja Perumda Tirta Terubuk Bengkalis.
Dirinya menilai, rapat demi rapat hanya menghasilkan penjelasan yang sama tanpa perubahan nyata di lapangan.
“Tiga kali rapat, tapi tidak ada pergeseran. Ini bukan lagi soal kendala, melainkan soal keseriusan. Kami beri waktu tiga bulan jika tidak ada hasil, mundur adalah konsekuensi logis,” jelasnya.
Ia juga menyoroti persoalan mendasar yang belum tersentuh serius, yakni kondisi waduk yang telah menua dengan sedimentasi lumpur yang terus menumpuk. Menurutnya, pembiaran terhadap masalah tersebut mencerminkan tidak adanya keberanian dalam mengambil langkah strategis.
Sorotan paling tajam datang dari Hendra Jeje yang mempertanyakan langsung akuntabilitas kinerja pimpinan Perumda Tirta Terubuk. Dirinya menilai, jurang antara rencana dan realisasi semakin lebar, sementara masyarakat terus menanggung dampaknya.
Baca Juga: Kejar Pendapatan dari Pajak Bahan Bakar hingga Alat Berat
“Rencana terus ada, tapi hasil tidak terlihat. Masyarakat tidak hidup dari rencana. Mereka butuh air hari ini, bukan janji besok,” jelasnya.
Menurut Hendra, krisis yang terjadi bukan semata akibat faktor alam, tetapi juga kegagalan dalam merespons situasi secara cepat dan tepat. Dalam kondisi seperti ini, kepemimpinan diuji melalui tindakan, bukan sekadar penjelasan.
Direktur Perumda Tirta Terubuk Bengkalis Abel Iqbal sempat terdiam dan hanya menganguk-angguk. Setelah rapat akan ditutup, pimpinan rapat baru memberikan waktu untuk direktur menjawab maupun menjelaskan alasan.
Abel Iqbal mengatakan, memang saat ini kondisi air baku di Waduk Wonosari sedang mengalami kekeringan. Pihaknya sedang berupaya untuk meminta air waduk PT Meskom agar dapat mengalirkan airnya ke Waduk Perumda Tirta Terubuk.
“Kami sudah berusaha mencapai sumber air baku, baik bersama RT, RW dan kepala desa agar mencari sumber air di kebun dan hutan. Tapi hasilnya tidak ada dan kami sedang meminta PT Meskom dan juga koperasi Meskom Sejati agar mengalirkan air waduknya ke waduk Perumda,” jelasnya.
Ia mengaku, saat ini memang musim kemarau dan air kering. Kalau seluruh upaya untuk mendapatkan air sudah dilakukan. “Nanti terserah pemerintah dan dewan menentukan kondisi Perumda Tirta Terubuk kedepannya bagaimana,” ujarnya.(ksm)
Editor : Arif Oktafian