PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat ini dilaporkan masih terjadi di tiga daerah Riau, yakni Rokan Hulu (Rohul), Siak, dan Dumai. Dari tiga daerah ini, karhutla di Siak menjadi perhatian Tim Gabungan karena cukup luas. “Masih ada tiga daerah yang terjadi karhutla, yakni di Rohul, Siak, dan Dumai. Tapi yang masih cukup besar itu di Siak,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau Jim Gafur, Selasa (8/7).
Untuk Karhutla di Siak, selain menurunkan tim darat, juga dibantu helikopter water bombing untuk melakukan pemadaman melalui udara. “Selain tim darat, helikopter water bombing juga sudah dikirim ke Siak karena karhutlanya cukup besar,” ujarnya.
Sementara itu, untuk di Rohul dan Dumai, tim darat juga sudah melakukan pemadaman. Pihaknya juga akan terus melakukan pemantauan secara berkala, jika dipandang perlu maka juga akan diturunkan helikopter water bombing.
“Untuk di Rohul dan Dumai, akan terus dipantau menggunakan helikopter patroli. Jika diperlukan akan dikirim helikopter water bombing karena saat ini hanya ada satu helikopter yang ada di Riau,” sebutnya.
Hingga saat ini, pihaknya juga masih menunggu kiriman helikopter water bombing tambahan dari pihak BNPB. “Kami terus koordinasikan dengan BPBP untuk penambahan helikopter water bombing. Untuk di Riau, dengan luas wilayah yang ada perlu setidaknya tiga helikopter water bombing,” ujarnya.
Selasa (8/7) ini tidak ada tambahan titik api di wilayah Kabupaten Kampar. Tim gabungan fokus untuk melakukan pendingingan pada lahan yang terbakar di Desa Karya Indah, Kecamatan Tambang. ‘’Pendinginan terus dilakukan karena lahannya gambut,’’ ujar Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kampar Agustar melalui Kasi Logistik Edison.
Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mendeteksi tiga titik panas ada di Kabupaten Rokan Hulu, Selasa (8/7). Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru Yasir P mengatakan titik panas juga tersebar di wilayah Sumatera. ‘’Ada 93 titik panas, masing-masing di Sumatera Utara 49, Aceh 32, Sumatera Barat 7, Riau 3 , dan Sumatera Selatan 2,’’ ujarnya
Tetapkan 22 Tersangka
Sementara itu, dalam enam bulan yakni Januari-Juli 2025, pihak kepolisian menangani sebanyak 17 perkara karhutla dengan total 22 orang ditetapkan sebagai tersangka.
Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan mengatakan, sebagian besar tersangka merupakan petani yang membuka lahan untuk perkebunan kelapa sawit dengan cara dibakar. “Dari 17 perkara, empat sudah kami limpahkan ke kejaksaan, sementara sisanya masih dalam proses penyidikan,” ujar Irjen Herry.
Sebaran kasus karhutla tersebut meliputi hampir seluruh kabupaten/kota di Riau, di antaranya Polres Bengkalis dengan 2 perkara, Polres Indragiri Hilir 2 perkara, Polres Rokan Hilir 3 perkara, Polres Kampar 2 perkara, dan Polres Pelalawan 2 perkara.
Sedangkan Polres Kuantan Singingi 1 perkara, Polres Rokan Hulu 2 perkara, Polres Indragiri Hulu 2 perkara, dan Polres Dumai 1 perkara. Total luas lahan yang terbakar dalam seluruh kasus ini mencapai 68 hektare.
Irjen Herry menegaskan tidak akan pandang bulu dalam penegakan hukum kasus perusakan hutan. “Penegakan hukum kehutanan bukan hanya soal menindak pelaku, tapi juga upaya menyelamatkan hutan dari kerusakan permanen,” kata Irjen Herry.
Lanjut Irjen Herry pihaknya bersama pemerintah daerah terus menggencarkan penanaman pohon dan mendorong masyarakat menjadikan kegiatan tersebut sebagai kebiasaan sehari-hari.
Saat ini, pemda dan DPRD juga sedang merumuskan peraturan daerah untuk memperkuat kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan. “Pencegahan jauh lebih penting. Kami mengajak seluruh masyarakat peduli lingkungan dan patuh terhadap aturan,” ujar Herry.(sol/kom/nda/ayi)
Editor : Arif Oktafian