Muara Sungai di Meranti Jadi Sarang Buaya
Redaksi • Jumat, 26 Juli 2013 | 10:48 WIB
KEPULAUAN MERANTI (RP) -Tak heran jika ada cerita masyarakat di wilayah Kepulauan Meranti bertemu dengan buaya atau bahkan seperti beberapa hari lalu sampai menimbulkan korban jiwa akibat diserang buaya.
Karena ternyata hampir semua sungai yang bermuara ke laut yang ada di wilayah Meranti menjadi tempat bersarangnya buaya.
Hal itu sangat masuk akal mengingat seluruh wilayah berpulau di Kepulauan Meranti ditumbuhi bakau dan tanaman mangrove yang sangat disukai oleh para hewan predator itu.
Dari beberapa kejadian dan peristiwa yang kerap terjadi antara buaya dan manusia semuanya terjadi di wilayah sungai yang bermuara ke laut.
Misalkan pernah beberapa waktu lalu saat kejadian warga Desa Tanjung, Kecamatan Tebing Tinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti.
Karena kerap kelihatan, sejumlah warga menjeratnya dengan menjadikan kera sebagai umpan. Alhasil buaya sepanjang lebih kurang 3 meter naik ke darat dari Sungai Suir Kanan berhasil ditangkap.
Karena tak tahu mau diapakan, akhirnya sejumlah warga tersebut mengulitinya. Kulitnya pun dijual dan dagingnya dimanfaatkan.
Setelah itu di Desa Semukut, Kecamatan Pulau Merbau, seekor buaya tertebas parang setelah seorang nelayan yang membersihkan empang (alat tangkap ikan) di Selat Rengit.
Memang tidak besar untuk ukuran buaya, namun akibat predator sepanjang lebih kurang 1,5 meter itu membuat induknya muncul beberapa kali yang diprediksi sepanjang lebih kurang empat meter.
‘’Memang sudah sejak lama masyarakat di sini (Pulau Merbau) tahu di sungai ini banyak buaya,’’ kata Rudi, salah satu warga Pulau Merbau, Kamis (25/7) kemarin.
Di sisi lain wilayah Kepulauan Meranti, masyarakat di Desa Tanjung Kulim, Kecamatan Merbau seekor buaya berukuran besar beberapa waktu lalu berhasil membunuh seorang masyarakat hingga kakinya putus dan akhirnya tewas.
Tulang kaki korban berhasil ditemukan sepekan kemudian setelah warga dibantu seorang pawang berhasil menangkap dan membunuh buaya tersebut.
‘’Buaya memang menjadi ancaman kami di desa, terutama yang bekerja merakit tual sagu,’’ sebut Iboi (37), salah seorang warga Tanjung Kulim yang turut membantu penangkapan buaya tersebut.
Di wilayah Kecamatan Rangsang, seekor anak buaya menyerang anak kecil yang sedang bermain di anak sungai (kanal). Memang berhasil lari, namun luka cabik di paha kanan menjadi tanda hingga saat ini.
‘’Setelahnya kami bersama warga lainnya juga berhasil membunuh buaya tersebut,’’ kata Pak Uteh, warga Selatpanjang yang memiliki kerabat di sana dan acap kali bolak-balik ke wilayah Rangsang.
Masih di Pulau Rangsang, tepatnya di Sungai Bokor, Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat, buaya menjadi ancaman serius bagi warga yang selalu melalui sungai tersebut.
Bahkan diprediksi jumlahnya bukan satu, atau dua ekor, namun mencapai belasan bahkan puluhan ekor. Disinyalir hulu Sungai Bokor menjadi sarang buaya.
‘’Kalau di hulu Sungai Bokor sudah menjadi rahasia umum banyak terdapat buaya. Memang belum pernah merenggut korban jiwa warga Bokor, namun semua warga tahu bahwa sangat banyak buaya di Hulu Sungai Bokor ini,’’ sebutnya.
Kembali ke wilayah Kecamatan Tebingtinggi di Sungai Suir Kanan, tepatnya di Desa Sesab, seorang pekerja kilang arang, Noh (60) mengaku, jika ingin melihat buaya di sana. Menurut keterangannya sangat banyak buaya akan terlihat pada malam hari di tepian sungai, di antara pantai yang ditumbuhi bakau.
‘’Kalau malam hari di sini banyak buaya. Kalau tak percaya tinggal senter saja pada malam hari, maka akan terlihat matanya. Sebab matanya bersinar saat kena cahaya senter,’’ kata pria paruh baya itu.
Senada dengan itu Happy Saptaria, salah seorang perawat di bawah Dinas Kesehatan (Diskes) yang bertugas di Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Desa Lalang, Kecamatan Tebing Tinggi Barat yang memiliki jaungkauan wilayah pelayanan masyarakat sampai di seberang Sungai Suir Kanan.
‘’Jika menyebarang malam, melihat buaya sudah biasa. Ukurannya pun ada yang sampai 6 meter,’’ akunya. Kamis (25/7) kemarin.
Untuk di Sungai Penyagun sendiri, Al (26) warga Dorak Selatpanjang yang pernah menyusuri sungai tersebut melihat langsung sebanyak 2 ekor buaya berukuran besar di muara sungai.
