PANGKALANKERINCI DAN BANGKINANG (RIAUPOS.CO) - Elevasi air Sungai Kampar kembali naik 1 centimeter pada Sabtu (17/1). Alhasil, saat ini debit ketinggian air Sungai Kampar kembali bertambah menjadi di angka 2,52 meter di atas batas normal di Pelalawan. Kondisi itu telah menyebabkan sejumlah akses jalan di tiga kecamatan masih bertahan tergenang air sampai kemarin.
Tiga titik akses jalan digenangi air berada di sepanjang bantaran Sungai Kampar. Titik terparah masih berada di Desa Rantau Baru, Kecamatan Pangkalan Kerinci. Akses ini telah terputus dengan ketinggian permukaan air antara 30 sampai 50 sentimeter. Alhasil, akses jalan darat warga setempat sepanjang sekitar 6 kilometer (km) ini terputus total dan tidak dapat dilalui oleh kendaraan bermotor sejak Kamis (8/1) lalu, baik roda dua maupun roda empat. Kondisi ini telah menyebabkan masyarakat setempat menjadi terisolir. Sebab, jalan hanya dapat dilalui menggunakan sampan ataupun pompong.
“Banjir juga merendam badan jalan yang menghubungkan Desa Tambak dan Desa Sotol di Kecamatan Langgam setinggi 30 cm. Akses itu hanya bisa dilewati kendaraan roda empat ke atas. Sebagian masyarakat menggunakan jasa penyeberangan sampan dan pompong yang disiapkan warga setempat,” terang Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pelalawan, Zulfan MSi kepada Riau Pos, Sabtu (17/1) di Pangkalan Kerinci.
Sementara itu, lanjut mantan Sekretaris Dinas Perikanan Pelalawan ini, banjir di Dusun Muaro Sako Kelurahan Langgam, Kecamatan Langgam dan Jalan Pemda menuju Kelurahan Pelalawan, juga masih terendam dengan kondisi masih rendah, yakni antara 3 hingga 10 sentimeter.
“Dan akses transportasi warga belum terganggu karena masih bisa melintasi banjir,” paparnya.
Dijelaskan Zulfan, tidak hanya menyebabkan sejumlah akses jalan masih bertahan tergenang air sampai hari ini, banjir juga telah menggenangi fasilitas umum berupa bangunan sekolah pada Rabu (14/1) lalu. Lembaga pendidikan yang terendam yakni Sekolah Dasar Negeri (SDN) 004 Dusun Muaro Sako Kelurahan Langgam, Kecamatan Langgam. Air menggenangi areal SDN 004, tepatnya di bagian halaman dan sekitar gedung SDN 004 Muaro Sako.
“Banjir masih menggenangi SDN 004 Muara Sako. Namun demikian, sejauh ini, aktivitas sekolah masih berjalan seperti biasa. Pasalnya, genangan air masih rendah yakni ketinggiannya mencapai 10 sentimeter dan belum masuk ke dalam ruang kelas, sehingga proses belajar masih berlangsung sediakala,” ujarnya.
Ditambahkan Zulfan bahwa banjir yang merendam tiga kecamatan tersebut merupakan dampak adanya pembukaan pintu air waduk PLTA Koto Panjang, sehingga terjadi peningkatan debit air Sungai Kampar di Negeri Seiya Sekata.
Selain itu, curah hujan yang sebelumnya meninggi di wilayah bagian hulu sungai maupun di Pelalawan yang merupakan bagian hilir Sungai Kampar, juga menjadi salah satu faktor penyebab banjir. Peningkatan debit air sungai Kampar ini juga dipengaruhi adanya air pasang laut dari hilir Sungai Kampar yang masuk dalam periode pasang naik. Sehingga menyebabkan air tertahan dan semakin tinggi.
“Kita berharap intensitas hujan dapat terus turun, sehingga banjir dapat segera surut total dan warga dapat kembali beraktivitas dengan normal,” tutupnya.
Elevasi Waduk PLTA Koto Panjang Terus Menurun
Kendati banjir melanda wilayah hilir Sungai Kampar, di hulunya, debit waduk PLTA Koto Panjang justru menurun di hari yang sama. Tinggi muka air (TMA) atau elevasi Waduk PLTA Koto Panjang terpantau terus mengalami penurunan hingga Sabtu (17/1). Meski demikian, manajemen PLTA Koto Panjang masih membuka dua pintu pelimpah (spillway gate) setinggi 50 sentimeter. Manajer PLTA Koto Panjang, Dhani Irwansyah menjelaskan, pada Sabtu pukul 13.00 WIB, elevasi waduk berada di angka 81,05 meter di atas permukaan laut (mdpl). Angka tersebut menurun dibandingkan kondisi pagi hari pukul 07.00 WIB, yang tercatat di level 81,09 mdpl.
Menurut Dhani, tren penurunan elevasi waduk sudah terjadi sejak Jumat (16/1). Hal ini dipengaruhi oleh menurunnya intensitas curah hujan, baik di wilayah Kabupaten Kampar maupun di daerah hulu waduk.
“Curah hujan dalam beberapa hari terakhir cenderung menurun, terutama di wilayah hulu. Kondisi ini berdampak langsung pada volume air masuk ke waduk,” ujar Dhani.
Sebagai perbandingan, pada Jumat (16/1) pukul 07.00 WIB, elevasi waduk masih berada di posisi 81,27 mdpl, kemudian turun menjadi 81,22 mdpl pada siang harinya. Meski sempat terjadi peningkatan inflow dari 19,52 meter kubik per detik menjadi 168,15 meter kubik per detik pada Jumat, tambahan debit air tersebut belum mampu menahan penurunan elevasi waduk secara keseluruhan. Hingga Sabtu (17/1), manajemen PLTA Koto Panjang masih membuka dua pintu pelimpah waduk setinggi 50 sentimeter sebagai langkah pengendalian operasional.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kampar memastikan kondisi sungai-sungai besar di wilayah tersebut masih dalam keadaan normal dan aman. Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kampar Azwan melalui Kepala Pusdalops PB Adi Candra Lukita menyampaikan, seiring menurunnya intensitas hujan, kondisi Sungai Kampar, Sungai Subayang, dan Sungai Tapung terpantau stabil.
“Sampai saat ini belum ada laporan banjir dari wilayah mana pun. Namun, kami tetap mengimbau masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Kampar, Sungai Subayang, dan Sungai Tapung agar selalu waspada,” ujar Adi Candra.
Meski demikian, BPBD Kampar mengingatkan adanya potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang di sejumlah wilayah Kabupaten Kampar, seperti XIII Koto Kampar, Kuok, Siak Hulu, Kampar Kiri, Kampar Kiri Hilir, Tapung, Salo, Bangkinang, Perhentian Raja, Kampar Kiri Tengah, Gunung Sahilan, Bangkinang Kota, Kampar, Tambang, Kampar Kiri Hulu, Rumbio Jaya, Kampar Timur, dan Kampar Utara.(muh)
Laporan M AMin Amran dan Kamarudin, Pangkalan Kerinci - Bangkinang
Editor : Arif Oktafian