PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Jembatan Sungai Solok Desa Barangan Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) yang ambruk di Jalan Lintas Timur Km 183 membuat arus lalu lintas masih dilakukan buka tutup. Lalu lintas menjadi padat merayap dan kemacetan panjang pun terjadi mencapai 3 kilometer (km).
Lokasi macet itu, dari arah Pematang Reba-Pekanbaru yakni dari Desa Kota Lama hingga Desa Barangan Kecamatan Rengat Barat. Sedangkan dari arah Pekanbaru, yakni dari Desa Japura Kecamatan Lirik hingga Desa Barangan.
Kapolres Inhu, AKBP Dody Wirawijaya SIK ketika dikonfirmasi mengatakan, setelah badan jalan pada jembatan Sungai Solok Desa Barangan ditimbun secara bertahap sudah bisa dilalui kendaraan. “Tahap awal bisa dilewati kendaraan roda dua dan roda empat,” ujar Kapolres Inhu, AKBP Dody Wirawijaya SIK, Kamis (11/1).
Waktu lama buka tutup untuk kendaraan yang melintas dari kedua sisi sambung Dody Wirawijaya, berlangsung selama 15 menit. Namun demikian, waktu buka tutup itu sifatnya dinamis dan disesuaikan situasi di lapangan.
Ke depan sambung Kapolres, penanganan dalam bentuk penimbunan masih terus akan dilakukan pada badan jalan sisi kanan arah Jakarta - Pekanbaru. Bahkan saat ini ada alat berat yang stand by di lokasi kejadian. “Berdasarkan hasil koordinasi dengan pihak Balai Jalan Nasional, penimbunan dengan memakai plat masih akan dilanjutkan pada sisi kanan,” ungkapnya.
Untuk itu harap Kapolres, kepada pengguna jalan yang melintas di Jalan Lintas Timur Km 138 agar selalu waspada dan mengikuti petunjuk petugas yang ada di lapangan. “Tertib dan mengikuti arahan petugas, berarti membantu untuk kelancaran lalu lintas,” harap Kapolres.
Di tempat terpisah, Kapolres Pelalawan AKBP Suwinto SH SIK melalui Kasat Lantas AKP Akira Ceria SIK MM menjelaskan hingga kemarin, tinggi permukaan air yang telah merendam Jalan Lintas Timur (Jalintim) Sumatera Km 73-83 Desa Kemang Kecamatan Pangkalan Kuras, Pelalawan tak kunjung berkurang, yakni dengan ketinggian bervariasi antara 90 cm-150 cm.
“Ya, banjir yang menggenangi badan Jalintim Km 72- 83 Desa Kemang, tingginya masih belum berkurang atau menurun. Sehingga saat ini, sistem buka tutup jalan, masih kita lakukan untuk mengurangi kepadatan kendaraan sehingga tidak menyebabkan terjadinya kemacetan yang sangat panjang,” sebutnya.
Bahkan, mantan Kasat Lantas Polres Dumai ini menambahkan, dampak sebanyak 8 unit kendaraan bermotor jenis truk kembali mogok atau mati di tengah banjir Jalan Lintas Timur (Jalintim), tepatnya di Km 83 Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan, Kamis (11/1) sekitar pukul 11.00 WIB. Di mana titik ini menjadi lokasi banjir yang terdalam.
“Atas kondis itu, kita bersama tim gabungan dari TNI, Dishub, BPBD dan Satpol PP Pelalawan, kembali melakukan penutupan Jalintim sementara untuk melakukan evakuasi 8 kendaraan berbadan besar yang mogok di tengah Jalintim direndam banjir. Pasalnya, dampak dari rusaknya truk tersebut telah menyebabkan arus lalu lintas menjadi stak atau tidak bergerak,” beber Akira.
Dikatakannya, proses evakuasi truk tersebut menyita waktu yang cukup panjang. Pasalnya, gelombang arus di badan jalintim yang direndam banjir ini cukup kuat. Belum lagi adanya sejumlah kerusakan di badan jalan nasional ini hingga minimnya penerangan yang ada di lokasi banjir.