‘’Pada saat itu, siang hari sekitar pukul 10.00 WIB pagi, terlihat 2 ekor buaya menampakkan dirinya di tepi sungai. Bahkan menurut warga buaya di sini menjadi pemandangan setiap hari para nelayan. Namun belum ada yang diganggu,’’ ujarnya.
Perlu Peran BKSDA
Sementara itu dengan banyaknya buaya di Meranti, di satu sisi sangat mengancam manusia. Namun di satu sisi menjadi potensi yang sangat besar jika dikelola dengan baik.
Sementara itu dengan keterbatasan yang ada dan minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di Kepulauan Meranti, memerlukan peranan dari institusi teknis seperti Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pusat yang ada di Riau.
Seperti yang diakui Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun), Ir Mamun Murod MM MH, kamis (25/7) ditemui di kantornya di Jalan Pembangunan, Selatpanjang. Untuk penanganan oleh Dinasnya, SDM yang menguasai hal itu jadi kendala mendasar.
‘’Secara teknis ini menjadi kewenangan UPT BKSDA Provinsi Riau. Makanya melalui Camat kita akan coba melakukan pendataan nantinya terhadap wilayah yang memiliki buaya yang banyak. Apalagi buaya tersebut hampir semuanya di wilayah kawasan hutan. Jika sudah begini dengan sudah adanya korban jiwa, perlu langkah awal kita lakukan zonasi terhadap wilayah yang banyak terdapat buayanya,’’ ungkapnya.
Murod menambahkan, untuk wilayah Kepulauan Meranti yang banyak terdapat buaya. Untuk itu BKSDA diharapkan bisa minimal melakukan penyuluhan di Meranti dengan melibatkan seluruh Pemerintahan Desa dan Kecamatan. Namun jika memungkinkan bisa membuat kelompok pelestari buaya di wilayah Kepulauan Meranti.
Sebab, tegasnya buaya merupakan hewan predator yang di lindungi keberadaannya oleh negara. Menurutnya jika memang dikelola dengan baik, maka buaya yang banyak di Meranti menjadi asset yang dapat mengangkat nama daerah.
‘’Dengan kejadian adanya yang meninggal akibat dimakan buaya, perlu diamankan. Bukan tidak mungkin dengan banyaknya buaya di Meranti dibuat penakaran. Sehingga buaya yang menjadi momok, malah menjadi potensi yang bisa mendatangkan keuntungan besar bagi daerah kita,’’ ujarnya optimis.
Jenis Terganas di Dunia
Buaya yang merenggut nyawa Yulizar (19) lalu di Meranti kemarin merupakan jenis buaya muara atau buaya bekatak (Crocodylus porosus).
Buaya ini dan keseluruhan buaya yang ada di Meranti adalah jenis buaya yang terutama hidup di sungai-sungai dan di laut dekat muara.
‘’Daerah penyebarannya dapat ditemukan di seluruh perairan Indonesia. Mulut spesies ini cukup lebar dan tidak punya sisik lebar pada tengkuknya. Sedang panjang tubuh termasuk ekor bisa mencapai 12 meter seperti yang pernah ditemukan di Sangatta, Kalimantan Timur,’’ kata Berty Asmara, salah seorang mantan guru di SMAN 1 Tebing Tinggi Kepulauan Meranti yang senang mempelajari berbagai jenis buaya.
Alumnus Unri Pekanbaru itu mengatakan, buaya muara dikenal sebagai buaya terbesar di dunia, jauh lebih besar dari buaya Nil (Crocodylus niloticus) dan alligator Amerika (Alligator mississipiensis).
Penyebarannya pun juga terluas di dunia; buaya muara memiliki wilayah perantauan mulai dari perairan Teluk Benggala (Sri Lanka, Bangladesh, India) hingga perairan Polinesia (Kepulauan Fiji dan Vanuatu). Sedangkan habitat favorit untuk mereka adalah perairan Indonesia dan Australia.
‘’Buaya muara mampu melompat keluar dari air untuk menyerang mangsanya. Bahkan bilamana kedalaman air melebihi panjang tubuhnya, buaya muara mampu melompat serta menerkam secara vertikal mencapai ketinggian yang sama dengan panjang tubuhnya. Buaya muara menyukai air payau/asin, oleh sebab itu pula bangsa Australia menamakannya saltwater crocodile (buaya air asin). Selain terbesar dan terpanjang, buaya muara terkenal juga sebagai jenis buaya terganas di dunia,’’ terang Berty.(amy)
Sungai-sungai Habitat Buaya di Meranti:
- Sungai Suir, Kecamatan Tebing Tinggi Barat
- Sungai Tohor, Kecamatan Tebing Tinggi Timur
- Sungai Bokor, Kecamatan Rangsang Barat
- Sungai Penyagun, Kecamatan Rangsang
- Sungai Tebun, Kecamatan Rangsang
- Sungai Rawa, Kecamatan Merbau
- Selat Rengit, Kecamatan Pulau Merbau
- Sungai Sodor, Kecamatan Rangsang Barat
Editor : RP Redaksi