TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) - Harga jual cabai merah di pasar tradisional Telukkuantan, masih bertahan Rp120.000, - sampai Rp150.000, - per Kg. Kenaikan itu dipicu oleh pasokan cabe merah yang berkurang sejak bencana alam banjir dan longsor melanda wilayah Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh.
"Sampai hari ini, harga cabai masih bertahan di harga Rp120. 000 sampai Rp150.000 per Kg," ungkap Kadis Kopdagrin Kuansing Drs Masnur MM didampingi Herlinawati staf bidang perdagangan, Selasa (2/12/2025).
Menurutnya, harga cabai merah Rp120.000 per kg adalah cabai merah yang berasal dari Pandeglang, Provinsi Banten, Pulau Jawa. Sedangkan harga cabai merah yang dipasok dari Sumatera Barat, Rp150.000 per kg, masih sama dengan Ahad (31/11/2025) lalu.
Untuk rawit merah dari Sumbar Rp150.000 per kg. Rawit hijau Rp70.000 per kg. Kemudian daging ayam yang biasa harga Rp32.000 per kg menjadi Rp35.000-Rp38.000 per kg. Telur ayam satu papan yang biasa harga Rp55.000 per papan menjadi Rp60.000 per papan. Atau Rp31.000-Rp32.000 per kg.
"Dan kami terus melakukan pemantauan di lapangan," ujarnya.
Selain itu, lanjut Masnur, di triwulan IV ini secara umum rata-rata di Indonesia terjadi inflasi. Inflasi tertinggi di Riau dan terendah Sulawesi Utara. Untuk Riau termasuk tertinggi dengan angka sebesar 5,57 persen adalah Tembilahan, Kuansing, tetapi tetap terkendali. Kuansing masih dibawah Pekanbaru, Kampar, Inhu terutama pada sembilan bahan pokok terutama komoditi cabe dan beras.
Kenaikan ini, karena ada bencana alam yang melanda di daerah pemasok. Inflasi ini hanya bersifat sementara karena termasuk jenis inflasi ringan. "Kenapa ringan, karena inflasi ringan dihitung kenaikan harganya pertahun sebesar 10 persen. Sementara kenaikan ini hanya karena bencana," ujarnya.
Secara umum, per tahun kenaikan inflasi di Kuansing dibawah 10 persen, masih termasuk inflasi ringan. Namun yang perlu diantisipasi adalah inflasi kenaikan karena permintaan (demand inflation) untuk menghadapi Natal dan Tahun Baru 2026.(dac)
Editor : Edwar Yaman