“Jadi, sejak pagi hingga malam ini, kita baru berhasil mengevakuasi enam kendaraan yang mogok karena mati mesin. Dan kita targetkan hingga pukul 23.00 WIB hari ini (malam kemarin, red), dua truk lainnya akan dituntaskan evakuasinya,” ujar Kasat Lantas.
Ditambahkan Akira bahwa, hingga saat ini, puluhan personel gabungan dari berbagai instansi seperti Polres Pelalawan, TNI, Dinas Perhubungan (Dishub), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Satpol PP, dan masyarakat relawan masih tetap berjaga di sepanjang Jalintim yang dikepung banjir.
Hal ini dilakukan untuk memberikan arahan kepada pengendara saat melintas agar tidak terjebak banjir ataupun terperosok ke dalam lubang drainase. Dan dengan kondisi banjir ini, tim gabungan tidak mengizinkan kendaraan roda 10 ke bawah untuk melintas. Pasalnya, kondisi ini sangat beresiko tinggi menyebabkan mobil mogok hingga terbawa banjir.
“Untuk itu, kami tidak henti-hentinya mengimbau dan menekankan agar pengendara dapat menunda perjalanan atau mencari jalan alternatif melaui Lintas Tengah Kabupaten Kuansing. Serta tidak nekat menerobos Jalintim yang telah direndam banjir mencapai 1,5 meter kecuali menggunakan jasa mobil gendong,” tuturnya.
Koordinasikan Kondisi Jalintim dengan BPJN
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau melalui Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (PUPR-PKPP) saat ini terus berkoordinasi dengan Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) terkait kondisi Jalan Lintas Timur (Jalintim) Sumatera Km 83 Desa Kemang, Pangkalan Kuras, Pelalawan dan Km 183 Desa Barangan, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu).
Selain tak bisa dilewati karena banjir, saat ini di ruas jalan tersebut juga ada jembatan yang mengalami kerusakan. Kepala Dinas PUPR PKPP Riau M Arief Setiawan melalui Kepala Bidang Bina Marga Teza Darsa mengatakan, karena Jalintim merupakan kewenangan jalan nasional hingga saat ini pihaknya hanya bisa berkoordinasi terkait kondisi jalan tersebut.
‘’Karena jalan nasional, kami hanya bisa koordiansi. Kami juga dapat informasi terkait kondisi jalannya dari pihak BPJN,” katanya. Lebih lanjut dikatakanya, terkait kondisi jembatan yang rusak di Jalintim, informasi yang pihaknya dapatkan, saat ini sudah mulai proses perbaikan. ‘’Kalau pihak BPJN memerlukan bantuan, biasanya menghubungi kami. Dan kami siap memberikan bantuan berupa peralatan, namun hingga saat ini belum ada permintaan. Kemungkinan masih bisa ditangani sendiri,” ujarnya.
Namun demikian, saat ini pihaknya juga sedang melakukan perbaikan jalan yang menjadi kewenangan provinsi. Di mana jalan tersebut saat ini digunakan sebagai jalan alternatif di saat jalintim masih digenangi banjir. “Saat ini kami sedang melakukan perbaikan di ruas Jalan Cerenti-Air Molek. Perbaikan dilakukan dengan melakukan penimbunan material agar jalan tersebut dapat fungsional kembali,” sebutnya.
Tujuh Kecamatan di Pelalawan Masih Banjir
Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Pelalawan hingga saat ini masih tetap bertahan. Bahkan, tinggi permukaan air yang menggenangi pemukiman warga dan badan jalan kembali naik 2 cm. Kondisi tersebut tentunya membuat aktivitas warga terganggu dan menyebabkan warga menjadi terisolir. Pasalnya, akses hanya dapat ditempuh menggunakan alat transportasi air serta kendaraan besar.
“Ya, hingga saat ini, banjir yang menggenangi pemukiman penduduk dan merendam badan jalan di tujuh kecamatan, masih tetap bertahan. Bahkan, tinggi permukaan airnya kembali bertambah atau naik 2 centimeter,” terang Kepala Pelaksana (Kalaksa) Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Pelalawan Zulfan MSi kepada Riau Pos, Kamis (11/1).
