TELUK MERANTI (RIAUPOS.CO) - Konflik manusia dengan harimau masih saja terjadi di Riau. Rabu (25/6), seorang operator alat berat PT Citra Holindo bernama Hadito alias Kuang tewas dimangsa harimau di areal tanaman akasia, tepatnya di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan.
Pria malang berusia 23 tahun ini meregang nyawa secara tragis dengan kondisi tubuh penuh luka robek di bagian leher, dada, dan punggung, diduga akibat gigitan serta cakaran harimau Sumatera. Tragisnya, ini terjadi ketika korban pergi buang air besar (BAB) sekitar pukul 20.00 WIB.
Menurut keterangan rekan korban, Firmansyah malam itu, rekannya asal Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat tersebut hendak beristirahat di dalam camp mobile atau kamp apung setelah selesai bersantap malam bersama.
Dengan perut yang telah terisi penuh makanan, Hadito pun bergerak melangkah menuju lapak tempat tidurnya di barak. Sempat tertidur sejenak, Hadito tiba-tiba terbangun karena perutnya terasa sesak ingin BAB. Ia pun segera berlari keluar sendirian dan menuju toilet yang berjarak 15 meter dari baraknya.
Hanya saja, baru beberapa saat keluar dari kamp, tiba-tiba teman korban bernama Firmansyah mendengar suara korban berteriak. Firmansyah pun langsung keluar dari kamp untuk melihat korban. Firman pun kemudian mengambil senter dan menyorot ke arah korban.
Dirinya terkejut mendapati korban sudah diseret masuk ke dalam Petak Ukur Permanen (PUP) yang berjarak 10 meter dari lokasi korban BAB. Setelah peristiwa tersebut, rekan kerja korban segera melapor ke koordinator camp dan dilakukan pencarian.
Di sekitar areal PUP, hanya ditemukan celana dan handphone milik korban. 100 meter dari lokasi awal, korban akhirnya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa dengan posisi telungkup dan luka parah di bagian leher dan punggung. Atas kejadian itu, para pekerja langsung menghubungi Manajemen PT Arara Abadi serta pihak kopolisian setempat.
Personel Polsek Teluk Meranti bersama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dan Tim PT Arara Abadi yang mendapat laporan langsung melakukan pengecekan tempat kejadian perkara (TKP), Kamis (26/6). Hasilnya, tanda-tanda menunjukkan korban diterkam harimau dan dibawa ke dalam hutan.
Jasad korban selanjutnya dievakuasi ke Klinik Distrik Merawang PT Arara Abadi, Desa Pulau Muda dan dibawa ke Puskesmas Teluk Meranti untuk divisum. «Saat ini jenazah korban telah dibawa ke rumah keluarganya di Sambas, Kalimantan Barat,’’ terang Kapolres Pelalawan AKBP Afrizal Asri SIK melalui Kasi Humas Iptu Thomas Siahaan, Kamis (26/6).
‘’Pihak kepolisian dan BBKSDA Riau telah melakukan langkah-langkah mitigasi dan berkoordinasi dengan BBKSDA pusat untuk melakukan investigasi satwa harimau,” tambahnya.
Diungkapkannya, kejadian ini menjadi peringatan bagi masyarakat Kecamatan Teluk Meranti untuk lebih berhati-hati saat beraktivitas di luar rumah, terutama pada malam hari. Sedangkan pihak kepolisian dan BBKSDA Riau mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tetap waspada terhadap keberadaan satwa liar.
Dalan dalam waktu dekat, BBKSDA Provinsi Riau bagian konflik akan turun ke tempat kejadian untuk melakukan investigasi lebih lanjut. Pihak kepolisian dan BBKSDA Riau juga akan terus berkoordinasi untuk menangani kasus ini dan mencegah kejadian serupa di masa depan.
“Kejadian serangan harimau ini menimbulkan kesedihan bagi keluarga korban dan masyarakat sekitar. Semoga kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih berhati-hati dan waspada terhadap keberadaan satwa liar di sekitar kita,” tutur Kasi Humas Polres Pelalawan.
BBKSDA langsung menurunkan tim. Kepala Bidang Teknis KSDA Riau yang juga Humas BBKSDA Ujang Holisudin mengatakan, begitu mendapat laporan, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Polsek Teluk Meranti dan pihak perusahaan untuk mengambil langkah-langkah penanggulangan.
‘’BBKSDA Riau telah menurunkan Unit Penyelamatan Satwa untuk melakukan kajian dan upaya penanggulangan. Tim telah mengambil dokumentasi lokasi korban yang diserang dan terakhir ditemukan,’’ ujar Ujang, Kamis (26/6).
Hasil laporan dari lapangan, Tim Unit Penyelamatan Satwa (UPS) menemukan jejak harimau di sekitar lokasi. Tim memperkirakan terdapat dua individu harimau di lokasi tersebut. Hal ini berdasarkan analisa jejak kaki yang memiliki dua ukuran yang berbeda.
‘’Atas temuan itu, tim di lapangan melakukan sosialisasi kepada para pekerja dan mengimbau agar masyarakat sekitar juga tidak melakukan perburuan satwa yang biasa menjadi mangsa harimau Sumatera, seperti satwa rusa dan babi hutan,’’ ucapnya.
Tim di lapangan, tambah Ujang akan terus melakukan observasi. Sesuai standar, lokasi akan dipasang camera trap untuk mendeteksi hewan buas itu. Bila harimau masih berada di sekitar lokasi, maka akan dilanjutkan dengan pemasangan perangkap.
Berdasarkan catatan Riau Pos, setidaknya ada tujuh kasus kemunculan harimau sepanjang tahun ini. Baik yang berpapasan dan terekam kamera maupun meninggalkan jejak. Dua di antaranya merupakan insiden berdarah, termasuk kasus di Pulau Muda, Teluk Meranti ini.
Pada 4 Januari, warga Kelurahan Bukit Timah, Kilometer 7, Kecamatan Dumai Selatan menemukan sejumlah jejak kaki harimau. Pada 13 Januari, kemunculan harimau terekam video amatir di salah satu kamp areal Perizinan Berusaha Pengusahaan Hutan (PBPH) di Pelalawan.
Pada 5 Februari, kemunculan harimau terekam kamera amatir warga di Dusun Tasikbelat, Desa Teluk Lanus, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak. Pada 13 Maret, Yafao Zebua (50) tewas diterkam harimau dekat kamp perusahaan HTI tempat ia bekerja di Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan.
Pada 26 Maret, harimau terkam ternak warga di Desa Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit, Siak. Selanjutnyam pada 26 April, satpam PT Wilmar di Kelurahan Pelintung, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai berpaspasan dengan harimau saat patroli malam hari. Terbaru, pada 25 Juni, Hadito alias Kuang (23) diterkam harimau di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti.(amn/end)
Editor : Bayu Saputra