BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bengkalis disambut positif dari berbagai kalangan, khususnya para siswa dan juga orang tua. Makan bergizi gratis sangat dirasakan manfaatnya oleh para siswa, sebagai penerima manfaat.
Makanan bergizi yang dipasok dari Dapur SPPG Desa Pedekik, Kecamatan Bengkalis yang disajikan untuk anak-anak SDN 4 Bengkalis, disambut positif oleh ratusan siswa.
Kepala SDN 4 Bengkalis Selvia Gayatri menyebutkan, penerapan MBG di sekolahnya sudah masuk bulan ke empat sejak program tersebut digulirkan. Selama ini seluruh siswa menerima program MBG dengan penuh semangat dan senang.
Sedangkan puluhan siswa MTs YPPI Bengkalis mulai menerima bantuan Program MBG sebagai bentuk kepedulian terhadap pemenuhan gizi siswa di lingkungan sekolah dan telah disambut antusias oleh seluruh siswa.
Kepala MTs YPPI Bengkalis, Jumillia SPd menyampaikan, apresiasi dan rasa terima kasihnya yang mendalam atas adanya program MBG ini. Menurutnya, kehadiran makanan bergizi gratis memberikan dampak positif terhadap semangat belajar siswa.
“Ya, dengan adanya makanan bergizi gratis ini, anak-anak tidak hanya mendapatkan asupan makanan sehat, tetapi juga semakin semangat untuk datang ke sekolah. Ini sangat bermanfaat bagi tumbuh kembang dan konsentrasi mereka dalam belajar,” ujar Jumillia, Selasa (9/12/2025).
Ia juga berharap, agar program ini dapat terus berlanjut dan menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, melalui pemenuhan gizi yang baik bagi para siswa.
Tak hanya pihak sekolah, para siswa juga turut merasakan manfaat dari program ini. Salah satunya adalah Anugrah Aidil Fikri, siswa kelas IX MTs YPPI Bengkalis, yang mengungkapkan rasa syukurnya atas makanan yang diberikan setiap hari.
“Saya sangat senang dengan makanan yang diberikan. Menunya lengkap dan enak. Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan makanan gratis ini untuk kami,” ujar Anugrah dengan penuh semangat.
Sedangkan pelaksana lapangan SPPG Kepala Dapur SPPG MBG Desa Pedekik, Muhammad Hidayat juga menyebutkan, karena adanya informasi itu pihaknya bersama tim turun ke sekolah untuk memastikan kondisi sebenarnya.
"Memang benar menu MBG hari itu berupa kuah sate, sayur, telur dan semangka. Saya sudah cek ke sekolah tidak ada laporan soal menu basi. Tapi kalau benar ada, tentu akan kami evaluasi. Ke depan menu seperti ini mungkin tidak bisa lagi diberikan," jelasnya.
Hidayat menambahkan, pihaknya mulai menyiapkan makanan sejak pukul 03.00 WIB sudah diselesai dimasak dan dikemas dalam kompreng atau warah dari stainlist dan mengantarkan ke sekolah pada pagi hari.
"Jadi saat jam istirahat sekolah disantap oleh murid SDN 4 Bengkalis, namun tidak ada yang basi. Mungkin karena aroma sayur toge jika disimpan dalam wadah tertutur mengeluarkan bau kurang enak, maka seolah itu bau sayur basi. Sebenarnya tidak, karena ada sebagian murid yang makan dan ternyata aman," jelasnya.
Ia menyebutkan, SPPG Dapur Pedekik ini akan melayani MBG bagi 3.293 siswa, meliputi 9 satuan pendidikan tingkat SD, tiga satuan pendidikan tingkat SMP dan 3 Satuan Pendidikan tingkat SMA, SMK dan MA dalam wilayah Kecamatan Bengkalis.
Sedangkan jenis menu yang disediakan berupa nasi, protein hewani, nabati, sayuran dan buah-buahan. Menurutnya, bahan baku didatangkan dari pasar sekitar jam 16.00 WIB dan langsung dilakukan pencucian dan pemotongan bahan, setelah itu disimpan untuk masak nanti malamnya dimasak.
"Proses masak di mulai dengan memasak nasi dimulai pukul 24.00 WIB dan dilanjutkan memasak lauk di jam 01.00 WIB hingga selesai. Selanjutnya sayur dimasak di pukul 03.00 WIB
dan selesai seluruh bahan yang dimasak pukul 04.30 WIB dan langsung mulai di masukkan ke dalam wadah kompreng," jelasnya.
Dikatakan Hidayat, pelaksanaan pecking dilakukan sekitat pukul 05 hingga pukul 09.00 pagi. Packing dilakukan setelah semua makanan mencapai suhu aman untuk dilakukan packing dan dicek langsung oleh ahli gizi.