Sekretaris Dinas Perikanan Pelalawan ini mengatakan, tujuh kecamatan tersebut yakni Kecamatan Langgam, Pangkalankerinci, Pelalawan, Pangkalan Kuras, Ukui, dan Teluk Meranti. Tinggi permukaan air bervariasi antara 50 cm hingga mencapai 2 meter. Sedangkan indikator level ketinggian permukaan air di Sungai Kampar, saat ini berada pada angka 4,19 meter.
Baca Juga: Warga Korban Banjir Perlu Air Bersih
“Jadi, kondisi banjir terparah masih berada di Dusun Muara Sako Kelurahan Langgam, Kecamatan Langgam dengan ketinggian air merendam badan jalan 2 meter. Untuk itu, kami masih terus intens memantau perkembangan banjir sehingga upaya penanggulangan dapat cepat dilakukan,” paparnya.
Dijelaskan Zulpan, akibat banjir tersebut, setidaknya ada sebanyak 5.127 total korban terdampak banjir dengan jumlah sebanyak 15.746 jiwa. Selain itu, terdata sebanyak 288 KK keluarga telah mengungsi ketempat yang telah disediakan pemerintah daerah. Yakni rumah di pejabat Pemkab Pelalawan di kompleks perkantoran Bhakti Praja Pangkalankerinci.
“Alhamdulillah, seluruh korban terdampak banjir ini telah kita berikan bantuan. Sementara itu, saat ini masih ada persediaan atau stok sembako kita, yakni sebanyak 700 paket sembako. Dan sembako ini akan disalurkan pada tahap dua, atau tepatnya usai banjir. Untuk itu, kita juga tentunya mengimbau peran serta kepedulian perusahaan dan pihak swasta, khususnya pihak perbankan untuk memberikan bantuan kepada korban terdampak banjir ini,” ujarnya.
Gendong Lansia Terjebak Banjir
Langkah cepat yang dilakukan Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Pangkalankerinci, AKP Romi Irwansyah SH MH, patut diacungi jempol. Pasalnya, sikap humanis dan kepedulian, ditunjukkan perwira berpangkat tiga balok di pundak ini saat membantu evakuasi pasangan lanjut usia (lansia) dengan cara mengendong ketika terjebak banjir di dalam rumahnya.
“Ya, alhamdulillah, kita telah berhasil melakukan evakuasi pasangan suami istri yang telah berumur atau lansia itu di kediamannya Dusun Kualo Kelurahan Pangkalankerinci Kota, Kecamatan Pangkalankerinci pada Rabu (10/1) siang lalu sekitar pukul 12.30 WIB,” terang Kapolres Pelalawan, AKBP Suwinto SH SIK melalui Kapolsek Pangkalankerinci, AKP Romi Irwansyah kepada Riau Pos, Kamis (11/1).
Tanggul Kanal Jebol Ratusan Rumah di Meranti Terendam
Tidak kurang 200-an rumah warga di dua dusun di Desa Dedap Kecamatan Tasik Putripuyu, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, saat ini terendam banjir. Kondisi terparah berlangsung dalam beberapa hari terakhir sejak berlangsung tiga pekan lalu karena tingginya intensitas hujan.
Dari informasi yang dirangkum wartawan, banjir tersebut dampak luapan kanal dan pendangkalan sungai yang tak jauh dari permukiman warga setempat. Demikian disampaikan Kepala Desa Dedap, Mansur, kepada Riau Pos, Kamis (11/1).
“Dari pengecekan kami, sekat kanal ternyata sudah terbuka. Buktinya sudah kami dokumentasikan kalau sekat kanal itu sudah jebol,” bebernya.
Tidak hanya rumah warga, air juga merendam sejumlah sekolah, rumah ibadah, dan kantor desa. Kejadian ini sudah berulang. Seperti tahun sebelumnya juga demikian, padahal kanal tersebut milik salah satu perusahaan HTI yang beroperasi di daerah mereka. “Sebenarnya, sudah beberapa kali kita minta pihak swasta untuk bertanggung jawab, tetapi belum ditanggapi. Sampai saat ini tidak ada solusi,” jelasnya.
