BAGANSIAPIAPI (RIAUPOS.CO) - Foto tempo dulu terpampang di laman digitalcollections.universiteitleiden.nl menggambarkan tentang keberadaan habitat buaya Sungai Rokan sudah ada dan berkembang biak sejak lama.
Di foto ini terlihat tiga orang pria berpakaian serbaputih, layaknya nakhoda dan kelasi kapal Belanda duduk santai di atas buaya yang sudah ditangkap. Dilihat dari kondisinya, diperkirakan buaya telah mati dan tidak ada ikatan di kaki buaya tersebut.
Dalam keterangan dari pustaka digital Universitas Leiden, Belanda tersebut, disebutkan sedikit keterangan bahwa foto tersebut diperkirakan diambil antara tahun 1930 dan 1940. Dalam keterangan foto yang diterjemahkan secara bebas dari Bahasa Belanda, tertulis “Perburuan Buaya di Sungai Rokan, Dekat Bagansiapiapi”.
Satu foto lain juga menunjukkan seorang warga Cina, memegang bagian atas mulut buaya yang terbuka lebar. Kondisi sama, diperkirakan buaya tersebut telah mati dan terdapat kayu di dalam mulut buaya yang dipergunakan untuk menyangga agar mulut buaya terbuka lebar.
Dalam keterangan foto, disebutkan “Pemburu buaya Ang Gio menyaksikan buaya ditembak oleh pemburu Eropa di Sungai Rokan dekat Bagansiapapi”. Dua foto hitam putih itu seolah menjadi penegas, bahwa habitat buaya sejak dulu sudah banyak di Sungai Rokan, Rokan Hilir (Rohil).
Sulit ditemukan pada saat ini sumber tertulis ataupun dokumentasi foto di masyarakat Bagansiapiapi terkait dengan keberadaan buaya Sungai Rokan. Hanya sejumlah kisah beredar di tengah masyarakat yang dikaitkan dengan kejadian mistis tertentu.
Karena itu, bagi masyarakat setempat berlaku kebiasaan yang sudah dipegang kuat. Yakni ketika beraktivitas atau melintasi laut dan sungai ada pantangan untuk mengucapkan kata yang tak senonoh, lancang atau takabur. Karena dikhawatirkan akan berdampak buru,k baik berupa peristiwa alam maupun munculnya serangan buaya.
Seperti di Kubu (kini Kecamatan Kubu-Kubu Babussalam), dari penuturan orang tua-tua dahulu, buaya sudah diketahui masyarakat telah ada di Sungai Rokan. Salah satu tempat yang diyakini menjadi lokasi berkembangnya buaya itu adalah di pulau yang disebut dengan Pulau Tuan Syekh (kini di Pulau Pedamaran, Kecamatan Pekaitan).
Konon, buaya diyakini ada di pulau tersebut dan berkembang biak. Namun, saat itu buaya tak menyasar ke lingkungan masyarakat karena dijaga oleh pengaruh karomah tuan guru atau orang alim yang disebut sebagai tuan syekh. Diperkirakan julukan tuan syekh merujuk kepada guru persulukan Tarekat Naqsyabandiyah di daerah Rohil, khususnya di Kubu.
Di samping berbagai faktor alam, ada yang meyakini buaya yang semakin merangsek masuk ke lingkungan masyarakat karena seiring kian pudarnya keberadaan tokoh kharismatik atau yang memiliki karomah sebagai tuan syekh.
Seorang warga bernama Ramlah mengisahkan, keberadaan buaya diperkirakan terus bertambah semakin banyak. Karena keberadaannya yang terjaga di Pulau Tuan Syekh atau Pulau Pedamaran.
“Dulu, buaya di sungai Rokan diburu orang dan dijual. Saya ingat, ada peternak buaya di Pulau Halang yang bernama Pak Wan. Sempat kejadian tambak buayanya rusak dan buaya banyak lepas ke laut,” kata Ramlah.
Ia menyebutkan pemilik tambak buaya di Pulau Halang yang kini masuk wilayah Kecamatan Kubu Babussalam tersebut merupakan seorang pengusaha Cina. Pada masa itu, terangnya, buaya memiliki nilai jual dan tidak ada larangan dijual beli sehingga ada yang beternak buaya.
Di samping ada buaya yang khusus di penangkaran pengusaha, keberadaan buaya di pulau atau tempat tertentu yang bebas juga berkeliaran hidup. Ramlah meyakini dengan kehidupan buaya yang tak memiliki ancaman atau musuh yang membahayakan di pulau tersebut maka kawanan buaya tersebut semakin berkembang biak dengan baik.
Sehingga akhirnya buaya semakin agresif, bahkan merangsek ke lingkungan permukiman masyarakat melalui saluran sungai ataupun parit yang terhubung dari aliran Sungai Rokan, seperti di wilayah Kecamatan Bangko (Bagansiapapi).
Menurut Ramlah, ketika pengusaha Pak Wan meninggal, tambak buaya menjadi terbengkalai. Sampai akhirnya tambak jebol dan ratusan buaya berhamburan keluar tambak mencari tempat untuk menetap. Salah satunya diperkirakan adalah di Pulau Pedamaran atau Pulau Tuan Syekh tersebut.(fad)
Editor : Rindra Yasin