XIII KOTO KAMPAR DAN PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - JALAN Lintas Riau-Sumatera Barat (Sumbar) di Km 106-107 Desa Tanjung Alai, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar yang sempat ditutup total sejak sejak Selasa (26/11) lalu karena longsor, kembali dibuka dan sudah bisa dilewati, Jumat (29/11). Namun, untuk melewati jalur ini diberlakukan jam operasional yakni dibuka mulai pukul 18.00 WIB hingga 07.00 WIB.
Kapolres Kampar AKBP Ronald Sumaja melalui Kasatlantas Polres Kampar AKP Vino Lestari menjelaskan, jam operasional jalan lintas Riau-Sumbar Km 106-107 Desa Tanjung Alai dibuka mulai pukul 18.00 WIB sampai pukul 07.00 WIB dan ditutup mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB.
”Pengerjaan jalan mau dimaksimalkan. Masih dilakukan penimbunan jalan. Mulai hari ini (kemarin, red) diberlakukan jam operasional,” jelas Vino Lestari, Jumat (29/11). ”Kita mengimbau kepada pengendara yang mau bepergian baik ke Sumbar maupun ke Riau untuk mematuhi jam operasional,” imbaunya.
Vino Lestari menjelaskan, untuk kendaraan bermuatan berat belum bisa lewat jalan lintas Riau-Sumbar Km 106-107 Desa Tanjung Alai ini karena hanya kendaraan kecil dan yang tidak bermuatan diizinkan. “Jalur ditutup dari Barehsolok sampai RM Jambang,” jelasnya.
Kemarin, AKP Vino Lestari bersama jajarannya turun langsung ke lapangan untuk mengurangi kemacetan di jalan ini. Satlantas Polres Kampar berkolaborasi dengan pihak BPJN Riau dan kontraktor untuk menerapkan sistem jam operasional guna mengatur arus lalu lintas.
Kasatlantas menjelaskan, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Riau sedang melakukan pengerjaan jembatan bailey yang diprioritaskan untuk kendaraan pribadi atau kendaraan kecil. Setelah selesai, jembatan bailey tersebut akan bisa digunakan.
“Kami berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi kemacetan dan memperlancar arus lalu lintas. Kami juga berkoordinasi dengan pihak BPJN Riau dan kontraktor untuk mempercepat pengerjaan jalan yang amblas,” ujarnya.
Polres Kampar menyatakan bahwa sistem jam operasional ini akan berlaku hingga pengerjaan jalan yang amblas selesai. Mereka meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan dan memohon kesabaran dari masyarakat selama proses perbaikan jalan berlangsung.
Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Riau Kombes Pol Taufiq Lukman Nurhidayat juga langsung turun ke lapangan untuk meninjau kondisi jalan ini, kemarin. Tujuannya untuk melihat secara langsung dampak longsor terhadap lalu lintas dan mencari solusi terbaik untuk mengatasi masalah tersebut.
Dirlantas Polda Riau ini langsung melakukan pengecekan terhadap titik-titik longsor dan menganalisis penyebab terjadinya bencana alam tersebut. Dari hasil peninjauan, terlihat bahwa longsor cukup parah dan mengakibatkan kerusakan yang signifikan pada badan jalan.
Material longsor berupa tanah dan bebatuan menutupi sebagian besar permukaan jalan, sehingga menyulitkan kendaraan untuk melintas. “Kondisi ini tentunya sangat mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pengguna jalan yang hendak melintas antara Riau dan Sumatera Barat,” sebut Kombes Taufiq.
Menanggapi kondisi darurat ini, Dirlantas Polda Riau menyampaikan keprihatinan yang mendalam. “Oleh karena itu, kami akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, dan instansi terkait lainnya untuk segera melakukan penanganan,” ujar Kombes Pol Taufiq Lukman Nurhidayat.
Lebih lanjut, Dirlantas Polda Riau juga menginstruksikan kepada jajarannya untuk meningkatkan pengamanan di lokasi longsor. Petugas kepolisian akan berjaga secara bergantian untuk mengatur lalu lintas dan memberikan informasi kepada pengguna jalan. Selain itu, rambu-rambu peringatan juga akan dipasang untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan.
Sementara itu, BPJN Riau hingga saat ini masih terus menggesa perbaikan jalan ini. Kepala BPJN Riau Yohanes Tulak Todingrara melalui PPK 1.4 BPJN Riau Afdirman Jufri mengatakan, perbaikan pada lokasi ini dilakukan pada jembagan bailey dan juga menggesa pembuatan trase baru di sisi jalan existing yang sebelumnya longsor.
“Untuk kondisi jembatan bailey belum bisa dilintasi karena ada retakan baru pada dudukan jembatan. Saat ini juga terus dilakukan perbaikan,” katanya.
Lebih lanjut dikatakannya, sementara itu untuk trase baru juga masih terus disiapkan. Namun, pembangunan trase baru ini juga sempat terkendala dalam pengiriman material karena kondisi jalan yang macet dan juga hujan di lokasi.