Camat Tasik Putri Puyu, Zainal SE, ketika di temui di sela perjalanan dinasnya ke Selatpanjang, Kamis (11/4) siang mengungkapkan kondisi yang sama terjadi di beberapa desa lain wilayahnya. Adapun desa yang terdampak di antaranya Mekar Delima, Dedap, Selatakar dan Tanjung Pisang, Mengkopot, dan Mengkirau.
“Tapi di antara enam desa ini, yang paling parah terdampak adalah Desa Dedap, Mengkopot, dan Mengkirau. Untuk di Mengkopot itu, totalnya 150 KK yang terdampak dan di Dedap 344 KK. Desa lainnya masih didata. Sudah ada yang mengungsi ke rumah kerabatnya karena kita belum menyediakan posko darurat,” bebernya.
Ia menyebutkan, untuk di Desa Dedap, kondisi diperparah dengan jebolnya sekat kanal dalam wilayah operasional HTI yang beroperasi di sana. Sehingga air meluap ke permukiman warga. “Jujur kami sangat kecewa, seperti yang disampaikan Kades Dedap itu bahwa perusahaan sampai hari ini (kemarin, red) belum menanggapi kondisi yang terjadi tersebut,’’ ujarnya.
‘’Kami minta ada yang bertanggung jawab. Karena ini menyangkut kelangsungan hajat hidup warga di sana yang terdampak banjir. Jika perlu turunkan segera alat berat untuk menormalisasi sungai di Dedap agar debit air kanal segara menyusut,” tambahnya.
Sementara itu, Pemprov Riau melalui Dinas Kesehatan (Diskes) juga telah mendistribusikan bantuan obat-obatan untuk korban terdampak banjir di lima daerah. Kelima daerah yang telah didistribusi obat-obatan yakni, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Bengkalis, Pelalawan, Indragiri Hulu (Inhu), dan Rokan Hulu (Inhu).
Kepala Diskes Provinsi Riau, Sri Sadono Mulyanto mengatakan, pendistribusian obat-obatan tersebut karena ada permintaan bantuan dari Diskes setempat sebab masyarakat mulai mengeluhkan penyakit akibat terdampak banjir.
“Ada lima daerah yang sudah kirim bantuan obat-obatan. Pendistribusian obat ini karena ada permintaan dari daerah dan ketersediaan obat-obatan kita,” kata Sri Sadono.
Ia juga menyampaikan, bantuan obat-obatan di distribusikan ke Diskes setempat. Kemudian mereka yang mendistribusikan ke wilayah yang terdampak banjir. “Rata-rata daerah meminta bantuan obat-obatan antibiotik, vitamin, dan obat kulit. Jadi mana obat-obatan yang tersedia kita kirim karena untuk tahun 2024 ini kita belum ada pengadaan,” sebutnya.
Selain lima kabupaten itu apakah daerah lainnya yang mengusulkan bantuan obat-obatan? Ia menyatakan sudah ada.
‘’Rata-rata daerah terdampak sudah menyampaikan permintaan. Tapi yang baru kami kirim lima daerah itu. Karena yang lain masih kami data ketersediaan obat-obatannya di Laboratorium Farmasi,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Riau, M Taufiq OH mengatakan, saat ini harga bahan pokok di Riau masih stabil karena stok yang masih aman dan mencukupi. Ia pun memastikan tidak terjadi kelangkaan bahan pokok seperti cabai, beras, dan lainnya.
‘’Cabai kita datangkan dari Aceh. Juga, stok beras masih aman. Untuk harga bahan pokok di daerah terdampak banjir masih aman dan tidak mengalami kenaikan yang signifikan,” kata Taufiq.
Hingga saat ini, pihaknya juga terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, terutama di daerah yang terdampak banjir.
Namun, berdasarkan laporan daerah, stok dan harga sembako masih terkendali karena distributor telah memenuhi keperluan masyarakat.
“Kami juga mengimbau agar masyarakat bersikap bijak dan tidak memanfaatkan situasi banjir ini untuk kepentingan pribadi,” imbaunya.(amn/kas/sol/wir)
Laporan TIM RIAU POS, Pekanbaru
Editor : RP Arif Oktafian