Sedangkan Wakil Ketua DPRD Bengkalis, Hendrik Firnanda Pangaribuan menilai, program MBG sejatinya merupakan wujud Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk mencerdaskan generasi emas, justru dinodai pengelolaan amburadul.
Ia menyebut laporan makanan basi dan siswa yang muntah usai menyantap menu MBG sebagai persoalan serius.
“Program ini jelas untuk kesehatan anak-anak kita. Kalau sampai basi, bahkan ada yang keracunan, ini pelanggaran serius. Kami DPRD tidak akan tinggal diam,” tegas Hendrik.
Hendrik membeberkan, Standar Operasional Pelayanan (SOP) MBG telah diatur jelas. Proses memasak wajib dimulai pukul 02.00 dini hari, distribusi harus tiba di sekolah maksimal pukul 09.00 WIB, dan seluruh aspek kebersihan menjadi tanggung jawab penuh pelaksana SPPG.
Namun, fakta di lapangan menyebut ada dapur yang mulai memasak sejak pukul 21.00 malam, sehingga menu berpotensi basi keesokan paginya.
“Kalau SOP dilanggar, jangan heran kalau anak-anak muntah dan tidak mau makan. Ini harus dihentikan. Pihak SPPG jangan main-main dengan kesehatan generasi bangsa,” ujarnya.
Tak hanya soal waktu memasak, Hendrik juga menyoroti kompetensi pelaksana MBG. Menurutnya, pengelolaan program sebesar ini harus dijalankan oleh pihak yang memiliki latar belakang gizi atau tata boga, bukan sekadar bermodal proyek.
“Jadi SPPG harus punya ahli gizi. Anak-anak butuh nutrisi, bukan masalah kesehatan baru,” jelasnya.
Kendati begitu, Hendrik menegaskan, DPRD akan tetap menindaklanjuti keluhan masyarakat. “Cukup sudah. Jangan sampai ada lagi anak-anak sakit karena makanan gratis yang seharusnya menyehatkan. Kita akan sidak satu per satu dapur MBG,” tegasnya.
Sedangkan Kepala Disdik Bengkalis Hadi Prasetyo juga menyampaikan, dalam program MBG ini pihaknya tidak sepenuhnya dilibatkan. Melainkan ada menugaskan bidang tertentu untuk ikut
melakukan pengawasan dilapangan.
"Seharusnya kami dilibatkan langsung, sehingga pelaksanaannya benar-benar terawasi dengan baik. Kami hanya dilibatkan dalam penyediaan data penerima manfaat, sehingga ada kejadian
kami juga tidak mengetahui secara jelas," ungkapnya.
Ia menyebutkan, untuk saat ini belum semua sekolah mendapatkan program MBG, namun secara bertahap MBG ini akan diterapkan diseluruh sekolah. Saat baru baru 7 kecamatan yang sudah berjalan.
Diantaranya Kecamatan Mandau, Bathin Solapan, Pinggir, Bukitbatu, Rupat, Kecamatan Bengkalis, Bantan.
"Semoga program MBG ini berjalan dengan baik dan sesuai harapan masyarakat serta penerima manfaat," jelasnya.
Sedangkan Bupati Bengkalis Kasmarni menjelaskan, program MBG ini sangat baik, tentunya untuk memastikan generasi bangsa mendapatkan asupan gizi yang cukup, sehat, dan seimbang, agar mereka tumbuh menjadi generasi emas Indonesia di masa depan.
Ia berharap SPPG di Desa Pedekik dan dapur lain di Kabupaten Bengkalis hendaknya dapat menjadi tauladan bagi SPPG lainnya yang nanti juga bakal terdapat di banyak tempat di Kabupaten berjuluk Negeri Junjungan ini.
"Mohon dijaga kualitas makanan yang disajikan, supaya tidak terjadi hal hal yang tak diinginkan, salah satunya keracunan makanan. Protapnya jangan keluar dari apa yang telah ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional. Baik standar pelayanannya, gizinya, bahan bakunya, termasuk pengiriman dan limbahnya, itu semua harus ditaati dan harus sesuai prosedurnya. Karena kita tidak mau dalam perjalanan nanti, ada hal-hal yang tidak kita inginkan, karena yang kita layani
ini adalah anak anak kita semua," ingat Bupati.
Ia juga berpesan, petugas SPPG untuk dapat memberdayakan masyarakat tempatan. Salah satu tujuan MBG untuk memberdayakan ekonomi masyarakat. Untuk itu, keberadaan SPPG ini juga hendaknya dapat memberdayakan masyarakat desa ini. Semoga tenaga yang disertakan tidak diambil dari desa lain.
Bupati juga berharap, kepada seluruh stakeholder pemerintahan, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, maupun berbagai elemen masyarakat, untuk bersama-sama mendukung kesuksesan program MBG ini, supaya berjalan baik, berkelanjutan dan berkesinambungan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas lagi oleh masyarakat Kabupaten Bengkalis.(ksm)