“Akibat curah hujan tinggi, pembangunan trase baru juga sempat terkendala. Kondisi jalannya juga licin dan berlumpur sehingga material sulit masuk,” sebutnya. ‘’Agar lalu lintas berjalan lancar, kami imbau masyarakat untuk mematuhi jam operasional yang sudah ditetapkan tersebut,” imbaunya.
Harga Sayuran Mulai Merangkak Naik
Ditutupnya jalur Riau-Sumbar di Km 106-107 Desa Tanjung Alai selama tiga hari mulai berpengaruh terhadap pasokan sembako ke Pekanbaru. Pantauan Riau Pos di dua pasar tradisional, Jumat (29/11), yakni Pasar Agus dan Pasar Kodim, harga komoditas sayuran yang berasal dari Sumatera Barat mulai merangkak naik.
Para pedagang pun sulit menentukan harga lantaran takut berdampak terhadap daya beli masyarakat. Seperti di Pasar Kodim, ikan lele masih dijual Rp25.000 per kilogram (kg), ikan patin Rp25.000 per kg, ikan nila Rp30.000 per kg sampai Rp35.000 per kg, ayam Rp30.000 per kg, dan hati ayam Rp2.000 per potong.
Sementara di Pasar Agus Salim, harga cabai merah Bukittinggi masih berkisar Rp40.000 per kg, cabai merah Medan Rp30.000 per kg, cabai rawit merah Rp40.000 per kg, cabai rawit hijau Rp40.000 per kg, bawang merah Rp35.000 per kg, dan bawang putih Rp40.000 per kg.
Salah seorang pedagang sayur di Pasar Kodim bernama Yayuk menjelaskan, selama beberapa hari terakhir sejak akses jalan lintas Sumbar-Riau putus, harga sayuran seperti tomat masih dijual dengan harga tinggi Rp20.000 per kg, wortel Rp10.000 per kg yang sebelumnya masih Rp7.000 per kg. Daun seledri yang sebelumnya dijual Rp40.000 per kg kini naik menjadi Rp60.000 per kg. Brokoli dijual Rp20.000 per kg, sebelumnya hanya Rp18.000 per kg. “Kalau harga sayuran naik memang belum terasa di masyarakat tapi di kami pedagang sudah mulai terasa. Seperti sekarang, biasanya harga seledri itu kami jual hanya Rp40.000 per kilogram, tapi sekarang saya jual Rp60.000 per kilogram, itu pun langsung dibeli masyarakat,” ucapnya.
Sementara itu, salah seorang pedagang di Pasar Agus Salim bernama Yolanda menjelaskan, untuk harga cabai merah dan bawang masih belum mengalami peningkatan harga. Meskipun begitu harga tomat masih dirasa sangat mahal bagi masyarakat dan pedagang akibat stoknya yang berkurang.
“Yang lain masih stabil. Kalau untuk tomat terasa mahalnya sudah dua bulan terakhir karena stoknya yang terbatas. Tapi kalau akses masih putus sampai pertengahan Desember ini, maka bisa jadi harga di Pekanbaru akan malah tambah naik lagi karena jelang akhir tahun dan Natal,” ucapnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Pekanbaru Zulhelmi Arifin memastikan pasokan sembako di pasaran saat ini masih tersedia dan cukup memenuhi kebutuhan masyarakat. Apalagi berdasarkan pantauan di sejumlah pasar diketahui bahan pokok masih tersedia dan tidak ada kelangkaan. “Bahan pokok itu masih tersedia, cuma sedikit tertunda karena jalur Sumbar-Riau saat ini memutar lewat Kiliran Jao,” katanya.
Lanjut Zulhelmi, saat ini pasokan sembako dari Sumbar tetap berjalan dan tidak terlalu berpengaruh terhadap kelangkaan di pasaran. Hanya saja terjadi sedikit kenaikan terhadap komoditi tertentu. Karena kendaraan pengangkut sembako dari daerah penghasil Sumbar harus melintasi jalan lain dengan jarak tempuh yang cukup jauh dibandingkan dengan lalu lintas biasanya.
Namun dirinya mengatakan, pasokan bahan pokok ke Kota Pekanbaru tidak hanya berasal dari wilayah Sumbar. Namun ada beberapa daerah penghasil lainnya seperti Sumatera Utara, Aceh, Jambi, dan Pulau Jawa. Pihaknya juga berkoordinasi dengan pihak penghasil lainnya, untuk memastikan pasokan yang tersedia bisa mencukupi kebutuhan masyarakat Kota Pekanbaru.
Apalagi saat ini sudah memasuki musim penghujan dan di sejumlah wilayah direndam banjir. Kondisi ini dikhawatirkan bisa membuat gagal panen dan berimbas terhadap kelangkaan pasokan bahan pokok. “Ada kenaikan harga sedikit karena bahan bakar kendaraan yang mereka gunakan untuk mengangkut sembako juga bertambah akibat jalurnya memutar. Secara umum, barang ada tercukupi dan harga masih normal,” jelasnya.(kom/sol/nda/ayi/das)
Editor : Rindra Yasin